Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

Arah Pemanfaatan Batu Bara Belum Jelas

Gora Kunjana, Minggu, 20 Januari 2019 | 21:49 WIB

JAKARTA - Pemerintah dinilai masih gamang dalam menentukan arah pemanfaatan batu bara. Disatu sisi mewajibkan pelaku usaha mengalokasikan untuk kebutuhan dalam negeri.

Namun di sisi lain menggenjot kuota ekspor untuk peningkatan penerimaan negara. Padahal jumlah cadangan batu bara tak signifikan bertambang lantaran kurang masifnya eksplorasi.

“Sekarang kebijakan mau kemana security atau dijual,” kata Ketua Indonesian Mining Institute (IMI) Irwandy Arif di Jakarta, Kamis (17/1).

Menurut dia, kegamangan kebijakan pemerintah itu bisa dilihat sepanjang 2018 kemarin. Kala itu pemerintah mewajibkan pelaku usaha untuk mengalokasikan 25% produksinya bagi kebutuhan dalam negeri. Bahkan ada sanksi yang diterapkan bila kewajiban tersebut tidak terpenuhi.

Adapun sanksi itu berupa pembatasan produksi di 2019 yakni sebesar 4 kali realisasi volume penyaluran dalam negeri. Namun pada Agustus 2018 kemarin, pemerintah membuka penambahan kuota produksi hingga 100 juta ton. Kuota ini khusus untuk ekspor lantaran pemerintah ingin mendapatkan peningkatan penerimaan Negara seiring dengan membaiknya harga batu bara.

Irwandy menuturkan kebutuhan batu bara dalam negeri harus diutamakan. Mengingat permintaan pembangkit listrik tenaga uap semakin bertambah. Hal ini seiring dengan semakin banyaknya pembangkit berbahan bakar batu bara. Namun Irwandy juga menyebut permintaan batu bara di pasar global terutama di negara-negara Asia pun menggiurkan.

“Harus ada peta jalan jadi batu bara tidak hanya untuk penerimaan Negara bukan pajak,” ujarnya.

Sebenarnya pemanfaatan batu bara sudah tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019. Berdasarkan data RPJMN Kementerian ESDM disebutkan produksi batu bara terus turun dari 2015 hingga 2019.

Pada 2015 produksi ditetapkan sebesar 425 juta ton. Di 2016 ditetapkan produksi 419 juta ton. Kemudian di 2017 produksi batu bara sebesar 413 juta ton. Pada 2018 produksi sebesar 406 juta ton dan di 2019 mencapai 400 juta ton.

Hanya saja tingkat produksi dalam RPJMN itu meleset dari realisasi. Sebagai contoh pada 2018 kemarin realisasi produksi mencapai 528 juta ton.

Sementara target produksi ditahun lalu itu ditetapkan sebesar 485 juta ton. Sedangkan pada tahun ini target produksi ditetapkan kurang lebih sama dengan di 2018. (rap)

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA