Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi: harga minyak naik.

Ilustrasi: harga minyak naik.

Sepekan, Minyak Melonjak 5%, Brent Tembus US$ 44/Barel

Sabtu, 21 November 2020 | 08:35 WIB
Listyorini (listyorini205@gmail.com)

Investor.id – Harga minyak naik sekitar 1% pada akhir perdagangan Jumat (Sabtu pagi WIB) dan membukukan kenaikan mingguan ketiga berturut-turut. Kedua acuan harga minyak, Brent dan WTI, melonjak sekitar 5% dalam pekan ini.

Pergerakan harga minyak mendapat katalis dari uji coba vaksin Covid-19 yang sukses dan rencana organisasi produsen minyak (OPEC+) berkomitmen untuk memperpanjang periode pemotongan produksi. Namun, penguncian baru di beberapa negara dapat membatasi reli kenaikan harga minyak.

Semalam, minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Januari terangkat U$76 sen atau 1,7% menjadi US$ 44,96 per barel. Kontrak minyak mentah AS West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Januari yang lebih aktif naik 52 sen atau 1,2% menjadi US$ 42,42per barel. Kontrak WTI untuk penyerahan Desember, yang berakhir pada Jumat (20/11), naik 41 sen atau 1,0% menjadi US$ 42,15 per barel.

Prospek vaksin Covid-19 yang efektif telah mendukung pasar minyak minggu ini. Pfizer Inc mengatakan akan mengajukan permohonan kepada regulator kesehatan AS pada Jumat (20/11) untuk otoritisasi penggunaan darurat vaksinnya, permohonan pertama dalam langkah besar untuk memberikan perlindungan dari virus corona.

“Terlepas dari fakta bahwa pada kenyataannya perlu waktu untuk melaksanakan kampanye vaksin global, saat permintaan minyak akan menurun, berita positif setiap hari tentang pengiriman vaksin," kata Bjornar Tonhaugen, kepala pasar minyak Rystad Energy.

Katalis kenaikan minyak juga didukung oleh sentimen menjelang pertemuan Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC), Rusia dan produsen lain yang akan bertemu pada 30 November dan 1 Desember. Diperkirakan, grup produsen minyak itu akan menjaga produksi minyak mentah.

OPEC+ pada pertemuan nanti diperkirakan akan menunda peningkatan produksi yang direncanakan. Mereka sedang mencari opsi untuk menunda setidaknya tiga bulan dari Januari .

"Asumsi pengalihan pemotongan saat ini oleh OPEC+ ke kuartal pertama 2021 mungkin diharga hari ini 44 dolar AS per barel," kata bank Nordik, SEB.

Namun, perusahaan minyak Rusia yang lebih kecil berencana untuk memompa lebih banyak minyak mentah tahun ini meskipun ada kesepakatan produksi ketika mereka memiliki sedikit kelonggaran dalam mengelola produksi ladang minyak baru, kata sebuah kelompok yang mewakili produsen tersebut.

Harga minyak juga mendapat beberapa dukungan dari tanda-tanda pergerakan pada kesepakatan stimulus di Washington setelah Pemimpin Mayoritas Republik Senat AS Mitch McConnell setuju untuk melanjutkan diskusi tentang memberikan lebih banyak bantuan Covid-19 ketika kasus melonjak di seluruh Amerika Serikat.

Di sisi lain, kekhawatiran kelebihan pasokan terus membebani saat Libya telah meningkatkan produksi ke tingkat pra-blokade 1,25 juta barel per hari.

Perusahaan energi AS minggu ini memangkas jumlah rig minyak dan gas alam yang beroperasi untuk pertama kalinya dalam 10 minggu, menurut perusahaan jasa energi Baker Hughes Co. Jumlah rig minyak dan gas, indikator awal produksi di masa depan, turun dua rig menjadi 310 rig minggu ini, dengan rig minyak saja turun lima rig menjadi 231 rig, setelah mencapai level tertinggi sejak Mei pekan lalu.

Editor : Listyorini (listyorini205@gmail.com)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN