Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Zooming with Primus - Transformasi Menuju Energi Terbarukan, Live di Beritasatu TV, Kamis (12/11/2020). Sumber: BSTV

Zooming with Primus - Transformasi Menuju Energi Terbarukan, Live di Beritasatu TV, Kamis (12/11/2020). Sumber: BSTV

Panas Bumi Andalan Mencapai Target EBT

Kamis, 12 November 2020 | 23:00 WIB
Ester Nucky ,Rangga Prakoso (rangga.prakoso@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - Indonesia memasuki transformasi menuju energi baru terbarukan (EBT) dengan target sebanyak 23% dalam bauran energi nasional tahun 2025. Panas bumi menjadi salah satu andalan mencapai target bauran tersebut, didukung potensinya di Indonesia yang setara 23 gigawatt.

Peta jalan sudah disiapkan beserta insentif bagi pengembang EBT. Badan usaha milik negara (BUMN) pun dilibatkan dalam pengembangan potensi energi terbarukan, dengan PT Geo Dipa Energi (Persero) mendapat penugasan dari pemerintah untuk melakukan pengeboran panas bumi guna menekan risiko investasi. Sedangkan PT Penjaminan Infrastruktur Indonesia (Persero) mendapat mandat untuk penjaminan fasilitas pembayaran pemerintah dalam rangka pengembangan pembangkit listrik energi terbarukan.

Direktur Utama Geo Dipa Riki Firmandha Ibrahim mengatakan, 40% cadangan panas bumi dunia berada di Indonesia. Dia menyebutnya Indonesia sebagai 'middle east atau Timur Tengah-nya' panas bumi.

Riki menuturkan, pengembangan panas bumi di Indonesia cukup positif. Dia mengapresiasi langkah pemerintah dalam mendorong percepatan pengembangan panas bumi.

Salah satu upaya pemerintah mempercepat dengan program government drilling. Program ini diharapkan mengurangi risiko pengusahaan di sektor hulu panas bumi, yang selama ini menjadi salah satu tantangan yang dihadapi pengembang/badan usaha dalam melakukan pembangunan pembangkit listrik tenaga panas bumi.

"Kami ditugasi pemerintah menurunkan risiko. Kami melaksanakan government drilling di beberapa daerah," kata Riki dalam acara Zooming with Primus bertema Transformasi Menuju Energi Terbarukan, yang ditayangkan BeritaSatu TV, Kamis (12/11).

Direktur Utama PT Geo Dipa Energi (Persero), Riki Firmandha Ibrahim dalam diskusi Zooming with Primus - Transformasi Menuju Energi Terbarukan, Live di Beritasatu TV, Kamis (12/11/2020). Sumber: BSTV
Direktur Utama PT Geo Dipa Energi (Persero), Riki Firmandha Ibrahim dalam diskusi Zooming with Primus - Transformasi Menuju Energi Terbarukan, Live di Beritasatu TV, Kamis (12/11/2020). Sumber: BSTV

Narasumber lain dalam diskusi tersebut adalah Direktur Pembinaan Program Ketenagalistrikan Kementerian ESDM Jisman Hutajulu, Direktur Utama PT Penjaminan Infrastruktur Indonesia Muhammad Wahid Sutopo, serta Direktur Mega Proyek PT PLN (Persero) Ikhsan As'ad. Sedangkan sebagai moderator adalah News Director BeritaSatu Media Holdings Primus Dorimulu.

Riki menuturkan pemerintah juga memberikan insentif khususnya terhadap EBT, termasuk panas bumi. Sementara itu, pandemi Covid-19 membuat konsumsi listrik menurun, sehingga pasokan listrik kini berlimpah.

“Pemerintah memberikan insentif, bukan hanya soal perpajakan namun juga memberikan fiscal tools yang menarik. Di sisi lain, pengembangan pembangkit listrik saat ini terpengaruh pandemi Covid-19. Ini menjadi pekerjaan rumah (PR) bersama untuk meningkatkan lagi permintaan atau konsumsi listrik. Sekarang bagaimana dengan demand, kasihan PLN (selaku offtaker)," tuturnya.

Perpres Bulan Depan

Direktur Pembinaan Program Ketenagalistrikan Kementerian ESDM, Jisman Hutajulu dalam diskusi Zooming with Primus - Transformasi Menuju Energi Terbarukan, Live di Beritasatu TV, Kamis (12/11/2020). Sumber: BSTV
Direktur Pembinaan Program Ketenagalistrikan Kementerian ESDM, Jisman Hutajulu dalam diskusi Zooming with Primus - Transformasi Menuju Energi Terbarukan, Live di Beritasatu TV, Kamis (12/11/2020). Sumber: BSTV

Jisman Hutajulu menuturkan porsi bauran energi saat ini didominasi oleh pembangkit listrik tenaga air sebesar 5,6 gigawatt. Kemudian, pembangkit panas bumi sebesar 2,1 gigawatt.

“Secara keseluruhan bauran energi itu mencapai 14,83%, sementara pembangkit fosil masih mendominasi sebesar 65% dan gas 20%. Sejumlah langkah dilakukan pemerintah dalam mencapai target bauran 23% itu,” paparnya.

Upaya yang dilakukan antara lain menyusun peraturan presiden yang segera terbit bulan depan. Beleid tersebut antara lain berisi harga jual listrik yang lebih atraktif bagi pengembang.

Berikutnya, kata dia, berupa konsep renewable energy based industry development yang antara lain diterapkan di Kalimantan Utara. Konsep ini mampu memberikan tarif listrik murah bagi industri lantaran pasokan berasal dari pembangkit listrik tenaga air (PLTA). "Kami dekatkan sumber energi baru terbarukan dengan industri," ujarnya.

Batu Bara Dikurangi

Zooming with Primus - Transformasi Menuju Energi Terbarukan, Live di Beritasatu TV, Kamis (12/11/2020). Sumber: BSTV
Zooming with Primus - Transformasi Menuju Energi Terbarukan, Live di Beritasatu TV, Kamis (12/11/2020). Sumber: BSTV

Jisman menjelaskan lebih lanjut, bauran energi merupakan langkah untuk mengurangi pembangkit listrik berbasis fosil. “Pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) yang berbahan bakar batu bara dikurangi perannya. Ini bisa dengan menghentikan beberapa operasi PLTU, ataupun dengan mencampurkan batu bara dengan biomassa (cofiring),” ucapnya.

Namun, dia menegaskan pembangkit listrik tenaga gas (PLTG) masih diperlukan dalam menunjang kebutuhan listrik pada saat beban puncak (peaker). Ia menambahkan, pembangkit panas bumi juga memiliki kemampuan untuk menunjang kebutuhan pada saat peaker.

“Keberadaan pembangkit panas bumi ini untuk mengatasi pembangkit energi baru terbarukan lain yang bersifat intermiten, seperti pembangkit listrik tenaga surya (PLTS), karena PLTS hanya beroperasi sekitar 5 jam di siang hari. Kami membuka pasar, membuka ruang energi terbarukan, PLTU dikurangi baurannya dan pengaturan harga supaya bankable," imbuhnya.

Penjaminan

Direktur Utama PT Penjaminan Infrastruktur Indonesia, Muhammad Wahid Sutopo dalam diskusi Zooming with Primus - Transformasi Menuju Energi Terbarukan, Live di Beritasatu TV, Kamis (12/11/2020). Sumber: BSTV
Direktur Utama PT Penjaminan Infrastruktur Indonesia, Muhammad Wahid Sutopo dalam diskusi Zooming with Primus - Transformasi Menuju Energi Terbarukan, Live di Beritasatu TV, Kamis (12/11/2020). Sumber: BSTV

Wahid Sutopo menerangkan, pihaknya memiliki peran dalam penjaminan pembiayaan. Penjaminan yang dilakukan, antara lain, untuk proyek pembangunan PLTP Dieng Unit 2 dan PLTP Patuha Unit 2 pada Agustus kemarin.

Dia juga menerangkan, pembiayaan infrastruktur energi baru terbarukan berasal dari multilateral maupun development bank. "Dengan penjaminan ini diharapkan membantu pengembangan energi baru terbarukan," ujarnya.

Proyek Pembangunan PLTP Dieng-2 dan PLTP Patuha-2 merupakan proyek dengan pembiayaan dari ADB dan Clean Technology Fund/CTF (dengan channeling melalui ADB) kepada Geo Dipa. Dana ini akan digunakan untuk membangun proyek pembangkit listrik tenaga panas bumi unit 2 di masing-masing area Dieng dan Patuha.

Proyek dengan kebutuhan investasi sebesar US$ 469,2 juta ini masuk dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2019-2028, dan bertujuan untuk mengembangkan pembangkit listrik berbasis EBT melalui energi panas bumi. “Keberadaan proyek pembangkit energi panas bumi ini dapat mendukung pencapaian target bauran energi terbarukan sebesar 23% di tahun 2025, sesuai Rencana Umum Energi Nasional (RUEN). Selain itu, mengurangi emisi karbon, dan berkontribusi dalam program pemerintah terkait penyediaan listrik bagi masyarakat,” imbuhnya.

Sebelumnya, pada 6 Maret 2020, berdasarkan hasil evaluasi bersama antara Kementerian Keuangan dan PT PII, Kementerian Keuangan menerbitkan Keputusan Menteri Keuangan (KMK) terkait Penugasan kepada PT PII untuk Memberikan Jaminan terhadap Risiko Gagal Bayar dari Geo Dipa yang Mendapatkan Pinjaman Langsung dari ADB untuk Membiayai Proyek Pembangunan PLTP Dieng-2 dan PLTP Patuha-2, serta Surat Persetujuan Prinsip kepada Geo Dipa.

Pemerintah, dalam hal ini Kementerian Keuangan, telah memberikan dukungan pada pengembangan sumber energi listrik EBT, yang diwujudkan antara lain dengan adanya pos anggaran belanja kementerian/lembaga untuk pengembangan infrastruktur pembangkit listrik berbasis EBT, serta fasilitas fiscal tools yaitu penjaminan pemerintah melalui PT PII. Hal ini sejalan dengan visi-misi Indonesia dalam melakukan percepatan pelaksanaan proses pembangunan proyek panas bumi nasional berbasis pemanfaatan energi domestik. Selain itu, mendukung upaya untuk menarik investasi swasta pada sektor ini.

Konversi PLTD

Direktur Mega Proyek PT PLN (Persero), Ikhsan Asad dalam diskusi Zooming with Primus - Transformasi Menuju Energi Terbarukan, Live di Beritasatu TV, Kamis (12/11/2020). Sumber: BSTV
Direktur Mega Proyek PT PLN (Persero), Ikhsan Asad dalam diskusi Zooming with Primus - Transformasi Menuju Energi Terbarukan, Live di Beritasatu TV, Kamis (12/11/2020). Sumber: BSTV

Sementara itu, Ikhsan Asa'ad menuturkan, program prioritas PLN di 2021-2022 adalah mengonversi pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) dengan energi baru terbarukan. Sebanyak 5.000 unit dengan total kapasitas 2.000 megawatt (MW) akan dikonversi dengan pembangkit EBT.

Konversi ini mampu menurunkan biaya pokok produksi, mengurangi impor bahan bakar minyak, serta mendorong perekonomian. "Kami lagi bertransformasi. Transisi energi dari dominan fosil ke energi baru terbarukan," ujarnya.

Ikhsan menuturkan, PLN memiliki beberapa strategi untuk mendorong penggunaan energi baru terbarukan. Ini misalnya, pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) terapung dengan memanfaatkan bendungan-bendungan yang sudah ada untuk membangkitkan listrik. PLN juga mendorong pembangunan PLTS terapung berkapasitas besar dengan memanfaatkan bendungan-bendungan yang ada di Indonesia.

Pada Januari 2020, lanjut dia, PLN telah menandatangani kontrak jual beli listrik (power purchase agreement/PPA) dengan Konsorsium PT PJBI-Masdar untuk membangun PLTS terapung di Cirata, Jawa Barat, dengan total kapasitas mencapai 145 MW. Pembangunan PLTS ini akan dimulai pada awal 2021 dan akan menjadi PLTS terapung terbesar di Asia Tenggara.

“PLTS Terapung Cirata sangat murah, hanya US$ 5,8 cent/kWh. Kami berusaha ke depan mendorong pembangkit seperti ini, dan pastinya dengan harga yang lebih murah,” ujarnya..

Editor : Abdul Aziz (abdul_aziz@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN