Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Sampel minyak sawit untuk B20, B30, hingga B100. Foto ilustrasi: Investor Daily/Gora Kunjana

Sampel minyak sawit untuk B20, B30, hingga B100. Foto ilustrasi: Investor Daily/Gora Kunjana

Penerapan B100 Butuh 35 Juta Ton Sawit

Kamis, 13 Februari 2020 | 14:15 WIB
Rangga Prakoso (rangga.prakoso@beritasatumedia.com) ,Tri Listiyarini

JAKARTA, investor.id - Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) menyatakan mendukung program pemerintah menerapkan green fuel sebagai pengganti atau pengurang konsumsi solar.

Untuk itu, pasokan fatty acid methyl esters (FAME) untuk biodiesel perlu ditingkatkan guna mencukupi kebutuhan program pemerintah.

“Aprobi sekarang lebih fokus (penyiapan) program biodiesel 40% (B40), sedangkan penerapan B100 membutuhkan sekitar 35 juta ton sawit. Hal ini baru bisa dilakukan jika produksi sawit bisa ditingkatkan hingga 60 juta ton, yang nanti sisa produksinya masih bisa memenuhi kebutuhan minyak goreng dan lain-lain,” papar Ketua Umum Aprobi Master Parulian Tumanggor kepada Investor Daily di Jakarta, Rabu (12/2).

Ia menjelaskan, hal itu dengan memperhitungkan kebutuhan BBM solar saat ini sekitar 32 juta kiloliter (kl). Sementara itu, dengan green fuel 100% atau B100, kebutuhan solar tidak ada lagi.

biodiesel
biodiesel

Oleh karena itu, Parulian mengatakan, program B100 harus diawali dengan studi kelayakan yang baik. Pasalnya, hal ini juga menyangkut nilai investasi maupun harga jual.

Dia mengatakan harga jual green fuel bisa mencapai Rp 14.000 per liter, atau hampir tiga kali lipat dibandingkan dengan solar bersubsidi sebesar Rp 5.150/liter. Bila kemudian harga jual green fuel disubsidi pemerintah, anggaran yang disediakan sangat besar.

"Semua aspek harus dikaji, kalau harga green fuel tinggi apakah masyarakat mau membeli. Kemudian bila industri kendaraan baterai berkembang, maka kan tidak perlu lagi ada penambahan produksi minyak sawit sampai 60 juta ton. Jadi, perkembangan industri otomotif juga patut dicermati, lantaran era kendaraan berbasis baterai sudah mulai bergulir," tandasnya.

Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Harga Indeks Pasar Bahan Bakar Nabati (HIP BBN) jenis biodiesel dan bioethanol bulan Februari 2020 Rp 9.539 per liter ditambah ongkos kirim. Hal ini sudah menghitung ongkos produksi dari CPO menjadi biodiesel sekitar US$ 100 per ton.

Besaran HIP BBN tersebut digunakan dalam rangka pelaksanaan mandatori B30 dan berlaku untuk pencampuran minyak solar, baik jenis bahan bakar minyak tertentu maupun jenis bahan bakar minyak umum. Harga itu lebih mahal dibanding harga solar nonsubsidi yang dijual Pertamina di Jawa sebesar Rp 9.300 per liter.

Sementara itu, harga minyak mentah (crude oil) jenis Brent berdasarkan data Bloomberg sebesar US$ 54,76 per barel dan jenis WTI US$ 50,43 per barel pada 12 Februari 2020. Harga biodiesel dinilai bisa bersaing dengan solar bila harga minyak Brent sekitar US$ 70 per barel.

Uji Coba Maret

Kebun Sawit
Kebun Sawit. Foto: Dok Investor Daily

Parulian mengatakan lebih lanjut, seiring Aprobi yang kini lebih fokus pada mandatori biodiesel 40%, maka uji coba penggunaan B40 akan dimulai bulan depan. Bahan bakunya juga cukup.

“Kapasitas FAME atau minyak nabati dari kelapa sawit itu mencukupi. Kapasitas produksinya bisa mencapai 14 juta kl, sedangkan kebutuhan FAME sekitar 12 juta kl dalam program B40 tersebut. Kami akan uji B40 mulai Maret 2020 dan diperkirakan selesai Juli nanti," ujarnya. (dho/ark/en)

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN