Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Mobil tanki avtur Pertamina. Foto ilustrasi: Investor Daily/gora kunjana

Mobil tanki avtur Pertamina. Foto ilustrasi: Investor Daily/gora kunjana

Kebijakan Setop Impor Solar dan Avtur Diapresiasi

ES, Kamis, 16 Mei 2019 | 00:13 WIB

JAKARTA - Kebijakan pemerintah untuk menyetop impor solar dan avtur mendapatkan apresiasi dan dukungan dari berbagai pihak, salah satunya Dewan Energi Nasional (DEN). Kebijakan ini dinilai akan menghemat anggaran negara hingga triliunan rupiah dan menggairahkan pengembangan energy terbarukan.

“Setop impor solar dan avtur adalah ide dan kebijakan yang cemerlang,” kata Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) Sonny Keraf kepada wartawan di Jakarta, kemarin.

Menurut dia, ini adalah momen bagus untuk mengoptimalkan pemanfaatan energi terbarukan yang saat beroperasi akan menghemat belanja APBN untuk bahan bakar fosil hingga triliunan rupiah.

Organisasi lingkungan yang kerap bersuara keras menentang diharapkan memahami bahwa pembangunan energi terbarukan, seperti pembangkit listrik tenaga air, akan mengurangi konsumsi energy fosil yang boros dan polutif.

Soal protes yang kerap dari organisasi yang mengatasnamakan lingkungan terhadap proyek pembangkit listrik energi terbarukan, Sonny menyayangkan hal itu. Menurut dia, LSM lingkungan sering melihat hanya pada satu aspek saja, misalnya konservasi ekosistem hutan dan keanekaragaman hayati.

“Padahal energi terbarukan, seperti PLTA dan geotermal, juga diperlukan untuk kepentingan lingkungan hidup, khususnya pengurangan emisi karbon dari bahan bakar fosil,” katanya.

Dia meminta agar mereka yang kerap protes pada pengembangan energi terbarukan untuk mau duduk bersama mencari jalan tengah. “Agar kedua-duanya (energi terbarukan dan konservasi ekosistem) bisa jalan tanpa saling menegasi,” katanya.

Sebelumnya, kebijakan menghentikan impor solar dinyatakan Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution, pada Jumat (10/5). Penghentian impor solar dan avtur dikarenakan pemerintah ingin mengoptimalkan produksi dalam negeri sekaligus menyeimbangkan defisit neraca transaksi berjalan.

Langkah konkret menindaklanjuti rencana penghentian impor solar adalah segera membangun kilang pengolahan minyak mentah dalam negeri.

Kemudian, pemerintah harus berani memberi insentif dalam pengembangan energi terbarukan, termasuk pembangkit listrik, untuk memenuhi kebutuhan mobil listrik.

Sonny mengingatkan faktor keseimbangan neraca perdagangan dan dampak lingkungan harus menjadi pertimbangan dalam menghitung risiko tersebut.

“Sudah tepat jika Menko (bidang Perekonomian Darmin Nasution) dengan pesetujuan Presiden mendorong kebjakan ini. Dalam jangka pendek memang ada risikonya, tapi lebih bagus dalam jangka panjang,” katanya.

Sementara itu, dalam Rapat dengan Komisi VII DPR RI, Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Nicke Widyawati mengatakan impor Avtur sudah disetop, sedangkan solar akan disetop mulai Mei ini. “Jadi mulai April kita sudah tidak lagi impor avtur, per Mei untuk solar, kalau avtur sudah. Pengadaan impor sejak bulan depan avtur solar tidak lagi impor,” ujar Nicke.

Dia menjelaskan impor avtur solar bisa disetop dengan optimalisasi kilang yakni kilang Plaju dan Cilacap. “Dengan kita optimalkan kilang, termasuk Plaju dan juga Cilacap,” kata Nicke.

Dengan demikian, lanjut Nicke, langkah yang telah ditempuh untuk mengurangi impor ialah memangkas impor minyak mentah, avtur dan solar. “Ini juga penghematan, penurunan impor crude itu sudah dilakukan Januari, kalau produk mulai April,” tutur Nicke.  

Sumber: Investor Daily

BAGIKAN