Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
chevron

chevron

Chevron Harus Segera Serahkan Rencana Pengembangan Proyek IDD

Ayu Retnaningtyas, Minggu, 8 September 2019 | 11:40 WIB

JAKARTA, investor.id – Satuan Kerja Khusus Pelaksana KegiatanUsaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) mendorong Chevron Indonesia untuk segera menyerahkan proposal rencana pengembangan (plan of development/ POD) Proyek Indonesia Deepwater Development (IDD). Pasalnya jika tak kunjung diajukan, jadwal operasi proyek ini bisa terus tertunda.

Wakil Kepala SKK Migas Fatar Yani Abdurrahman menuturkan, POD Proyek IDD belum diajukan oleh Chevron lantaran masih dibahas bersama mitranya, yakni Eni SpA dan Sinopec Corporation.

Pihaknya sebelumnya memberi batas waktu kepada Chevron hingga Mei lalu untuk mengajukan POD proyek tersebut. Namun, lantaran butuh diskusi lagi, pengajuan proposal POD ini belum juga dilakukan. Pihaknya berharap Chevron segera mengajukan proposal POD Proyek IDD tersebut. Hal ini guna mencegah tertundanya pengoperasian proyek tersebut. Pasalnya, jika pengajuan POD tertunda sampai enam bulan, maka jadwal operasi proyek otomatis bakal molor melebihi jadwal pada 2024.

“Nanti kami akan push, kami posisinya menunggu [POD]. Kalau dia [Chevron] bisa cepat [ajukan POD], maka bisa tahun ini [persetujuan POD],” kata dia di Jakarta, Kamis (5/9).

Menurutnya, diskusi penyusuan POD Proyek IDD ini berlarut- larut lantaran pemerintah dan Chevron belum sepakat soal besaran bagi hasil (split). Pemerintah telah mengusulkan jatah split tersebut, namun Chevron tidak menyepakatinya. Padahal jika terus tertunda, biaya investasi Proyek IDD ini bakal terus bertambah.

Terkait rincian proyeknya sendiri, disebut Fatar terdapat perubahan. Pihaknya dan Chevron sepakat mengubah desain proyek, di mana anjungan produksi dipindahkan ke perairan dangkal. Perubahan desain dilakukan untuk mengoptimasi investasi, sehingga produksi migas dapat diperoleh dan keekonomian proyek tetap terjaga.

“Investasinya US$ 6 miliar, sudah turun. Kami ganti desainnya,” kata dia.

Sebelumnya, besaran investasi Proyek IDD diperkirakan mencapai US$ 11 miliar. Perubahan desain ini, diakuinya berdampak pada besaran gas yang dihasilkan dari Proyek IDD. Dari dua anjungan yang rencananya bakal dibangun, akan dihasilkan gas sekitar 700 juta kaki kubik per hari (million standard cubic feet per day/mmscfd). Produksi gas ini berasal dari Lapangan Gendalo dan Gehem.

Di sisi lain, menurut Fatar, produksi gas dari Lapangan Bangka yang telah beroperasi terlebih dahulu pada 2016 telah turun menjadi 50-60 mmscfd. Hal ini juga berdampak pada total produksi gas Proyek IDD. Sehingga, gas yang dihasilkan dari proyek ini akan sekitar 700-800 mmscfd, turun dari yang tertera dalam data SKK Migas 844 mmscfd untuk gas dan 27 ribu barel per hari (bph) untuk minyak.

“Tetapi lebih panjang plato produksinya. Kalau dulu 2-3 tahun, [produksi gas] sudah drop, sekarang bisa empat tahun,” jelasnya.

endiri ReforMiner Institute Pri Agung Rakhmanto. Foto: reforminer.com
endiri ReforMiner Institute Pri Agung Rakhmanto. Foto: reforminer.com

Sebelumnya, Pendiri Reforminer Institute sekaligus Pengamat Energi Pri Agung Rakhmanto mengatakan, proyek LNG, termasuk IDD, sebaiknya jangan terus ditunda. Pasalnya, penundaan proyek akan berpengaruh pada keekonomian proyek. Di sisi lain, proyek kilang LNG nasional ini masih harus bersaing dengan proyek LNG lain di dunia. Proyek IDD tidak lagi termasuk Blok Makassar Strait.

Proyek ini nantinya menggabungkan empat lapangan, yakni Lapangan Bangka, Gehem, Gendalo, dan Gandang. Lapangan Gehem, Gendalo, dan Gandang masuk di Blok Ganal. Lapangan Bangka telah berproduksi sejak Agustus 2016 dan menghasilkan delapan kargo gas alam cair (liquefied natural gas/LNG) yang dikapalkan dari Terminal LNG Bontang.

Mengacu paparan SKK Migas, Proyek IDD Gendalo-Gehem ditargetkan mulai produksi (on stream) pada kuartal pertama 2024. Proyek ini kini masuk tahap penyusunan dokumen lelang desain rinci (front end engineering design/FEED) dan contract awarding pada tahun ini dan pengajuan persetujuan pengeluaran (authorization for expenditure/AFE) untuk survei. Chevron sebenarnya telah memperoleh persetujuan POD Proyek IDD pada 2008 lalu. Namun, setelah dilakukan pengerjaan FEED, biaya yang dibutuhkan untuk menggarap proyek ini naik dua kali lipat.

Selanjutnya, Chevron kembali menyerahkan revisi POD pada akhir 2015. Sayangnya, POD ini dikembalikan oleh pemerintah lantaran tidak lengkap. Di Proyek IDD, Chevron merupakan operator dan pemegang saham mayoritas sebesar 63%. Chevron menggarap proyek migas laut dalam ini bersama mitra joint venture lainya, yakni Eni, Tip Top, PHE, dan para mitra Muara Bakau.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA