Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Arcandra Tahar. Foto: IST

Arcandra Tahar. Foto: IST

Kebutuhan BBM Naik Picu Defisit Migas

TRY, Senin, 20 Mei 2019 | 08:17 WIB

JAKARTA - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menilai defisit neraca perdagangan pada bulan April, disebabkan oleh peningkatan volume impor bahan bakar minyak (BBM). Peningkatan impor tersebut dilakukan untuk mengamankan kebutuhan nasional karena adanya peningkatan kebutuhan.

Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arcandra Tahar mengatakan, kenaikan volume impor pada April 2019 disebabkan naiknya impor BBM dilakukan karena adanya peningkatan kebutuhan jelang Lebaran.

Namun untuk impor crude atau minyak mentah, ia menyatakan telah terjadi penurunan sebab PT Pertamina (Persero) memaksimalkan produksi minyak mentah dari perusahaan Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS).

“Kalau kita lihat fenomena ini untuk ketahanan stok Lebaran dan naiknya harga minyak yang di luar kendali kita, maka naiklah defisit neraca perdagangan,” jelas dia usai rapat koordinasi di Kemenko Perekonomian, Jakarta, Jumat (17/5).

Di sisi lain, juga ada perubahan perilaku masyarakat yang lebih memilih mudik lewat jalur darat, sehingga mendorong naiknya kebutuhan BBM, sehingga stok harus dilebihkan yang membuat volume impornya kemudian naik. Kebutuhan tersebut dipenuhi lewat impor.

Di sisi lain nilai impor yang meningkat juga disebabkan oleh kenaikan harga minyak dunia.

“Salah satu behaviour-nya adalah tol-tol kita sekarang mulai dipenuhi oleh kendaraan yang membutuhkan menggunakan tol daripada pesawat. Dan ini juga yang mengakibatkan premium dan pertamax series terutama ron 92 naik impornya,” tambah dia.

Adapun jika dari sisi kenaikan volume jika dibanding tahun lalu, ia menilai kenaikan volume impor BBM relatif sama. Untuk impor BBM oktan 88 atau Premium maupun BBM dengan research octane number (RON) 92 atau Pertamax Series.

“Selain volume naik, harga crued atau BBM naik sehingga menghasilkan impor yang nilainya lebih tinggi. Kalau crued naik, BBM itu biasanya mengikuti crued (oil),” pungkasnya

Dia memperkirakan untuk impor BBM pada bulan Juni mendatang akan menurun, seiring dengan berakhirnya periode lebaran. Meski demikian, ia menyebut bahwa untuk harga minyak dunia tidak bisa diprediksi, tetapi untuk volume masih bisa diprediksi penggunaannya.

Arcandra mengatakan pihaknya memprediksi bahwa impor BBM akan mengalami penurunan di bulan Juni nanti seiring dengan berakhirnya periode lebaran.

Sementara itu untuk solar ia memastikan tidak ada impor pada bulan ini, sebab semua produksi kilang Pertamina digunakan dalam negeri, sehingga akan membuat impor solar semakin lama semakin mengecil

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA