Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Batu Bara

Batu Bara

Insentif Gasifikasi Batu Bara Terus Dimatangkan

Rabu, 12 Februari 2020 | 19:34 WIB
Rangga Prakoso (rangga.prakoso@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - Pemerintah terus mematangkan insentif bagi proyek hilirisasi batu bara yang akan dituangkan dalam Rancangan Undang-Undang Omnibus Law Cipta Lapangan Kerja dan Perpajakan yang sedang dibahas bersama Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Insentif itu antara lain berupa keringanan royalti, harga batu bara khusus pembangkit, maupun penghapusan kewajiban alokasi batu bara dalam negeri (DMO) bagi perusahaan yang melakukan hilirisasi.

Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian ESDM Bambang Gatot mengatakan, pihaknya dilibatkan dalam penyusunan Omnibus law tersebut lantaran ada yang terkait sektor pertambangan, yakni terkait insentif hilirisasi. Namun dia mengaku belum tahu seperti apa seperti apa isi naskah final RUU Omnibus Law tersebut.

“Ada beberapa yang dibahas termasuk bagaimana insentif hilirisasi. Tapi kami tidak tahu persis seperti apa finalnya,” kata Bambang di Jakarta, Selasa (11/2).

Dia menjelaskan, secara umum insentif perpajakan dan non perpajakan yang akan diberikan bagi program hilirisasi. Insentif diperlukan agar proyek hilirisasi ekonomis. Pasalnya, hilirisasi berkaitan dengan mahalnya tekonologi maupun peralatan yang diperlukan. Contohnya, bagaimana Tiongkok lebih unggul dalam hilirisasi batu bara yang mampu menghasilkan avtur. Keunggulan itu lantaran Tiongkok mampu menciptakan teknologi dan peralatan hilirisasi.

“Teknologi dan peralatan ini menjadi cost yang berimplikasi ke investasi. Makanya kita imbangi dengan insentif agar ekonomis,” tuturnya.

Dikatakannya, hilirisasi batu bara digarap oleh konsorsium PT Bukit Asam Tbk bersama PT Pertamina (Persero) dan Air Product. Proyek dengan investasi mencapai US$ 3 miliar itu ditargetkan rampung pada 2024 mendatang. Konsorsium telah merampung studi kelayakan (feasibility study/FS) dengan hasil antara lain memerlukan sejumlah insentif seperti harga batu bara khusus gasifikasi.

Hanya saja Bambang menegaskan, belum ada kepastian berapa harga yang bakal ditetapkan nanti. Besaran harga masih terus dikaji apakah menggunakan skema di mulut tambang dengan formula biaya ditambah margin, termasuk masih mengkaji besaran royalti yang dikenakan. “Pemerintah sedang evaluasi insentif seperti apa. Ini belum diputuskan,” ujar dia.

Sementara itu, Direktur Pembinaan Program Mineral dan Batu bara Kementerian ESDM Muhammad Wafid menerangkan, insentif diumumkan setelah UU Omnibus Law disahkan. Pemerintah terus melakukan kajian selama RUU tersebut dalam proses pembahasan. “Jadi ini nanti paralel,” kata dia.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN