Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pengendara motor usai mengisi bahan bakar di SPBU Kebun Jeruk, Jakarta. Foto ilustrasi:  Beritasatu Photo/Uthan AR

Pengendara motor usai mengisi bahan bakar di SPBU Kebun Jeruk, Jakarta. Foto ilustrasi: Beritasatu Photo/Uthan AR

Biar Tak Rugi, Pengamat Sarankan Pertamina Naikkan Harga BBM

Senin, 7 Juni 2021 | 18:45 WIB
Harso Kurniawan (harso@investor.co.id)

JAKARTA, Investor.id - Pengamat energi Inas Nasrullah Zubir menilai, PT Pertamina harus menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) agar tidak menanggung kerugian cukup besar akibat lonjakan harga minyak dunia.

“Dalam tiga bulan terakhir, Pertamina ditengarai menanggung kerugian cukup besar akibat penjualan BBM,” ujar Inas di Jakarta, Senin (7/6/2021).

Untuk itu, menurut dia, pemerintah segera bertindak menyesuaikan harga BBM yang baru. Pemerintah harus segera menentukan harga BBM untuk menyesuaikan dengan harga MOPS tiga bulan terakhir. “Kalau tidak, Pertamina akan semakin merugi,” tegas Inas yang juga mantan anggota Komisi VII DPR.

Terkait kerugian Pertamina, Inas mencontohkan, Pertamax yang dijual di SPBU Jawa-Bali Rp 9.000 per liter membuat BUMN merugi Rp 1.810 per liter. Kerugian Pertamax sebesar itu, menurut dia, didasarkan atas harga rata-rata MOPS Pertamax selama Februari-April 2021 sebesar US$ 70,08 dolar per barel. Dalam hal ini, rata-rata MOPS Pertamax Febuari 2021 US$ 67,01 per baerl, kemudian Maret 2021 US$ 71,53, dan April 2021 US$ 71,71. Dari rata-rata MOPS tersebut, lanjut Inas, jika freight US$ 2, harga landed Pertamax Rp6.528 per liter.

Selain itu, kata dia, berdasarkan Permen ESDM Nomor 62/2020, badan usaha dapat memungut biaya pengadaan, biaya penyimpanan, dan biaya distribusi untuk Pertamax sebesar Rp1.800 dan margin 10%. “Dengan demikian, harga Pertamax sebelum pajak sebesar Rp 9.160,80 per liter,” kata Inas.

Dia menjelaskan, pajak yang dibebankan untuk setiap liter BBM adalah PPh 3%, PPN 10%, dan PBBKB 5%. Dengan demikian, jika dikalikan harga Pertamax sebelum pajak, diperoleh angkat Rp 1.649. Maka, seharusnya harga Pertamax di SPBU Rp10.809,80 atau dibulatkan menjadi Rp 10.810 per liter.

Seperti diketahui, harga minyak dunia meroket sejak Maret 2021. Bahkan, pada Mei 2021 harga minyak di atas US$ 60 dolar per barel. Minyak mentah WTI dijual US$ 65 per barel dan Brent US$ 68 per barel. Padahal, harga minyak mentah pada Juni tahun lalu masih di bawah US$ 40 per barel.

Karena itulah operator SPBU swasta beberapa kali menaikkan harga BBM. Shell, misalnya, dua kali menaikkan harga, yaitu awal Maret dan awal April 2021. Hanya Pertamina yang sampai saat ini belum menaikkan harga BBM.

Kebijakan SPBU swasta yang beberapa kali menaikkan harga BBM memang dimungkinkan. Sebab, seperti diketahui, harga yang ditetapkan pemerintah hanya untuk BBM subsidi (Solar) dan BBM penugasan (Premium). Adapun BBM jenis lain diserahkan kepada badan usaha. Kepmen ESDM Nomor 62 Tahun 2020, misalnya, memang memungkinkan semua operator SPBU melakukan penyesuaian harga.

 

Editor : Harso Kurniawan (harso@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN