Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

ESDM Fasilitasi Aspirasi Pengusaha Batu Bara

Gora Kunjana, Rabu, 30 Januari 2019 | 14:56 WIB

JAKARTA - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memfasilitasi aspirasi pelaku batu bara terkait kebijakan penggunaan asuransi nasional dalam kegiatan ekspor batu bara. Kebijakan itu berdasarkan Peraturan Menteri Perdagangan No.80 Tahun 2018 yang mulai diterapkan pada awal Februari nanti.

Aspirasi pelaku tambang ini sudah disampaikan pada pekan lalu dan berlanjut pada pertemuan kemarin. Direktur Eksekutif Asosiasi Pertambangan Batu bara Indonesia (APBI) Hendra Sinadia mengatakan Dirjen Minerba sudah mendengarkan seperti apa permasalahan pelaku usaha. Aspirasi ini akan dikomunikasikan Dirjen Minerba dengan Kementerian Perdagangan.

“Kami berharap ada kepastian. ESDM sebagai pembina kami akan berkoordinasi dengan Kementerian Perdagangan,” kata Hendra di Jakarta, Selasa (29/1).

Hendra menuturkan pemberlakukan kebijakan tinggal menghitung hari. Namun dia menyayangkan daftar perusahaan asuransi yang memenuhi ketentuan Otoritas Jasa Keuangan dan Kementerian Perdagangan belum juga diterima pelaku usaha. Padahal para pembeli (importir) batu bara membutuhkan daftar tersebut untuk penjajakan.

Dikatakannya ekspor batu bara ekspor batu bara menggunakan skema free on board ( FOB). Artiannya batu bara diserahkan di titik jual misalkan di vessel. Bila sudah di vessel maka batu bara menjadi milik importir. Dengan begitu importir yang memilih perusahaan jasa asuransi dan penyedia kapal. Selama ini importir pada umumnya menggunakan asuransi dan kapal dari luar negeri.

“Kami meminta komitmen pemerintah kebijakan ini tidak menggangu ekspor. Kami ingin adanya komunikasi intens antar intasi tekait di lapangan,” ujarnya.

Pengiriman batu bara ke luar negeri pada umumnya sudah berkontrak panjang. Dalam kontrak itu pun memuat mengenai ketentuan asuransi dan jasa pengiriman. Namun Hendra belum mau membeberkan seperti apa solusi dari permasalahan tersebut. Dia hanya menjelaskan kasus seperti itu sudah disampaikan ke pemerintah.

“Kami mendukung kebijakan ini. Tapi kami juga butuh kepastian,” ujarnya.

Tercatat ekspor batu bara sepanjang 2018 kemarin mencapai 413 juta ton. Kuota tersebut seiring dengan penambahan produksi di Agustus 2018 yang sepenuhnya ditujukan untuk kepentingan ekspor. Pasalnya peningkatan produksi itu bertujuan untuk peningkatan penerimaan negara seiring dengan membaiknya harga batu bara.

Sementara tahun ini pelaku usaha dihadapi ketidakpastian global yang membuat pergerakan harga tidak menentu. Salah satu faktornya ialah kebijakan Pemerintah Tiongkok yang membatasi impor batu bara. Alhasil dalam beberapa bulan terakhir harga batu bara terus melemah. (rap)

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA