Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Fabby Tumiwa, Pengamat energi dan kelistrikan; direktur eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR)

Fabby Tumiwa, Pengamat energi dan kelistrikan; direktur eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR)

Stimulus Pengembangan EBT Jadi Strategi Efektif Pemulihan Ekonomi

Minggu, 11 Oktober 2020 | 09:15 WIB
Retno Ayuningtyas (retno.ayuningtyas@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – Percepatan pengembangan energi terbarukan menjadi salah satu strategi pemerintah untuk mendorong pemulihan perekonomian nasional pascapandemi Covid-19. Untuk itu, pemerintah segera menerbitkan Peraturan Presiden (Perpres) yang akan memperbaiki keekonomian proyek energi terbarukan agar lebih menarik bagi investor.

Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa mengatakan, penggunaan stimulus pemerintah untuk pengembangan energi bersih dan terbarukan bisa menjadi strategi pemulihan ekonomi yang efektif pascapandemi Covid-19.

Hal ini terlihat dalam krisis 2008-2009 yang melanda dunia, di mana negara-negara yang memberikan stimulus dan insentif untuk energi terbarukan justru mendapatkan pertumbuhan ekonomi yang lebih baik.

Di Indonesia, lanjut Fabby, studi Bappenas menunjukkan bahwa ekonomi Indonesia bisa tumbuh lebih tinggi dan berkualitas dengan mengintegrasikan energi rendah karbon.

“Justru kalau ingin tumbuh di atas 6%, untuk keluar dari middle income trap dan memanfaatkan bonus demografi, maka strateginya mengurangi gas rumah kaca secara ambisius dengan mendorong energy terbarukan yang lebih besar dari sekarang,” kata dia.

Peran swasta dalam pengembangan energi terbarukan, menurut Direktur Aneka Energi Baru dan Terbarukan Kementerian ESDM Harris, sangat penting. Pasalnya, melihat realisasi beberapa tahun terakhir, pengembangan energy terbarukan baru sekitar 500 MW per tahun.

Dengan asumsi tersebut, peningkatan kapasitas energy terbarukan bakal hanya mencapai 2.500 MW di 2025 yang mana jauh dari yang dibutuhkan untuk mencapai target 23%. Menurutnya, perlu tambahan pembangunan pembangkit listrik energi terbarukan sekitar 7.000 MW lagi untuk bisa mencapai target tersebut.

“Ini tidak bisa andalkan PLN, perlu keterlibatan swasta. Karenanya, ada program Renewable Energy Based Industry Development (REBID) yang melibatkan sektor swasta dari supply hingga demand. Ini untuk akselerasi pengembangan energy terbarukan,” ungkap Harris.

REBID, jelasnya, yakni pengembangan energi terbarukan untuk memenuhi kebutuhan Kawasan Industri atau Kawasan Ekonomi Khusus (KEK). Salah satunya, REBID akan dijalankan di kawasan industri pabrik pengolahan dan pemurnian (smelter) di Kalimantan Utara yang mengandalkan energi dari pembangkit listrik tenaga air (PLTA).

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN