Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

Indonesia Sudah Jadi Net Oil Importer 2002

Jumat, 22 Februari 2019 | 13:17 WIB

Indonesia sudah menjadi net oil importer pada tahun 2002. Kondisi ini menyebabkan Indonesia terus mengimpor minyak mentah dan BBM. Dengan teknologi yang dimiliki, Pertamina akan terus berusaha meningkatkan produksi minyak mentah.

Kilang yang sedang dan akan dibangun dalam program Refinery Development Master Plan (RDMP) atau peningkatan kapasitas kilang yakni Kilang Dumai, Cilacap, Balikpapam, dan Balongan. Sedangkan kilang dalam program Grass Root Refinery (GRR) atau pembangunan kilang baru yakni Kilang Tuban dan Kilang Bontang.

Data SKK Migas per 31 Januari 2019 menyebutkan, jumlah wilayah kerja (WK) sebanyak 217 WK, lifting minyak mencapai 733,5 ribu bph, dan lifting gas: 6035 mmscfd.

Sumur minyak yang dibor dengan kapasitas 500-600 ribu bph tidak ada, yang terbesar adalah Blok Cepu sebanyak 209.922 bph oleh Mobil Cepu Ltd. Kemudian, 9 perusahaan penyumbang lifting minyak terbesar lainnya adalah Chevron Pacific Indonesia sebanyak 207.148 bph, Pertamina EP (70.031 bph), Pertamina Hulu Mahakam (46.376 bph), CNOOC (30.876 bph), Pertamina Hulu Energi ONWJ (30.489 bph), Medco E&P Natuna (18.801 bph), Petronas Carigali (Ketapang) Ltd (15.698 bph), Chevron Indonesia Company (14.410 bph), dan PetroChina International Jabung Ltd (14.302 bph).

Sedangkan 10 perusahaan penyumbang lifting gas terbesar yakni BP Berau Ltd (Tangguh) sebanyak 1.049 mmscfd, Pertamina Hulu Mahakam (916 mmscfd), ConocoPhilips (Grissik) (841 mmscfd), Pertamina EP (816 mmscfd), Eni Muara Bakau (670 mmscfd), JOB Pertamina-Medco Tomori Sulawesi (265 mmscfd), Premier Oil Natuna Sea BV (221 mmscfd), Kangean Energi Indonesia (187 mmscfd), Medco E&P Natuna (159 mmscfd), dan Petrochina International Jabung (158 mmscfd). (bersambung)

Baca selanjutnya di https://id.beritasatu.com/home/digitalisasi-spbu-pertamina/185739

BAGIKAN