Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

Pasar Baru Batu Bara Lima Tahun ke Depan

Oleh Primus Dorimulu dan Devie Kania, Rabu, 13 Februari 2019 | 12:19 WIB

Dihubungi terpisah, Direktur Eksekutif Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI) Hendra Sinadia mengatakan, sejumlah kajian internasional menunjukkan pasar baru dalam lima tahun ke depan.

Permintaan batu bara meningkat di sejumlah negara Asia Tenggara seperti di Filipina, Thailand dan Indonesia seiring dengan penambahan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU). Namun hasil kajian internasional juga mengungkapkan permintaan batu bara di Tiongkok malah turun.

“Memang ada pasar baru dan ada juga permintaan yang berkurang. Tapi secara balance permintaan dunia flat dalam lima tahun ke depan sekitar satu miliar ton,” kata Hendra kepada Investor Daily, Selasa (12/2).

Dia mengungkapkan, Indonesia menguasai sekitar 30% pasar dunia, kemudian diikuti dengan Australia sekitar 20%. Sedangkan sisanya dari Afrika Selatan, Rusia, Kolombia, Amerika Serikat, Ukraina, dan Polandia.

Dia mengungkapkan, Indonesia merupakan penghasil batu bara kalori rendah terbesar. Sementara Australia produsen batu bara kalori tinggi.“Indonesia dan Australia menguasai separuh perdagangan dunia,” ujarnya.

Dia mengatakan, proyeksi harga batu bara kalori tinggi relatif baik sepanjang tahun ini karena permintaannya relatif stabil. Adapun negara yang mengimpor batu bara kalori tinggi itu yakni Jepang dan Korea Selatan. Permintaan Jepang diperkirakan sekitar 50 juta ton.

Untuk batu bara kalori rendah, Tiongkok mulai mengurangi impor batu bara kalori rendah. Selama ini Indonesia merupakan pemasok terbesar batu bara kalori rendah untuk PLTU di Tiongkok. Namun Negeri Tirai Bambu itu secara bertahap mengurangi permintaan batu bara kalori rendah lantaran isu lingkungan.

Dia menyebut harga batu bara kalori rendah mengalami ketidakpastian sepanjang tahun ini. Pergerakan harga tergantung dari arah pemerintahan Tiongkok. “Pasar sudah mengantisipasi untuk kalori batu bara kalori rendah ini,” ujar dia.

Lebih lanjut dia mengingatkan upaya pemerintah meningkatkan volume produksi batu bara. Hal ini berkaca pada tahun lalu dimana pasar merespons negatif rencana penambahan produksi hingga 100 juta ton. Alhasil, harga batu bara terus terkoreksi sejak Agustus hingga akhir Desember 2018. (rap)

Baca selanjutnya di https://id.beritasatu.com/home/2019-bumi-berpotensi-raih-pendapatan-us-58-miliar/185417

BAGIKAN