Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Kilang LyondellBasell-Houston Refining di kota Houston, Texas,AS.
(Foto: Mark Felix/AFP)

Kilang LyondellBasell-Houston Refining di kota Houston, Texas,AS. (Foto: Mark Felix/AFP)

Minyak Menguat, Brent Sempat Sentuh US$ 72/Barel

Sabtu, 5 Juni 2021 | 09:34 WIB
Listyorini (listyorini205@gmail.com)

Investor.id – Minyak menguat pada akhir perdagangan Jumat (Sabtu pagi WIB), dan Brent sempat menyentuh US$ 72 per barel untuk pertama kalinya sejak 2019. Pasar optimistis dengan prospek permintaan serta disiplinnya OPEC+ menjalankan komitmen pasokannya.

Minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Agustus, naik 58 sen menjadi US$ 71,89 per barel, setelah sempat menyentuh US$ 72,17. Sementara itu, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Juli bertambah 81 sen menjadi US$ 69,62 per barel, dan sempat mencapai US$ 69,76 tertinggi sejak Oktober 2018.

Untuk minggu ini, harga acuan minyak mentah berjangka Brent naik 4,6%, sementara minyak mentah WTI melonjak 5% berdasarkan kontrak bulan depan.

Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak dan sekutunya yang dikenal sebagai OPEC+ pada Selasa (1/6/2021) mengatakan mereka akan tetap berpegang pada pembatasan pasokan yang disepakati. Sebuah laporan pasokan mingguan pada Kamis (3/6/2021) menunjukkan persediaan minyak mentah AS turun lebih dari yang diperkirakan minggu lalu.

Minyak menguat setelah angka AS menunjukkan data penggajian (payrolls) nonpertanian meningkat 559.000 pekerjaan bulan lalu. Dolar AS melemah setelah laporan tersebut, membuat minyak lebih murah bagi pemegang mata uang lainnya dan memberikan dukungan untuk harga minyak.

Indeks dolar, yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama, turun 0,41% menjadi 90,1401 pada akhir perdagangan Jumat (4/6/2021). Secara historis, harga minyak berbanding terbalik dengan harga dolar AS.

Harga minyak juga melayang lebih tinggi setelah perusahaan-perusahaan energi AS minggu ini memangkas jumlah rig minyak dan gas alam yang beroperasi, untuk pertama kalinya dalam enam minggu, data dari perusahaan jasa energi Baker Hughes menunjukkan.

"Brent tampaknya telah menemukan support baru di atas US$ 70 ," kata Pialang Minyak PVM, Stephen Brennock. "Musim panas dan pembukaan kembali ekonomi global adalah bullish untuk permintaan minyak di paruh kedua tahun ini."

Sementara meningkatnya permintaan dan kecepatan vaksinasi di negara-negara seperti Amerika Serikat telah mendorong minyak, peluncuran inokulasi yang lebih lambat dan infeksi yang tinggi di negara-negara seperti Brazil dan India memukul permintaan di pasar minyak dengan pertumbuhan tinggi.

“Tidak setiap negara di dunia berada dalam mode pemulihan penuh, tetapi saat ini tampaknya tidak ada hambatan yang dapat membalikkan momentum bullish yang dibawa oleh permintaan musim panas yang kuat,” kata Analis Pasar Minyak Rystad Energy, Louise Dickson.

Editor : Listyorini (listyorini205@gmail.com)

Sumber : REUTERS

BAGIKAN