Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Gedung Pertamina Pusat. Foto: Pertamina

Gedung Pertamina Pusat. Foto: Pertamina

Pakar UGM: Tidak Apple to Apple Bandingkan Pertamina dan Petronas

Kamis, 4 Agustus 2022 | 22:12 WIB
Harso Kurniawan (harso@investor.co.id)

JAKARTA, Investor.id - Pakar ekonomi dan bisnis Universitas Gadjah Mada (UGM) Mudrajad Kuncoro menilai positif raihan laba bersih PT Pertamina pada 2021 sebesar Rp 29,3 Triliun. Hasil itu harus diapresiasi dan tidak apple to apple jika dibandingkan dengan capaian Petronas Malaysia.

“Laba bersih Pertamina 2021 luar biasa, meningkat 95% dari tahun sebelumnya. Tetapi, memang tidak apple to apple dika dibandingkan Petronas yang meraih laba Rp 159,7 triliun. Sebab, Pertamina juga harus menjalankan PSO di seluruh Indonesia, yang merupakan amanah Pasal 33 UUD 1945,” kata Mudrajad, Kamis (4/8/2022).

Pertamina, lanjut Mudrajad, memang menghadapi dilema. Di satu sisi sebagai persero dituntut meraih laba sebanyak-banyaknya. Namun, sebagai pengemban public service obligations (PSO), BUMN tersebut juga harus siap merugi. Pasalnya,  melalui PSO, harga produk yang disubsidi Pemerintah tersebut, seperti solar dan Pertalite dikendalikan Pemerintah.

“Jadi, harga-harga dikendalikan pemerintah atas nama pembangunan, sesuai amanah Pasal 33 UUD 1945,” lanjut dia.

Menurut Mudrajad, soal PSO itulah yang membedakan antara Pertamina dan Petronas. Apalagi, penugasan yang diterima Pertamina meliputi seluruh wilayah NKRI yang sangat luas dengan kondisi geografis yang sulit.

“Selain itu, dalam praktik, pasti ada dilema, antara memenuhi amanah UU dan amanah UU tentang Perseoran Terbatas. Karena, terkait UU tentang PT harus lari 100 km/jam. Tetapi kalau bicara PSO, harus soal pemerataan, karena 27% rakyat kita masih di bawah garis kemiskinan. Makanya, itu tadi, Pertamina harus menjual produk subsidi yang harganya sudah ditentukan pemerintah dan itu tidak mudah,” papar Mudrajad. 

Itu sebabnya, Mudrajad mengapresiasi Pertamina atas raihan laba bersih 2021. Terlebih, Pertamina juga masih berkontribusi melalui pajak sebesar Rp 126,7 triliun dan penerimaan negara bukan pajak (PNPB) sebesar Rp 73,1 triliun.

Menurut Mudrajad, lonjakan laba bersih tahun lalu karena Pertamina berhasil menjalankan efisiensi dengan baik.  “Efisiensi Pertamina lumayan, dan harus diakui. Cost saving yang dilakukan Pertamina menghemat US$ 1,3 Miliar, cost optimization menghemat US$ 2,2 miliar, dan cost avoidance sebesar US$ 350 Juta,” kata dia.

Sebelumnya pemerhati migas yang juga penggiat media sosial Erizeli Bandar sepakat, tidak apple to apple membandingkan Pertamina dan Petronas hanya dari segi laba. Terlebih, dari sisi kinerja, melalui analisis finansial, peningkatan laba Pertamina lebih baik dibandingkan Petronas.

Erizeli juga menyebut, terdapat beberapa perbedaan antara Pertamina dan Petronas, yang membuat keduanya tidak serta-merta dapat dibandingkan.  Pertama. Petronas beroperasi sebagai entititas bisnis murni dan independen. Dalam hal ini, semua sumber daya alam (SDA) migas Malaysia dimiliki Petronas, sedangkan Pertamina hanya sebagai operator, karena semua SDA migas dimiliki negara lewat SKK Migas.

Selain itu, kapasitas kilang Petronas lebih besar dari Pertamina. Indonesia terakhir membangun kilang 25 tahun. Barulah pada era Jokowi, rencana pembangunan kilang dilaksanakan.

Di sisi hilir, skema bisnis Petronas tidak terdapat penugasan pemerintah, sedangkan Pertamina ada penugasan. “Jadi sulit mencapai IRR komersial,” kata dia

Editor : Harso Kurniawan (harso@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN