Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Kilang Pertamina. Foto ilustrasi: bumn.go.id

Kilang Pertamina. Foto ilustrasi: bumn.go.id

Pertamina Sodorkan Skema Baru Kerja Sama Kilang Cilacap

RAP, Kamis, 13 Juni 2019 | 12:01 WIB

JAKARTA - PT Pertamina (Persero) akan mengajukan skema baru kerjasama dengan Saudi Aramco terkait proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) kilang Cilacap. Bila skema tersebut disepakati, maka ada perpanjangan waktu pembahasan Joint Venture Design Agreement (JVDA). Pasalnya Pertamina dan Saudi Aramco memiliki waktu hingga akhir Juni ini untuk memutuskan apakah akan melanjutkan kemitraan untuk menggarap Proyek Kilang Cilacap.

Direktur Mega Proyek dan Petrokimia Pertamina Ignatius Tallulembang mengatakan skema teranyar masih dalam penyusunan. Rencananya pada akhir Juni ini akan disampaikan kepada Saudi Aramco. Pada dasarnya Pemerintah Indonesia maupun Kerajaan Arab Saudi menghendaki adanya kerja sama antar kedua perusahaan migas.

“Semangatnya pemerintah di Kerajaan Arab Saudi sangat, kedua belah pihak pemerintah ingin ini lanjut dan bahkan mereka mau masuk lebih besar lagi,” kata Ignatius di Jakarta, Rabu (12/6).

Ignatius menuturkan skema baru yang ditawarkan antara lain Saudi Aramco mulai terlibat setelah Pertamina menyelesaikan pengembangan kilang Cilacap.

Dia menyebut porsi Pertamina memodernisasi kilang, peningkatan kualitas produk ke Euro V serta petrokimia. Sementara itu bagian Saudi Aramco ialah pengembangan lanjutan dari proyek yang diselesaikan Pertamina.

“Jadi bukan spin off lagi, bukan valuasi aset, tapi mungkin kayak aset baru saja kita kerja sama bikin yang baru. Mau petrokimia oke, atau mau produkproduk baru yang akan dihasilkan dari Cilacap dengan unit baru. Ada modernisasi kilang, ada improvement kualitas produk ke Euro V itu kami (porsi) Pertamina. Nah ini lanjutannya, kan ada proses lanjutan untuk menghasilkan produk-produk baru itu nanti oleh Saudi Aramco,” tuturnya.

Dikatakannya dalam skema baru tersebut Per tamina menanggung sendiri biaya pengembangan yang dilakukannya. Namun tidak menutup kemungkinan mencari mitra pendanaan dalam penyelesaian proyek kilang. Model pendanaan serupa sebenarnya sudah dilakukan pada proyek RDMP Balikpapan.

“Pendanaan tidak masalah, Kita pendanaan ada project financing kan tidak masalah. biasa bangun kilang itu pinjaman 65%-70% sisanya equity. itu pun flexible karena kita bisa cari equity partner seperti di Balikpapan,” ujarnya.

Kerjasama Pertamina dan Saudi Aramco terkendala dengan valuasi aset. Padahal sudah beberapa kali Pertamina melakukan valuasi. Valuasi yang pertama dilakukan untuk keperluan lain, sehingga hanya digunakan sebagai perkiraan proyek saja.

Selanjutnya, atas persetujuan Saudi Aramco, Pertamina melakukan valuasi sesuai dengan standar Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Sayangnya, Saudi Aramco tidak menyepakati angka yang dihasilkan dari valuasi ini lantaran adanya perbedaan parameter dan asumsi. Berikutnya, Pertamina disebutnya melakukan valuasi dengan menunjuk konsultan terbaik di dunia internasional, yakni PWC.

Penunjukan PWC sesuai yang disyaratkan Saudi Aramco yang meminta untuk menunjuk salah satu empat konsultan besar dunia. Namun, hasil valuasi PWC ini, setelah dilakukan negosiasi, tetap tidak ada kata sepakat dari Saudi Aramco. Dengan skema teranyar maka tidak ada lagi pembahasan valuasi aset.

Sumber: Investor Daily

BAGIKAN