Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP). Foto ilustrasi: SP/IST

Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP). Foto ilustrasi: SP/IST

PGE Kahendong Berencana Ekspansi PLTP Unit 7 dan 8

Senin, 12 Agustus 2019 | 06:58 WIB

TOMOHON, SULUT, investor.id- PT Pertamina Geothermal Energy (PGE) Lahendong, Sulawesi Utara berencana melakukan ekspansi pembangkit listrik teaga panas bumi (PLTP) unit tujuh dan delapan untuk menjaga ketersediaan pasokan energy, sekaligus pemanfaatan energi terbarukan.

“Ekspansi unit tujuh itu berada di Lahendong sementara unit delapan itu di Tompaso,” sebut General Manager PGE Lahendong Salvius Patangke di Tomohon, Sulut, Minggu (11/8/2019).

Dari sisi perizinan lingkungan, kata dia, pihaknya telah mengantonginya untuk pengembangan dua unit tersebut.

Hanya saja, problemnnya saat ini adalah penyerapan kelistrikan di provinsi ujung utama Sulawesi ini sangat minim.

Dia mencontohkan, saat ini beban puncak daya listrik mencapai sekitar 380 MW, sementara kapasitas terpasang mencapai kisaran 460 MW atau surplus 80MW.

“Ini sebagaimana data dari PT PLN. Artinya ada suplus sekitar 80 MW untuk jaringan Sulawesi Utara dan Gorontalo. Nah, apablia kita kembangkan unit tujuh dan delapan ini, maka penyerapannya akan maksimal,” lanjutnya.

Meskipun, kata dia, dalam kontrak jangka panjang dengan PLN minimal serapan sebesar 90% dari kapasitas terpasang.

Saat ini, lanjut dia, pasokan PGE Lahendong berasal dari dua lokasi, yakni Lahendong dan Tompaso sebesar 120 MW. Ketersediaan pasokan sebesar itu, lanjut dia, harus dipertahankan untuk menjaga kelangsung ketersediaan.

“Eksisting pembangkit yang ada beroperasi, hanya bebannya yang diatur. Katakanlah ada pembangkit sebesar 20 MW, maka yang dioperasikan sebar 15 MW, atau dari 120 MW yang tersedia sekitar 90-100 MW yang dioperasikan,” katanya. (gr)

Sumber : ANTARA

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA