Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Seorang pemandu menjelaskan sistem kerja teknis panas bumi yang dimanfaatkan sebagai sumber energi listrik Pembangkit Listrik Geothermal saat Pameran EBTKE di Jakarta, beberapa waktu lalu. Pembangkit listrik tenaga Panas Bumi hampir tidak menimbulkan polusi atau emisi gas rumah kaca dan menghasilkan listrik sekitar 90% dibandingkan pembangkit listrik berbahan bakar fosil. Foto: Investor Daily/ Emral

Seorang pemandu menjelaskan sistem kerja teknis panas bumi yang dimanfaatkan sebagai sumber energi listrik Pembangkit Listrik Geothermal saat Pameran EBTKE di Jakarta, beberapa waktu lalu. Pembangkit listrik tenaga Panas Bumi hampir tidak menimbulkan polusi atau emisi gas rumah kaca dan menghasilkan listrik sekitar 90% dibandingkan pembangkit listrik berbahan bakar fosil. Foto: Investor Daily/ Emral

Selandia Baru Dorong Kolaborasi Pemanfaatan Panas Bumi untuk Pemulihan Covid-19 Ramah Lingkungan

Jumat, 11 September 2020 | 11:24 WIB
Ridho Syukra (ridho.syukra@beritasatumedia.com )

JAKARTA, investor.id - Selandia Baru terus mendukung pengembangan sektor energi panas bumi di Indonesia, seiring dengan komitmennya untuk memimpin upaya global dalam mewujudkan pemulihan ekonomi hijau pascapandemi Covid-19.

Pandemi Covid-19 ini telah menyebabkan tekanan ekstrim bagi komunitas internasional, sistem layanan kesehatan, dan perekonomian global, namun pada saat yang bersamaan, pandemi membuka peluang untuk menyamakan kebijakan iklim dan membangun dunia yang lebih hijau.

"Meskipun tingkat emisi global menurun selama pembatasan sosial di sejumlah negara, pemerintah dan para pakar sepakat bahwa negara-negara di dunia harus bekerja sama untuk menjamin keberlanjutan," papar Menteri Perdagangan dan Pertumbuhan Ekspor Selandia Baru David Parker dalam acara Digital Indonesia International Geothermal Convention (DIIGC), belum lama ini.

Ia mengatakan, program rendah karbon seperti pengembangan panas bumi dapat membantu menstimulasi pertumbuhan ekonomi dan menciptakan lapangan kerja. Oleh sebab itu, tantangan utamanya harus diatasi dan diwujudkan solusinya.

“Terkadang terdapat pola pikir yang melihat bahwa upaya pelestarian lingkungan sebagai beban pertumbuhan ekonomi. Namun, untuk memulihkan ekonomi pasca Covid-19, maka sektor sosial ekonomi dan lingkungan harus menjadi perhatian utama,” ujar dia.

DIIGC 2020 diadakan oleh Asosiasi Panasbumi Indonesia secara virtual meeting pada 1-10 September 2020. Berdasarkan The Future is Now, Committing Geothermal Energy for Indonesia Sustainable Development, DIIGC 2020 bertujuan untuk memberikan kesempatan kepada pelaku industri panas bumi Indonesia untuk menjalin kerja sama dengan mitra potensial, termasuk Selandia Baru yang telah rutin berpartisipasi sejak 2015.

Anggaran Selandia Baru
Ia memaparkan lebih lanjut, untuk upaya penanganan dan pemulihan dari pandemi Covid-19, pemerintah Selandia Baru mengalokasikan dana sebesar Rp 495,77 triliun dalam anggaran 2020-2021. Dana itu untuk menciptakan lapangan kerja dan memberikan skema dukungan terhadap bisnis, serta digunakan untuk inisiatif ramah lingkungan dan upaya untuk mengatasi perubahan iklim.

Sejak Mei, kata dia, Selandia Baru juga telah menyalurkan lebih dari Rp 59,37 miliar bantuan untuk mendukung upaya penanganan Covid-19 di Indonesia, di mana bantuan tersebut mencakup penambahan kapasitas pengetesan, serta penyediaan alat pelindung diri dan disinfektan.

Proyek Panas Bumi
New Zealand Trade and Enterprise (NTZE) yang merupakan Badan Pengembangan Bisnis Internasional Selandia Baru juga mendukung sejumlah inisiatif untuk membangun dan menjaga reputasi Selandia Baru di bidang panas bumi di Indonesia.

Komisaris Perdagangan Selandia Baru untuk Indonesia Diana Permana mengatakan, Selandia Baru selalu siap memberikan dukungan untuk upaya pemulihan ekonomi ramah lingkungan dan pengembangan panas bumi di Indonesia.

Lebih dari 36 tahun lalu, kolaborasi antara Indonesia-Selandia Baru melahirkan pembangkit listrik tenaga panas bumi pertama di Indonesia di Kamojang, Jawa Barat, yang dibangun dengan bantuan finansial New Zealand Aid Programme. Kemitraan ini akan memasuki fase baru sejalan dengan ambisi Indonesia untuk memproduksi 7.241 megawatt tenaga listrik dari panas bumi pada 2025.

Pemerintah Selandia Baru juga berkomitmen mengalokasikan bantuan sebesar Rp 296,86 miliar selama periode 2017-2022, dalam bentuk pelatihan bersama Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kementerian ESDM, dukungan teknis bagi mitra termasuk Kementerian ESDM dan PT Sarana Mitra Infrastruktur, dan upaya peningkatan akses ke energi panas bumi di Maluku.

Editor : Esther Nuky (esther@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN