Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
harga minyak naik

harga minyak naik

Minyak Cetak Rekor Tertinggi dalam Setahun

Sabtu, 6 Maret 2021 | 09:28 WIB
Listyorini (listyorini205@gmail.com)

Investor.id – Reli harga minyak berlanjut pada akhir perdagangan Jumat (Sabtu pagi WIB) naik 3%, mencapai level tertinggi dalam lebih dari setahun. Minyak didorong ekspektasi kenaikan permintaan menyusul laporan pekerjaan AS yang lebih kuat dan keputusan OPEC+ memperpanjang pemotongan pasokan hingga April.

Kontrak berjangka harga minyak mentah Brent untuk pengiriman Mei naik 3,9% menjadi US$ 69,36 per barel. Harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman April bertambah 3,5% menjadi US$ 66,09 per barel.

Dalam seminggu ini, minyak Brent melonjak 5,2% persen, kenaikan pekan ketujuh berturut-turut untuk pertama kalinya sejak Desember. Sementara harga minyak WTI melambung sekitar 7,4% setelah naik hampir 4% minggu lalu.

"OPEC+ menetapkan pendekatan hati-hati ... memilih untuk meningkatkan produksi hanya 150.000 barel per hari (bph) pada April, sementara pelaku pasar memperkirakan kenaikan 1,5 juta barel per hari," kata Analis Minyak UBS Giovanni Staunovo.

Arab Saudi telah memutuskan untuk mempertahankan pemotongan sukarela sebesar satu juta barel per hari hingga April, bahkan setelah kenaikan harga minyak dalam dua bulan terakhir didukung oleh program vaksinasi Covid-19 di seluruh dunia.

Beberapa peramal merevisi ekspektasi harga mereka naik menyusul keputusan OPEC+.

Goldman Sachs menaikkan perkiraan harga minyak mentah Brent sebesar US$ menjadi US$ 75 per barel pada kuartal kedua dan US$ 8 per barel pada kuartal ketiga tahun ini. UBS menaikkan perkiraan harga minyak Brent menjadi US$ 75 per barel dan harga minyak WTI menjadi US$ 72 per barel pada paruh kedua tahun ini.

Selain itu pasar mendapat dorongan setelah sebuah laporan menunjukkan ekonomi AS menciptakan lebih banyak lapangan pekerjaan daripada yang diperkirakan pada Februari.

Laporan payroll (penggajian) non pertanian "menunjukkan bahwa warga Amerika lebih dekat dengan perilaku pra-pandemi yang akan mendorong permintaan kuat untuk minyak mentah," kata Edward Moya, analis pasar senior di OANDA di New York.

Pedagang juga mencatat kenaikan dolar, yang mencapai tertinggi sejak November, membatasi kenaikan harga minyak mentah. Dolar yang lebih kuat membuat minyak lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya.

Namun, analis dan pedagang mengatakan bahwa penjualan fisik minyak mentah yang lambat dan pemulihan permintaan yang tidak diprediksi hingga sekitar kuartal ketiga menunjukkan bahwa kenaikan harga tidak beralasan.

“Pasar menunjukkan keketatan yang tidak ada. Oleh karena itu, kami tetap yakin bahwa risiko harga terutama adalah penurunan dan harga saat ini melampaui batas,” kata Hans van Cleef, ekonom energi senior di ABN Amro.

India, importir dan konsumen minyak terbesar ketiga dunia, mengatakan bahwa keputusan OPEC+ untuk memperpanjang pemotongan karena harga bergerak lebih tinggi dapat mengancam pemulihan yang dipimpin konsumsi di beberapa negara.

Pemulihan harga minyak ke level sebelum pandemi juga telah mendorong para pengebor minyak AS untuk kembali ke sumur minyak. Jumlah rig minyak bertambah satu minggu ini setelah naik selama enam bulan berturut-turut, menurut perusahaan jasa energi Baker Hughes Co.

Editor : Listyorini (listyorini205@gmail.com)

Sumber : REUTERS

BAGIKAN