Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Minyak mentah sedang dipompa ke permukaan di Monterey Shale, California, Amerika Serikat. (ANTARA/REUTERS/Lucy Nicholson.)

Minyak mentah sedang dipompa ke permukaan di Monterey Shale, California, Amerika Serikat. (ANTARA/REUTERS/Lucy Nicholson.)

Minyak Tertekan Aksi Ambil Untung

Selasa, 8 Juni 2021 | 07:14 WIB
Listyorini (listyorini205@gmail.com)

Investor.id – Harga minyak turun pada akhir perdagangan Senin (Selasa pagi WIB) karena aksi ambil untung (profit taking), setelah menyentuh level tertinggi dua tahun ini.

Minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Agustus ditutup pada level US$ 71,49 per barel, atau turun 40 sen, setelah sempat mencapai US$ 72,27 per barel, tertinggi sejak Mei 2019.

Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman Juli kehilangan 39 sen menjadi US$ 69,23 per barel, setelah menyentuh US$ 70 per barel untuk pertama kalinya sejak Oktober 2018.

Harga turun dari tertinggi di awal sesi, dan para analis mengutip tekanan dari data China yang menunjukkan impor minyak mentah turun ke level terendah satu tahun pada Mei. "Itu menghilangkan beberapa antusiasme di pasar minyak yang dilihat telah bullish," kata Phil Flynn, analis senior di Price Futures Group, di Chicago.

Investor mungkin telah menjual beberapa kontrak untuk mengambil keuntungan ketika WTI mencapai angka US$ 70 per barel, kata Jim Ritterbusch dari Ritterbusch and Associates. "Terlepas dari itu, harga tertinggi baru menunjukkan keberlanjutan pergerakan bullish," kata Ritterbusch.

Minyak mentah telah meningkat selama dua minggu, dengan Brent melonjak 38% tahun ini dan WTI melambung 43%. Emas terus menguat karena ekspektasi pemulihan ekonomi dan pembatasan pasokan oleh Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak dan sekutunya (OPEC+).

Kelompok produsen yang dikenal sebagai OPEC+ telah mendorong harga minyak dengan tetap menahan pembatasan pasokan hingga Juli. Pada Senin (7/6), Sekretaris Jenderal OPEC Mohammad Barkindo mengatakan OPEC+ memperkirakan persediaan akan turun lebih lanjut dalam beberapa bulan mendatang.

Analis memperkirakan harga minyak akan tetap naik, dengan kemunduran singkat, karena meningkatnya permintaan global menyusul keputusan Amerika Serikat dan Eropa untuk melonggarkan pembatasan COVID-19, sementara India telah mulai melonggarkan penguncian terbarunya.

Editor : Listyorini (listyorini205@gmail.com)

Sumber : REUTERS

BAGIKAN