Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Salah satu kegiatan di panrik rimah. Foto ilustrasi: dok.

Salah satu kegiatan di panrik rimah. Foto ilustrasi: dok.

Perhapi: Data Asal Usul Timah Mutlak Diperlukan dalam Perdagangan

Rangga Prakoso, (elgor)  Selasa, 30 Juni 2020 | 18:06 WIB

JAKARTA, investor.id - Competent Person Indonesia (CPI) memiliki peran penting dalam pengelolaan pertambangan yang ramah lingkungan. Peran CPI untuk mengestimasi dan melaporkan sumber daya dan cadangan mineral yang dimiliki perusahaan tambang untuk disampaikan dalam rencana kerja anggaran belanja (RKAB).

Ketua Komite CPI Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi) periode 2016-2019 Andre Alis menyayangkan adanya usulan relaksasi aturan pertambangan yang berkaitan dengan CPI mineral timah. Hal itu menyikapi wacana relaksasi CPI yang menyeruak di Bangka Belitung.

"CPI punya ilmu, keahlian dan mengerjakan dengan benar sehingga mengurangi berbagai kerusakan lingkungan. Kalau kita bicara relaksasi tinggal regulator, kompetensi CPI itu enggak mungkin direlaksasi karena pekerjaannya harus memenuhi persyaratan data Kode KCMI. Bakal berantakan nantinya tata kelola pertambangan, kalau persyaratan CPI direlaksasi," kata Andre dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (30/6).

Andre mengungkapkan dalam melaporkan sumber daya dan cadangan mineral, CPI juga mempertimbangkan 10 faktor pengubah, yakni faktor pertambangan, pengolahan, metalurgi, ekonomi, pemasaran, hukum, lingkungan, infrastruktur, sosial dan pemerintahan.

“Dari 10 faktor pengubah itu, kita klasifikan menjadi tiga yakni, faktor teknis, sosial dan lingkungan hidup dan faktor ekonomi. Jadi CPI tidak hanya mempertimbangkan faktor cadangan saja, tapi juga dampak lingkungan, sosial dan ekonominya. Makanya CPI tidak bekerja sendiri tapi bergandengan dengan ahli lingkungan, ahli keuangan. Bisnis pertambangan juga kita harus melihat aspek lingkungan, kegiatan tetap dilakukan tanpa merusak generasi masa depan dan harus memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujarnya. 

Dikatakannya pelaporan cadangan yang dilakukan oleh CPI memberikan gambaran riil kondisi cadangan tambang perusahaan, sehingga tidak ada lagi hasil tambang yang diambil bukan dari wilayah izin usaha pertambangan (IUP) karena semua sudah terukur. Selain itu, laporan ini juga menjadi dasar bagi perusahaan tambang untuk listing di bursa tambang maupun bursa efek.

“Perusahaan tambang itu hanya punya hak kelola atas IUP-nya, dengan adanya laporan cadangan yang benar dari CPI dan bertanggungjawab, maka IUP itu menjadi tanggungjawab perusahaan. Jangan nanti IUP perusahaan A tapi yang mengambil dan mengolah dari perusahaan B. Ini banyak yang terjadi. Dengan laporan CPI kan jelas berapa cadangannya lalu nanti kemampuan dia eskpor berapa, kalau CPI nya memanipulasi laporan dia yang akan dikenakan sanksi kode etik maupun sanksi hukum,” ujarnya.

Menurutnya konsumen produk timah seperti Apple justru lebih memperhatikan pada asal usul barang yang dibeli sebagai bahan baku untuk produk. Penelusuran asal usul bijih timah menjadi hal yang sangat penting sebelum mereka membeli bahan bakunya.

“Timah itu kan konsumennya perusahaan hitech, industri elektronik dan saat ini mereka sangat concern sekali terkait asal usul bahan baku produk merek dari produsen, mulai dari penambangan hingga pengolahannya, kalau seandainya asal usulnya tidak jelas mereka tidak mau membeli dan ini juga kaitannya dengan perbankan, kalau tidak ada jaminan cadangan yang jelas bank juga pasti tidak mau memberikan pinjaman,” ujarnya.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN