Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pompa angguk di sumur minyak mentah. ( Foto ilustrasi: AFP/File / Karen Bleier )

Pompa angguk di sumur minyak mentah. ( Foto ilustrasi: AFP/File / Karen Bleier )

Minyak Rebound Ditopang Data Ekonomi Kuat

Rabu, 7 April 2021 | 07:00 WIB
Listyorini (listyorini205@gmail.com)

Investor.id – Harga minyak rebound sekitar 1% pada akhir perdagangan Selasa (Rabu pagi WIB), setelah turun sekitar 4% pada hari sebelumnya. Data ekonomi yang kuat dari Tiongkok dan Amerika Serikat menjadi katalis kenaikan minyak.

Minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Juni menguat 59 sen atau 1% menjadi US$ 62,74 per barel. Sementara itu, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman Mei bertambah 68 sen atau 1,2% menjadi US$ 59,33 per barel.

Harga menguat setelah data menunjukkan aktivitas jasa-jasa AS menyentuh rekor tertinggi pada Maret. Sektor jasa Tiongkok juga solid dengan peningkatan penjualan paling tajam dalam tiga bulan.

Selain itu, Inggris berencana melonggarkan lebih banyak pembatasan virus corona pada 12 April, memungkinkan bisnis termasuk semua toko, pusat kebugaran, salon rambut, dan tempat rekreasi luar ruangan untuk dibuka kembali.

Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya, yang dikenal sebagai OPEC+, sepakat pekan lalu untuk mengembalikan pasokan 350.000 barel per hari (bph) pada Mei, 350.000 bph lagi pada Juni dan 400.000 bph atau lebih pada Juli.

“Meskipun OPEC+ bertentangan dengan apa yang dipikirkan oleh sebagian besar pelaku pasar dan tim risetnya sendiri, dengan meningkatkan produksi minyaknya secara signifikan selama tiga bulan ke depan, pasar sekarang memberi isyarat bahwa OK dengan itu dan siap untuk mendapatkan keuntungan dari ketidakpastian," kata Louise Dickson, analis pasar minyak Rystad Energy.

Kematian terkait virus corona di seluruh dunia melampaui 3 juta pada Selasa (6/4/2021), menurut penghitungan Reuters, karena kebangkitan infeksi global di tengah upaya vaksinasi di seluruh dunia.

Pembatasan baru di Eropa juga membebani harga.

Di Amerika Serikat, produksi minyak diperkirakan turun 270.000 barel per hari pada 2021 menjadi 11,04 juta barel per hari, kata Badan Informasi Energi AS (EIA), penurunan yang lebih tajam dari perkiraan bulanan sebelumnya yang turun 160.000 barel per hari.

Pejabat AS dan Iran akan memulai pembicaraan tidak langsung di Wina pada Selasa (6/4/2021) untuk menghidupkan kembali kesepakatan nuklir 2015 antara Teheran dan kekuatan dunia, yang dapat menyebabkan Washington mencabut sanksi pada sektor energi Iran.

Goldman Sachs mengatakan setiap potensi pemulihan dalam ekspor minyak Iran tidak akan mengejutkan pasar, dan pemulihan penuh tidak akan terjadi hingga musim panas 2022.

Sementara itu, ketegangan antara Arab Saudi dan India memanas. Pabrik penyulingan milik negara India berencana untuk membeli 36% lebih sedikit minyak dari Arab Saudi pada Mei dari biasanya, kata sumber Reuters.

Editor : Listyorini (listyorini205@gmail.com)

Sumber : REUTERS

BAGIKAN