Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi: Asap yang mengepul dari kilang LyondellBasell-Houston Refining di kota Houston, Texas. (Foto: Mark Felix/AFP)

Ilustrasi: Asap yang mengepul dari kilang LyondellBasell-Houston Refining di kota Houston, Texas. (Foto: Mark Felix/AFP)

Minyak Cenderung Flat

Rabu, 27 Januari 2021 | 07:13 WIB
Listyorini (listyorini205@gmail.com)

Investor.id – Harga minyak bergerak datar (flat) dan ditutup sedikit beragam pada akhir perdagangan Selasa (Rabu pagi WIB). Pasar mencermati meningkatnya kematian akibat Covid-19 yang berdampak pada prospek permintaan bahan bakar, tetapi koreksi minyak dibatasi oleh laporan ledakan di Arab Saudi.

Harga minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Maret mengakhiri sesi dengan kenaikan tipis tiga sen atau 0,05% menjadi US$ 55,91per barel. Sementara harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman Maret turun 16 sen atau 0,3%, menjadi US$ 52,61 per barel.

Data dari American Petroleum Institute (API) menunjukkan persediaan minyak mentah AS turun 5,3 juta barel dalam sepekan hingga 22 Januari menjadi sekitar 481,8 juta barel, lebih tinggi dari ekspektasi analis yang disurvei Reuters sebesari 430.000 barel.

Jumlah kematian di Inggris akibat Covid-19 melampaui 100.000 orang ketika pemerintah berjuang untuk mempercepat pengiriman vaksinasi dan menjaga varian virus baru tetap terkendali. Di AS, jumlah kasus melampaui 25 juta pada Minggu (24/1/2021), penghitungan Reuters menunjukkan.

Faktor lain yang meredam sentimen bullish minyak adalah ketidakpastian paket stimulus Biden senilai US$ 1,9 triliun. Demokrat AS masih berusaha meyakinkan anggota parlemen Republik tentang perlunya lebih banyak stimulus, menimbulkan pertanyaan tentang kapan dan dalam bentuk apa paket akan disetujui.

“Angka Covud yang besar, perebutan vaksin, dan ketidakpastian seputar rencana stimulus Biden, semuanya berkonspirasi untuk menekan harga (minyak),” kata Direktur Energi Berjangka Mizuho Securities AS, Robert Yawger.

Dibandingkan dengan beberapa negara lain, peluncuran vaksin di Uni Eropa berjalan lambat dan penuh masalah, tidak terkecuali gangguan pada rantai pasokan.

Harga minyak naik sedikit setelah laporan ledakan di ibu kota Arab Saudi, Riyadh, meskipun penyebabnya tidak jelas.

Harga minyak juga didukung oleh ketegangan geopolitik setelah dua supertanker dengan awak kapal dari Iran dan China ditangkap pada Minggu (24/1/2021) di perairan Indonesia dekat pulau Kalimantan karena dugaan transfer minyak ilegal.

“Harga kemungkinan akan bertahan jika penyitaan kapal oleh Indonesia diselesaikan dengan cepat dan jika ledakan hari ini di Arab Saudi terbukti merupakan insiden terisolasi yang tidak meningkatkan ketegangan regional, akibatnya tidak mempengaruhi produksi minyak,” kata Kepala Pasar Minyak Rystad Energy, Bjornar Tonhaugen.

Meningkatkan prospek permintaan minyak yang lebih tinggi pada akhir tahun didukung oleh prediksi Dana Moneter Internasional (IMF) dengan pertumbuhan global 5,5% pada 2021, meningkat 0,3 poin dari perkiraan Oktober.

Editor : Listyorini (listyorini205@gmail.com)

Sumber : REUTERS

BAGIKAN