Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Biodiesel. Foto ilustrasi: IST

Biodiesel. Foto ilustrasi: IST

Pengembangan Biodiesel untuk Pangkas Impor BBM Solar

Kamis, 13 Februari 2020 | 13:51 WIB
Rangga Prakoso/Tri Listyarini

JAKARTA, investor.id - Wakil Direktur Indef Eko Listiyanto mengatakan, pemerintah berupaya menekan impor minyak dan hasil minyak yang selama ini menjadi penyebab utama defisit neraca perdagangan, di antaranya dengan mengembangkan biodiesel untuk memangkas impor BBM solar.

Pengembangan biodiesel di dalam negeri juga dilakukan karena adanya hambatan produk sawit Indonesia di pasar Uni Eropa (UE) dan hambatan perdagangan dari India.

Namun demikian, apabila produksi biodiesel berbahan sawit terus digenjot secara berlebihan untuk kebutuhan B100, maka tidak tersedia cukup sawit untuk memproduksi turunan lain yang bernilai tambah lebih tinggi. Hal ini akan mengganggu program hilirisasi industri bernilai tambah tinggi.

“Jika ‘semua’ untuk biodiesel, maka kesempatan Indonesia untuk memproduksi turunan lain dari sawit akan berkurang di masa mendatang. Padahal, turunan minyak sawit banyak, ratusan, tidak hanya biodiesel, di mana Malaysia saja bisa mengembangkan turunan sawit hingga tahap lanjut itu. Jangan sampai nanti mengganggu hilirisasi industri sawit,” ungkap Eko Listiyanto di Jakarta, Rabu (12/2/2020).

Ekonom Indef Eko Listiyanto MSE. Foto: indef.or.id
Ekonom Indef Eko Listiyanto MSE. Foto: indef.or.id

Tidak hanya itu, lanjut Eko Listiyanto, sawit tidak hanya sebagai sumber energi, namun juga sumber pangan. Penggunaan minyak sawit untuk biodiesel secara masif bisa jadi akan menimbulkan trade off.

Indonesia juga bisa jadi akan menghadapi loss opportunity dari devisa ekspor sawit yang selama ini cukup besar. “Artinya, memang bagus pengembangan B100 ini, tapi juga banyak aspek yang harus dipikirkan dan dipertimbangkan. Apakah asosiasi kendaraan siap menggunakan B100? Tingkat kepercayaan mereka akan program biodiesel harus ditingkatkan, jangan sampai mereka ragu. Lalu, aspek pemerataan, jangan sampai teknologi biodiesel hanya dikuasai oleh perusahaan besar, teknologi ini hendaknya juga bisa menyentuh hingga petani swadaya,” ujar Eko.

Eko Listiyanto menambahkan, program B100 juga baik bila tidak sepenuhnya menggunakan minyak sawit, tapi juga menggunakan minyak nabati lain seperti minyak jarak atau kelapa. Seperti halnya program B20 dan B30 dari biodiesel sawit yang dimulai dari keterpaksaan, lanjut dia, maka penggunaan minyak nabati lain dalam B100 juga baru bisa diterapkan apabila ada keterpaksaan, misalnya mulai ada kelangkaan sawit sebagai bahan baku untuk peningkatan mandatori bila sudah lebih tinggi dari B50.

Sampel minyak sawit untuk B20, B30, hingga B100. Foto ilustrasi: Investor Daily/Gora Kunjana
Sampel minyak sawit untuk B20, B30, hingga B100. Foto ilustrasi: Investor Daily/Gora Kunjana

"Bahan baku yang digunakan dalam B100 ini akan melihat dari aspek kesiapan suplai dan teknologi, juga harga. Kalau sekarang memang yang paling siap itu sawit, apalagi program replanting dilakukan besar-besaran, sedangkan kalau minyak jarak atau bahan baku lain seperti kelapa mungkin belum sesiap sawit," kata Eko.

Saat ini, harga sawit yang masih rendah juga sejalan dengan program mandatori penggunaan biodiesel, namun bisa menghadapi permasalahan jika harga sawit sudah tinggi. Saat ini harga CPO masih termasuk rendah, sekitar US$ 666,99 per ton.

Produk CPO
Pekerja membersihkan sisa CPO ( crude palm oil) di sebuah kapal tongkang di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara. Foto ilustrasi: dok.Investor Daily

Rata-rata harga CPO dunia pernah di posisi tertinggi dalam sejarah pada Februari 2011, yakni sekitar US$ 1.292 per ton. Tren booming harga CPO tersebut dimulai sejak November 2010, namun era rata-rata harga CPO di atas US$ 1.000 per ton berakhir pada Agustus 2012, kemudian terus merosot. Rata-rata harga CPO sempat mencapai titik terendah pada Desember 2018, yakni di level US$ 535 per ton.

“Jadi, ‘ceritanya’ bisa lain kalau nanti harga sawit sudah tinggi. Sedangkan untuk pengembangan jarak misalnya, intinya jangan seperti dulu juga, ada jarakisasi atau penanaman jarak di mana-mana tapi tidak ada yang menyerap,” tandasnya. (dho/ark/afp/sumber lain/en)

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN