Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
PLTS berhasil menekan biaya pokok penyediaan (BPP) di sistem kelistrikan Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB). Foto: Investor Daily/Euis Rita Hartati

PLTS berhasil menekan biaya pokok penyediaan (BPP) di sistem kelistrikan Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB). Foto: Investor Daily/Euis Rita Hartati

Keberadaan PLTS Tekan BPP Kelistrikan di NTB

Euis Rita Hartati, Kamis, 13 Februari 2020 | 09:38 WIB

MATARAM, investor.id - . Keberadaan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berhasil menekan biaya pokok penyediaan (BPP) di sistem kelistrikan Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB). Meski demikian, sejumlah pembangkit diesel masih dioperasikan di beberapa pulau.

Terdapat empat PLTS yang beroperasi yakni PLTS Pringgabaya dan PLTS Selong (Lombok Timur), dan PLTS Sengkol yang  mulai 2 Juli 2019 .Sementara PLTS Sambelia (Lombok Timur) berkapasitas 5 MW beroperasi 30 Desember 2019.

Tercatat BPP pada Desember 2019 rata-rata mrncapai Rp 2.209 per kwh, sedangkan pada Juni 2019 mencapai Rp 2.216 per kwh.

Total kapasitas PLTS di PLN Unit Induk Wilayah NTB sebesar 22 MW. "Ini menurunkan biaya BBM sebesar 3,1%," terang Senior Manager Perencanaan PLN Unit Induk Wilayah NTB Arsyadani Ghana Akmalaputri, saat memaparkan kondisi kelistrikan PLN UIP NTB, Selasa (11/2) malam.

PLTS berhasil menekan biaya pokok penyediaan (BPP) di sistem kelistrikan Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB). Foto: Investor Daily/Euis Rita Hartati
PLTS berhasil menekan biaya pokok penyediaan (BPP) di sistem kelistrikan Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB). Foto: Investor Daily/Euis Rita Hartati

Sebelum PLTS beroperasi, bauran energi pembangkit di NTB terbagi atas marine fuel oil (MFO) sebesar 32,9%, air 2,9%, batubara 47,6%, biofuel 16,5%, dan surya 0,1%. Setelah PLTS beroperasi, bauran energi berubah menjadi MFO 23,3%, air 3,3%, batubara 49,5%, biofuel 21,1%, dan surya 2,8%. "Jadi fuel mix berkurang dari 49,4% menjadi 44,4%," jelas Arsyadani.

Di NTB, PLN masih menggunakan banyak pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) dengan bahan bakar minyak. Ini untuk menjangkau daerah-daerah yang sulit diakses oleh jaringan listrik PLTU. Mengingat, ada banyak pulau di wilayah tersebut. Beberapa PLTD antara lain di Bajo Pulo, Nggelu, Pekat, Sebotok, Labuan Aji, Lunyuk, Medang, Lantung, dan Klawis.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA