Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pipia gas PGN. Foto: IST

Pipia gas PGN. Foto: IST

PGN Incar Laba US$ 1 Miliar pada 2024

Retno Ayuningtyas, Jumat, 14 Februari 2020 | 20:52 WIB

JAKARTA, investor.id  – PT Perusahaan Gas Negara (PGN) Tbk bakal menggenjot kinerja operasi dan keuangannya hingga dapat membukukan laba sebesar US$ 1 miliar pada 2024. Peningkatan penjualan gas baik di dalam maupun luar negeri menjadi salah satu strategi perusahaan untuk merealisasikan target laba tersebut.

Direktur Utama PGN Gigih Prakoso mengatakan, dalam menjalankan bisnis gas terintegrasi, pihaknya akan fokus menjadi agen pembangunan dan mampu membukukan laba untuk pengembangan infrastruktur gas.

Dalam lima tahun ke depan, pihaknya menargetkan peningkatan kinerja penjualan gas dan keuangan yang cukup signifikan. Pada saat yang sama, perusahaan berupaya memenuhi kebutuhan gas untuk 4,7 juta masyarakat pengguna gas bumi.

Dari sisi niaga, PGN menargetkan volume penjualan gas naik drastis menjadi 1.800 miliar british thermal unit per hari (billion british thermal unit per day/BBTUD) di dalam negeri dan 600 BBTUD di pasar internasional.

“Kemudian, laba akan terus meningkat signifikan menjadi US$ 1 miliar dan pendapatan US$ 8 miliar pada 2024,” kata dia di Jakarta, awal pekan ini.

Gigih Prakoso, Direktur Utama PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN). Foto: Investor Daily/IST
Gigih Prakoso, Direktur Utama PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN). Foto: Investor Daily/IST

Pada kuartal III-2019, PGN meraih laba bersih US$ 129,11 juta. Untuk mencapai target tersebut, kata Gigih, PGN akan memperkuat dan memperluas pengelolaan gas domestik. Hal ini dilakukan dengan menambah kapasitas infrastruktur gas nasional.

Rinciannya, hingga 2024, PGN akan membangun pipa distribusi sepanjang 500 kilometer (km), pipa transmisi 528 km, lima unit fasilitas penampungan dan regasifikasi gas alam cair (liquefied natural gas/LNG) terapung maupun di darat, tujuh stasiun pengisian LNG untuk truk atau kapal, 53 fasilitas LNG skala kecil untuk PT PLN (Persero), dan 4-10 juta sambungan jaringan gas (jargas) kota.

Menurut Gigih, pembangunan infrastruktur gas ini bakal dimulai tahun ini juga. Di antaranya, PGN akan membangun pipa distribusi sepanjang 186 km, pipa transmisi 267 km, jargas 316 ribu sambungan, dan mulai mengerjakan sebagian proyek gasifikasi pembangkit listrik.

Mengacu data PGN, pembangunan infrastruktur ini akan meningkatkan pemanfaatan gas domestik sampai dengan 130 BBTUD atau setara dengan 23 ribu barel setara minyak per hari.

Karenanya, kata Gigih, PGN menargetkan peningkatan volume niaga, pengangkutan, maupun regasifikasi gas. “Kinerja volume niaga gas naik 3% dari 949 BBTUD menjadi 980 BBTUD, volume pengangkutan gas naik 1% dari 1.369 MMSCFD menjadi 1.377 MMSCFD, dan volume regasifikasi naik 5% dari 120 BBTUD menjadi 126 BBTUD,” tegas Gigih.

PGN akan mengelola bisnis gas bumi secara terintegrasi pada jaringan gas konvesional termasuk non pipa CNG dan LNG.
PGN akan mengelola bisnis gas bumi secara terintegrasi pada jaringan gas konvesional termasuk non pipa CNG dan LNG.

Sementara untuk ekspansi penjualan LNG ke pasar internasional, PGN menargetkan pangsa pasar hingga 34 kargo per tahun. Itu meliputi penjualan LNG ke Myanmar 9 kargo per tahun selama 5-7 tahun mulai 2021, Filipina 18 kargo per tahun untuk 2023-2043, Tiongkok 6-7 kargo per tahun, serta Jepang 1-2 kargo dan Eropa 1-1 kargo di 2020.

Khusus tahun ini, PGN menargetkan penjualan LNG sebanyak 6 kargo ke pasar internasional dan 4 kargo ke pasar domestik.

Meski demikian, Direktur Keuangan PGN Arie Nobelta Kaban mengakui, polemik harga gas menjadi tantangan bagi perusahaan untuk merealisasikan target 2024. Pasalnya, dalam Rencana Jangka Panjang Perusahaan (RJPP), terdapat asumsi kenaikan harga gas. Namun, nyatanya, rencana ini tidak disetujui pemerintah dan justru ada kebijakan untuk menyesuaikan harga gas menjadi US$ 6 per juta british thermal unit (million british thermal unit/ MMBTU).

“Jadi kondisi eksternal regulasi pemerintah ini menjadi tantangan tersendiri untuk PGN mencapai laba US$ 1 miliar,” kata dia.

Untuk menyiasati turunya harga gas ini lah, kata Arie, PGN menggenjot volume penjualan, pengangkutan, dan regasifikasi gas. Salah satunya, PGN akan memperluas bisnisnya hingga dapat mengalirkan gasnya ke sektor industri di wilayah Sulawesi.

Selain itu, proyek gasifikasi pembangkit PLN juga cukup menjanjikan dari sisi peningkatan volume gas, meski harus dievaluasi lagi keekonomiannya.

“Jadi, upaya-upaya yang kami lakukan, kami keluar (pasar internasional) dan di Indonesia kami banyak meningkatkan market share, salah satunya ke industri petrokimia,” jelas Arie.

Restrukturisasi

Agar bisa memberikan dampak yang makin massif, pemanfaatan gas melalui layanan yang terintegrasi, PGN akan mengembangkan terminal LNG
Agar bisa memberikan dampak yang makin massif, pemanfaatan gas melalui layanan yang terintegrasi, PGN akan mengembangkan terminal LNG

Tak hanya meningkatkan kinerja, PGN juga akan melakukan restrukturisasi bisnis dan portofolio guna mencapai target 2024. Gigih menjelaskan, jumlah anak usaha PGN saat ini terlalu banyak dan tumpang tindih satu sama lain. Karenanya, restrukturisasi ini diperlukan agar bisnis perusahaan semakin efisien.

“Dengan demikian, tujuan dari restrukturisasi adalah membuat anak usaha lebih link, lebih efisien, dan juga seluruh biaya-biaya yang tidak perlu dapat kami hilangkan,” ujarnya.

Restrukturisasi diperkirakan membutuhkan waktu dua tahun. Namun, pihaknya akan melakukanpercepatan sejak tahun pertama. Nantinya, bisnis PGN akan fokus pada bisnis transmisi, distribusi, dan infrastruktur gas.

“Jadi, kami akan buat anak perusahaan yang dimiliki PGN hanya kira-kira mungkin secara major sekitar 5-6 anak usaha, selebihnya kami akan lakukan restrukturisasi,” tuturnya.

Saat ini PGN memiliki Sembilan anak usaha yaitu PT Gagas Energi Indonesia, PT PGN LNG Indonesia, PT Permata Graha Nusantara, PT PGAS Solution, PT PGAS Telekomunikasi Nusantara, PT Nusantara Regas, PT Pertamina Gas (Pertagas), dan PT Saka Energi Indonesia.

Hingga kuartal III-2019, PGN membukukan laba bersih sebesar US$ 129,11 juta, turun dari periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar US$ 244,33 juta. Sementara pendapatan PGN pada periode yang sama tercatat sebesar US$ 2,81 miliar, turun tipis dari periode yang sama tahun sebelumnya US$ 2,89 miliar.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA