Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Direktur Pembinaan Program Ketenagalistrikan, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM) Jisman P Hutajulu di sela HK ExperTalk yang ketujuh

Direktur Pembinaan Program Ketenagalistrikan, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM) Jisman P Hutajulu di sela HK ExperTalk yang ketujuh

Potensi Sangat Besar, Pemanfaatan EBT Masih Rendah

Jumat, 4 Februari 2022 | 05:36 WIB
Indah Handayani (handayani@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id - Direktur Pembinaan Program Ketenagalistrikan, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM) Jisman P Hutajulu mengungkapkan potensi Energi Baru Terbarukan (EBT) sangat besar, sementara pemanfaatan masih rendah. Dalam hal ini, Potensi EBT yang teridentifikasi melingkupi PLTA/GL, PLTA, dll. Rencana interkoneksi tenaga listrik pengembangan transisinya telah menghubungkan antar sistem di dalam pulau Sumatera, Jawa, Kalimantan dan Sulawesi.

Jisman mengatakan diantara rencana interkoneksi listrik, sedang direncanakan interkoneksi antar pulau  dengan 500 kV. Indonesia juga mencanangkan interkoneksi Sumatera-Malaysia (2030) yang juga mendukung kerangka kerjasama ASEAN Power Grid. Salah satu syarat yang disampaikan untuk pengembangan EBT yaitu adanya transmisi dalam rencana pengembangan super grid di Nusantara. Fokus kajian super grid akan mengarah antara Kalimantan dan Sulawesi, juga Sumatera dan Jawa.

Baca juga : Pengembangan EBT Butuh Pendanaan dan Investasi

“Langkah perancangan undang-undang terkait super grid juga dalam rangka mendukung power grid system, yang bertujuan untuk mendorong dan mempercepat transisi dari energi fosil menjadi EBT di Indonesia,” ungkapnya di acara HK ExperTalk yang ketujuh dalam keterangan pers.

Fabby Tumiwa selaku Excecutive Director dari Institute for Essential Services Reform (IESR), energi adalah penyumbang terbesar emisi gas rumah kaca yaitu sebesar 2/3 dari total emisi global. Dalam pertengahan abad ini diharapkan bisa mencapai net zero emission (NZE), khususnya Indonesia yang diharapkan dapat tercapai tahun 2060 atau lebih cepat.

Menurut Fabby, Indonesia sebagai negara nomor urut ke-7 dalam menyumbang emisi karbon, diharapkan juga bisa menambahkan target NZE-nya. Terdapat empat Pilar Transisi Energi Indonesia menuju NZE 2050. Di antaranya melingkupi energi terbarukan, penurunan konsumsi energi fosil, elektrifikasi, dan bahan bakar bersih. “Perlu peningkatan elektrifikasi seperti di sisi industri, penggunaan thermal bisa diganti menjadi listrik sebagai bagian dari transisi energi Indonesia,” ujar Fabby.

Baca juga : Porsi EBT Akhir 2021 Capai 11,5%

Dalam pengembangan tenaga surya, Indonesia memiliki potensi teknis Pembangkit Tenaga Surya (PLTS) sebesar 7.700 GW. Potensi untuk EBT paling banyak adalah di luar Jawa, sementara pusat bebannya lebih pada pulau Jawa dan Sumatera. Pengembangan grid interconnection harus mempertimbangkan perluasan grid dan koneksi antar pulau, yang melihat dari kebutuhan dan suplai keseimbangan dengan nusantara. Dari interkoneksi dan menggunakan EBT ini bisa membawa dampak positif dari segi biaya yang jauh lebih murah.

Sementara itu, Novias Nurendra sebagai Direktur Operasi 1 PT. Hutama Karya (Persero), memaparkan manfaat dari Indonesia Power Super Highway. “Kunci dalam pengembangan Indonesia Power Super Highway tersebut, yaitu sinergi dari semua pihak termasuk pemerintah, badan usaha maupun akademisi, sehingga cita-cita ini bisa terwujud bersama,” tutupnya.

Editor : Indah Handayani (indah.handayani26@gmail.com)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN