Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

DMO Batu Bara Ditetapkan 128 Juta Ton

(gor/ant), Kamis, 14 Februari 2019 | 17:09 WIB

JAKARTA - Kementerian Energi dan Sumber Daya (ESDM) menetapkan alokasi batu bara dalam negeri (domestic market obligation/DMO) 2019 sebesar 128 juta ton. Volume tersebut lebih tinggi ketimbang kuota periode sebelumnya sebesar 121 juta ton. Adapun target produksi batu bara tahun ini mencapai 490 juta ton.

Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik, dan Kerja Sama Kementerian ESDM Agung Pribadi mengatakan alokasi batu bara dalam negeri terus meningkat dari tahun ke tahun. "Untuk tahun ini DMO ditetapkan sebesar 128 juta ton," kata Agung di Jakarta, Rabu (13/2).

Agung menuturkan, batu bara dalam negeri diserap mayoritas oleh pembangkit listrik tenaga uap (PLTU). Tahun ini alokasi untuk pembangkit listrik mencapai 95,7 juta ton. Sementara sisanya diserap oleh industri lain seperti semen, pupuk maupun tekstil dan beriket. "Pelaku usaha wajib mengalokasikan 25% produksinya untuk DMO," ujarnya.

Kuota batu bara dalam negeri ditetapkan sebesar 25% dari produksi setiap tahun. Pemegang Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara (PKP2B) dan Izin Usaha Pertambangan (IUP) diwajibkan menyisihkan 25% produksinya untuk alokasi DMO. Bahkan dalam Keputusan Menteri ESDM No. 23 K/30/MEM/2018 ditegaskan mengenai alokasi bagi pembangkit listrik.

Dalam beleid ini pun diterapkan sanksi penyesuaian tingkat produksi 2019 bagi perusahaan yang tidak bisa memenuhi ketentuan DMO di 2018. Jumlahnya produksi yang disetujui maksimal empat kali lipat dari total realisasi volume DMO sepanjang tahun ini. Sanksi ini sudah diterapkan pada tahun ini. Tercatat sebanyak 34 perusahaan yang belum memenuhi DMO. Pasalnya dari 121 juta ton target DMO, hanya tercapai 115 juta ton.

Adapun rinciannya untuk pembangkit listrik 91,14 juta ton, metalurgi 1,75 juta ton, semen, tekstil, pupuk dan kertas sebesar 22,18 juta ton. Selain itu, untuk briket sebesar 0,01 juta. Direktur Jenderal Mineral dan Batu bara Kementerian ESDM Bambang Gatot sebelumnya mengatakan target produksi 490 juta ton tahun ini sudah termasuk dengan sanksi pembatasan produksi. "Kalau enggak ada sanksi bisa lebih 490 juta ton," ujarnya.

Direktur Pengadaan Strategis 2 PLN Supangkat Iwan Santoso sebelumnya mengatakan kebutuhan DMO dari tahun ke tahun terus meningkat. Pada tahun ini kebutuhan batu bara bertambah seiring dengan segera beroperasinya tiga PLTU. Ketiga pembangkit itu yakni PLTU Jawa 7 dan Jawa 8 dengan kapasitas 1.000 megawatt (MW) dan PLTU Lontar dengan kapasitas 350 MW.

Dia tidak merinci seberapa besar kebutuhan batu bara ketiga pembangkit tersebut. Namun secara kasar setiap 1.000 MW membutuhkan batu bara sekitar 3,5-4 juta ton setahun. Kebutuhan PLN tahun ini mencapai 96 juta ton batu bara. Volume itu lebih tinggi ketimbang tahun lalu sekitar 91 juta ton. (rap)

BAGIKAN