Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Batu bara. Foto ilustrasi: IST

Batu bara. Foto ilustrasi: IST

Harga Batu Bara US$ 81,86 Per Ton

RAP, Selasa, 14 Mei 2019 | 18:07 WIB

JAKARTA – Asosiasi Pertambangan Batu bara Indonesia (APBI) menyebut adanya anomali terkait melemahnya harga batu bara dalam beberapa bulan terakhir. Pada Mei ini harga batu bara acuan (HBA) berada dalam posisi terendah yakni sebesar US$81,86/ ton. Kebijakan pembatasan impor Tiongkok yang membuat harga batu bara terus anjlok

Direktur Eksekutif APBI Hendra Sinadia mengatakan harga batu bara acuan yang ditetapkan Kementerian ESDM merujuk pada 4 index global.

Adapun keempat index itu yakni Indonesia Coal Index (ICI), New Castle Global Coal (GC), New Castle Export Index (NEX), dan Platts59. Dia menyebut harga terkoreksi lantaran index Global Coal dan New Castle melemah. Kedua index itu memuat pergerakan harga batu bara kalori tinggi.

"Global Coal dan New Castle melemah karena Tiongkok membatasi impor kalori tinggi. Ini yang membuat HBA turun," kata Hendra di Jakarta, Senin (13/5).

Hendra menuturkan anomali terjadi pada Indonesia Coal Index. Pergerakan harga batu bara cenderung stabil atau sedikit menguat sejak Februari kemarin. Hal ini seiring dengan relaksasi yang dilakukan oleh kebijakan Tiongkok terkat impor kalori batu bara kalori rendah. Relaksasi itu berdampak positif bagi Indonesia sebagai penghasil kalori batu bara kalori rendah.

"Beberapa bulan terakhir agak berbeda. Ini anomali. Jarang terjadi karena index batubara kalori tinggi dan rendah tidak terkoneksi," ujarnya.

Dia menyebut kondisi yang terjadi membuat pelaku usaha sulit memprediksi pergerakan harga hingga akhir tahun. Oleh sebab itu dia meminta pemerintah berhati-hati dalam menerapkan rencana peningkatan produksi di tahun ini. Jangan sampai kebijakan peningkatan produksi malah berimbas pada harga batu bara kalori rendah.

Hal ini mengingat pada tahun lalu pemerintah membuka penambahan produksi hingga 100 juta ton pada Agustus 2018 untuk alokasi ekspor.

"Permintaan pasar terbatas. Kalau produksi tidak dikendalikan maka harga akan tertekan," ujarnya.

Berdasarkan catatan Investor Daily, melorotnya harga batu bara sudah dimulai sejak September 2018 kemarin. Kala itu HBA berada di posisi US$104,81/ton.

Kemudian terkoreksi di bulan berikutnya jadi US$100,89/ ton dan berlanjut di November sebesar US$97,90/ton. Penutupan 2018 pun harga masih melemah di level US$92,51/ton.

Sementara di awal 2019 tren penurunan harga masih terjadi lantaran HBA berada di posisi US$92,41/ton. Harga terus melemah hingga Mei yang berada di level US$80/ton.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN