Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Batu bara

Batu bara

Batu Bara Bakal Jadi Tulang Punggung Energi Nasional

Rabu, 14 Oktober 2020 | 10:41 WIB
Rangga Prakoso (rangga.prakoso@beritasatumedia.com)

 

JAKARTA, investor.id - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkapkan sektor batu bara bakal menjadi tulang punggung (backbone) sumber energi nasional. Hal ini bisa terjadi melalui peningkatan nilai tambah batu bara dengan tujuh skema hilirisasi. Dengan peningkatan nilai tambah itu maka batu bara menjadi energi masa depan yang ramah lingkungan, bersih dan berkelanjutan.

Sejumlah insentif telah disiapkan pemerintah guna menarik minat investor dalam menggarap hilirisasi batu bara tersebut.

Direktur Pembinaan dan Pengusahaan Batu Bara Kementerian ESDM Sujatmiko mengatakan Indonesia memiliki cadangan batu bara hingga 38 miliar ton. Perkembangan dunia yang menuntut energi bersih dan berkelanjutan membuat batu bara tak hanya menjadi listrik. Melainkan dapat dikonversi menjadi gas, maupun bahan baku industri lainnya.

"Ke depannya kita harus mengkonversi batu bara misalnya ke gas. Dalam 10 tahun batu bara bisa menjadi backbone sumber energi nasional. Kami mendorong hilirisasi batu bara," kata Sujatmiko dalam webinar di Jakarta, Selasa (13/10).

Sujatmiko mengungkapkan teknologi hilirisasi batu bara saat ini masih tergolong mahal. Oleh sebab itu pemerintah menyiapkan insentif fiskal dan non fiskal agar proyek hilirisasi lebih ekonomis. Insentif non fiskal yang diberikan antara lain berupa izin usaha selama umur tambang. Artiannya tidak lagi dibatasi 20 tahun. Dengan insentif ini diharapkan proyek hilirisasi semakin diminati investor. Sementara insentif fiskal berupa pembebasan royalti bagi batu bara yang dijadikan bahan baku hilirisasi. Royalti nol persen itu diyakini tidak akan mengurangi penerimaan negara. Pasalnya hilirisasi mampu menciptakan efek berganda yakni membuka lapangan kerja serta menggerakkan roda perekonomian daerah. Dengan efek berganda itu maka penerimaan negara yang hilang dari royalti nol persen akan tersubstitusi.

"Kalau industri jalan maka secara agregat pajak memberi keuntungan. Bagi daerah juga berdampak untuk ekonomi penunjang," ujarnya.

Lebih lanjut Sujatmiko mengungkapkan reklamasi bekas galian tambang saat ini menggunakan pendekatan berbeda. Lubang-lubang tambang itu bisa ditanami dengan tanaman sumber energi seperti sawit, maupun kemiri sunan. Selain itu area bekas tambang itu pun dapat menjadi lokasi pemasangan panel tenaga surya. dengan sumber energi," ungkapnya.

Di acara yang sama, Direktur Eksekutif Asosiasi Pertambangan Batu Bara Indonesia (APBI) Hendra Sinadia mengungkapkan pelaku usaha tentunya mengikuti kebijakan pemerintah. Dia mengapresiasi insentif yang diberikan pemerintah dalam menggenjot hilirisasi. Bila dalam 10-15 tahun ke depan ketersediaan gas alam berkurang maka batu bara dapat menjadi alternatif pemenuhan kebutuhan tersebut. "Perangkat kebijakan sedang disusun pemerintah. Tentunya insentif yang dibicarakan untuk jangka panjang," ujarnya.

Editor : Euis Rita Hartati (euis_somadi@yahoo.com)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN