Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pipia gas PGN. Foto: IST

Pipia gas PGN. Foto: IST

Kenaikan Harga Gas Bertahap Win-Win Solution PT PGN dan Pengusaha

Euis Rita Hartati, Rabu, 9 Oktober 2019 | 19:25 WIB

JAKARTA, investor.id - Direktur Executive Energy Watch Mamit Setiawan dalam kunjungannya ke Offtake Station Kalisogo bersama para pengamat menyampaikan bahwa kenaikan harga gas untuk industri memang sudah seharusnya dilakukan.

”Saya kira kenaikan harga untuk industri harus segera dilakukan mengingat untuk Jawa Timur sejak tahun 2012 tidak pernah mengalami kenaikan harga” demikian disampaikan Mamit.

Dia juga menyampaikan bahwa untuk gas yang di supply untuk PT PGN harganya sudah mahal, rata-rata adalah sebesar US$ 7 - US$ 7.3 per MMBtu.

”Dengan mahalnya harga gas hulu ditambah investasi yang dilakukan untuk pembangunan pipa transmisi dan pipa distribusi serta maintenance yang dilakukan sudah sepantasnya kenaikan ini diberlakukan. Apalagi untuk Jawa Timur,PT PGN menjual ke industri sebesar US$ 7.6 - US$ 7.9 per MMBtu” lanjut Mamit.

Energy Watch Indonesia Mamit Setiawan. Foto: energitoday.com
Energy Watch Indonesia Mamit Setiawan. Foto: energitoday.com

Mamit mengatakan salah satu solusi agar PT PGN dan pengusaha bisa sama dalam menanggapi kenaikan ini adalah dengan kenaikan secara bertahap.

”Saya kira dengan kenaikan secara bertahap bisa menjadi salah satu solusinya. Misalnya kenaikan per triwulan sebesar 25% sehingga dalam satu tahun bisa mencapai harga sesuai dengan keinginan dari PT PGN”.

Mamit melanjutkan,dengan kenaikan bertahap tersebut maka pengusaha tidak kaget dan secara faktor psikologisnya menjadi lebih enak dan memudahkan mereka untuk berhitung.

”Ini menjadi win-win solution bagi semua pihak dan harapan saya tidak menimbulkan gejolak yang luas. Apalagi,sampai saat ini gas untuk industri masih lebih murah di bandingkan golongan Rumah Tangga 1(R1) sebesar Rp 4.250/m3 dan Rumah Tangga 2 (R2) sebesar Rp 6.000/m3 dibandingkan harga gas industri golongan B1 sebesar Rp 3.300/m3”, kembali Mamit memaparkan.

“Harapan saya, kenaikan bertahap ini tidak terlalu memberatkan pengusaha sehingga masyarakat sebagai konsumen tidak mengalami kenaikan harga produk secara signifikan” lanjut Mamit.

Selain ke Offtake Station Kalisogo,Mamit juga mengunjungi proyek pembangunan Onshore Regasifikasi Unit (ONRU) di Lamongan Base. Pembangunan ONRU ini berfungsi sebagai security sistem supply ketika ada gangguan dari gas wellhead

“Ini merupakan langkah tepat yang dilakukan oleh PT PGN dalam menjaga supply ke konsumen sehingga tidak mengganggu aktifitas konsumen. Melalui pembangunan ONRU ini, shortage (berkurangnya supply gas dari hulu) yang sering terjadi bisa diatasi dengan menggunakan LNG yang sudah di regasifikasi dan security supply dari PT PGN dapet dipenuhi”.

Proyek ONRU Teluk Lamong Gresik yang mulai dibangun bulan Juli 2019 diperkirakan selesai pada bulan November 2019 “Pembangunan ONRU ini saya kira harus terus dikembangkan terutama di Indonesia Timur atau wilayah lain yang memang pasokannya gas kurang sehingga energy security kita bisa terjamin,” tutup Mamit Setiawan.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA