Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
 Head of Corporate Communication Division PT. Indofood Sukses Makmur Tbk, Stefanus Indrayana memperlihatkan penggunaan sampah olahan berupa pelet/briket sebagai bahan baku synthetic gas (syngas)

Head of Corporate Communication Division PT. Indofood Sukses Makmur Tbk, Stefanus Indrayana memperlihatkan penggunaan sampah olahan berupa pelet/briket sebagai bahan baku synthetic gas (syngas)

GCB Ubah Sampah Ciliwung Jadi Sumber Energi Alternatif

Mardiana Makmun, (mardiana_id)  Senin, 29 Juni 2020 | 14:34 WIB

JAKARTA, Investor.id - Gerakan Ciliwung Bersih (GCB) menjadi inisiator program pengolahan sampah sungai menjadi energi dalam bentuk briket/pelet yang disebut Tempat Olahan Sampah Sungai Gerakan Ciliwung Bersih (TOSS-GCB). Briket/ Pelet tersebut bisa dimanfaatkan untuk bahan bakar sehari-hari sebagai pengganti minyak tanah bahkan LPG, baik untuk keperluan warung hingga industri yang menggunakan boiler seperti pabrik tekstil, pupuk, dan pembangkit listrik.

 

Secara khusus, program ini dirancang untuk mengolah sampah sungai menjadi listrik bagi masyarakat di sepanjang aliran Sungai Ciliwung. Produk akhirnya adalah syntetic gas (syngas) yang mampu menjadi substitusi bahan bakar untuk genset/diesel. Listrik yang dihasilkan dari unit instalasi TOSS-GCB ini akan digunakan mengoperasikan mesin pompa dan penjernihan air sungai sehingga laik untuk kebutuhan Mandi, Cuci, Kakus (MCK).

 

Sasaran utama dari program ini adalah upaya meningkatkan kualitas air sungai dan mengembalikan fungsi sungai sebagai bahan baku air bersih. Hal ini dapat diwujudkan dengan mereplikasi unit TOSS-GCB agar di setiap lokasi Komunitas Peduli Ciliwung (KPC) sehingga memiliki fasilitas MCK sekaligus mengolah dan memanfaatkan sampah di sekitarnya menjadi energi listrik untuk mengoperasikan instalasi TOSS GCB tersebut.

 

TOSS-GCB adalah suatu program kolaboratif antara GCB dengan Pemerintah pusat melalui kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan; Pemerintah provinsi DKI Jakarta; Badan Usaha Milik Negara melalui anak usaha PT PLN (Persero) yaitu PT Indonesia Power; Badan Usaha Milik Daerah melalui PDAM DKI Jakarta; perusahaan swasta yaitu PT Indofood Sukses Makmur Tbk (Indofood); serta startup company di bidang supply-value chain energi baru dan terbarukan bernama comestoarra.com. Program ini diresmikan oleh Direktur Jenderal Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, M.R. Karliansyah pada 27 Juni 2020.

 

“Melalui program TOSS-GCB, kami berharap seluruh stakeholders di sepanjang aliran Sungai Ciliwung mengembalikan fungsi Sungai Ciliwung sebagai sumber air bersih. Sehingga usaha yang selama ini dilakukan terbatas pada kegiatan pembersihan sampah yang telah masuk sungai, akan ditingkatkan menjadi usaha pencegahan dan pendidikan yang dilakukan oleh setiap komunitas KPC agar masyarakat tidak membuang sampah ke Sungai, tapi ke unit-unit TOSS GCB. Dengan berkurangnya sampah yang masuk Sungai, maka pemulihan air sungai sebagai bahan baku air bersih akan menjadi lebih cepat. Bahkan, masyarakat sepanjang sungai juga akan mendapat manfaat dari air bersih yang berasal dari sungai yang telah dijernihkan menggunakan energi yang berasal dari sampah sungai itu sendiri,” kata Ketua GCB, Peni Susanti dalam keterangan pers, Senin (29/6/2020).

 

Sebagai perusahaan swasta yang turut mengembangkan Program TOSS-GCB, Head of Corporate Communications Division PT Indofood Sukses Makmur Tbk Stefanus Indrayana mengatakan

“TOSS-GCB ini adalah salah satu inisiatif untuk menjaga kebersihan dan kelestarian Sungai Ciliwung yang memiliki fungsi penting bagi Jakarta. Diharapkan dengan semakin banyaknya TOSS  di sepanjang Sungai Ciliwung, masyarakat dapat lebih teredukasi untuk menjaga kebersihan sungai. Jika ada sampah yang terkumpul, dapat diolah menjadi hal-hal yang  memberikan nilai tambah kepada masyarakat. Sekaligus akan mengurangi sampah-sampah tersebut mengalir ke laut,” kata Stefanus.

 

Penanganan sampah khususnya di daerah ibukota umumnya memakai metode 3P (pengumpulan, pengangkutan, dan pembuangan). Seiring berjalannya waktu, maka banyak teknologi untuk mengolah sampah tersebut, diantaranya metoda kompos, black soldier fly (Hermetiaillucens), digester, hingga daur ulang sampah plastik. Tetapi untuk sampah sungai, terdapat kendala di sisi pengumpulan dan pengangkutan sampah terutama bila sampah tersebut berjenis biomassa dengan dimensi besar dan padat sehingga pengolahannya menjadi tantangan tersendiri.

 

Menurut Ahmad Jidon, pengawas Sungai Ciliwung di wilayah Tanah Abang, sebagian besar sampah adalah kiriman dengan jenis biomassa seperti kayu, bambu, dan belukar rerumputan. Dengan program TOSS-GCB yang membutuhkan bahan baku dari sampah biomasa, permasalahan tersebut bisa terjawab bahkan bisa memberikan nilai tambah berupa energi panas dan energi listrik, sehingga sampah tidak mengalir dan menumpuk di hilir Sungai.

 

Setidaknya program TOSS-GCB akan memberikan tiga manfaat utama. Pertama, adalah MCK sehingga mampu meminimalisasi pendangkalan sumur akibat eksplorasi air tanah yang sangat besar. Kedua adalah memanfaatkannya untuk mencuci mesin, perkakas, kendaraan. Ketiga, menyiram tanaman dan mampu menjadi sumber air untuk pertanian sayur mayur ramah lingkungan pada instalasi vertikultur.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN