Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
biodiesel

biodiesel

Program Mandatori B40 Masih Sulit Diimplementasikan

Kamis, 14 Januari 2021 | 07:35 WIB
Retno Ayuningtyas (retno.ayuningtyas@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id  – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan masih sulit untuk melanjutkan program mandatori biodiesel dari campuran 30% (B30) ke 40% (B40). Meskipun secara teknis dapat dilakukan, besaran dana insentif biodiesel cukup terbatas untuk menjalankan mandatori B40.

Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Dadan Kusdiana mengatakan, saat ini, selisih harga sawit yang merupakan bahan baku biodiesel dan harga minyak mentah cukup besar. Tepatnya, harga sawit di level Rp 1.040-1.050 per kilogram (kg) dan minyak mentah sekitar US$ 45 per barel. Di sisi lain, dana pungutan sawit yang dikumpulkan oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) terbatas.

“Sekarang selisih [harga sawit dan minyak mentah] sekitar Rp 5 ribu. Jadi jumlah uang yang terkumpul oleh BPDPKS hanya cukup untuk mendukung B30. Jadi secara kemampuan, kita tidak bisa melakukan itu [lanjut ke B40] karena anggaran insentifnya tidak cukup,” kata dia di Jakarta, baru-baru ini.

Selain keterbatasan dana insentif, tambahnya, kendala lain penerapan B40 yakni adanya pandemi Covid-19 yang memangkas permintaan bahan bakar secara global. Bahkan, realisasi penyaluran biodiesel di tahun lalu juga tercatat di bawah target, yakni hanya 8,46 juta kiloliter (KL) dari target 9,6 juta KL.

“Sekarang juga angka target [penyaluran biodiesel] lebih rendah dari [target] tahun kemarin,” ungkapnya. Tahun ini, pemerintah menetapkan alokasi biodiesel sebesar 9,2 juta KL.

Dari aspek teknis, Dadan melanjutkan, kajian laboratirum B40 ini telah diselesaikan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kementerian ESDM. Hanya saja, uji jalan penggunaan B40 ini masih sulit untuk dijalankan mengingat kondisi yang ada. “Kalau road test (uji jalan) itu juga lebih banya sosialisasi,” tambahnya.

Sebelumnya, Balitbang disebut melakukan uji ketahanan 1.000 jam pada engine test bench di laboratorium Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Minyak dan Gas Bumi "LEMIGAS" terhadap dua formulasi B40. Formulasi yang pertama adalah B40, yakni campuran 60% solar dengan 40% Fatty Acid Methyl Esther (FAME). Formulasi yang kedua adalah campuran 60% solar dengan 30% FAME dan 10% Distillated Fatty Acid Methyl Esther (DPME).

Mengacu data Kementerian ESDM, pada 2021-2023, target penyaluran biodiesel relatif stabil di kisaran 9-10 juta KL. Rincinya, target serapan biodiesel ditetapkan sebesar 9,2 juta KL di 2021, 10,2 juta KL di 2022, dan 10,5 juta KL di 2023. Target biodiesel mulai naik signifikan menjadi 12,1 juta KL di 2024, sedikit meningkat ke 12,4 juta KL di 2025, dan mencapai 12,8 juta KL di 2026.

Jika mengacu peta jalan mandatori biodiesel, setelah penerapan B30 di 2020, target berikutnya adalah implementasi B50 di 2025. Namun, Direktur Bioenergi Direktorat Jenderal EBTKE Kementerian ESDM Andriah Feby Misna pernah menuturkan, serapan biodiesel di 2022 sudah memperhitungkan dimulainya penyaluran B40. “Kalau uji cobanya memang oke dan dari kapasitas produksi mencukupi, bisa [disalurkan] B40. Pokoknya tergantung hasil uji cobanya dulu,” ujarnya.

 

 

 

 

Editor : Euis Rita Hartati (euis_somadi@yahoo.com)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN