Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
(Foto ilustrasi). Proyek pengerjaan konstruksi di dekat Bandara London City, London, Inggris pada 9 Agustus 2019. Data resmi menunjukkan ekonomi Inggris dilaporkan menyusut secara tidak terduga pada Kuartal II 2019 akibat gejolak Brexit. AFP / Daniel LEAL-OLIVAS

(Foto ilustrasi). Proyek pengerjaan konstruksi di dekat Bandara London City, London, Inggris pada 9 Agustus 2019. Data resmi menunjukkan ekonomi Inggris dilaporkan menyusut secara tidak terduga pada Kuartal II 2019 akibat gejolak Brexit. AFP / Daniel LEAL-OLIVAS

Inggris Menuju Resesi

Happy Amanda Amalia, Sabtu, 10 Agustus 2019 | 10:14 WIB

LONDON, investor.id – Laju perekonomian Inggris pada kuartal II tahun ini di luar dugaan, kontraksi akibat kekacauan Brexit, sehingga Inggris berada di ambang resesi.

Dalam laporan pada Jumat (9/8), Kantor Statistik Nasional Inggris atau ONS menyampaikan bahwa produk domestik bruto (PDB) periode April-Juni 2019 turun 0,2%. Kontraksi ini untuk pertama kalinya dialami ekonomi Inggris dalam hampir tujuh tahun.

Data yang dirilis ONS juga menyebutkan nilai tukar mata uang poundsterling Inggris merosot terhadap euro dan dolar AS. Data ini bahkan dianggap lebih buruk dari ekspektasi pasar terhadap pertumbuhan nol, sekaligus mencerminkan ketegangan di ekonomi global.

Jika ekonomi Inggris kontraksi lagi pada kuartal III berarti secara resmi bakal resesi, menjelang keluarnya Inggris dari blok Uni Eropa (UE) yang diperkirakan pada akhir Oktober tahun ini.

“Data terbaru mengungkapkan tingkat perekonomian berada dalam penurunan dan mengalami penyusutan akibat resesi, yakni pada saat krisis dari pertumbuhan ekonomi global yang lebih lambat diperparah dengan kelumpuhan terkait Brexit,” ujar ekonom IHS Markit Chris Williamson.

Hasil yang diperlihatkan data itu pun tampak kontras dengan ekspansi 0,5% pada Kuartal I, di mana saat itu terjadi aktivitas yang mendorong perusahaan-perusahaan menimbun barang-barang menjelang Brexit

Bahkan, produksi mengalami peningkatan dalam tiga bulan pertama 2019, mengingat Inggris awalnya dijadwalkan meninggalkan blok Uni Eropa pada akhir Maret 2019.

“PDB mengalami kontraksi pada Kuartal II untuk kali pertama sejak 2012 setelah mengalami pertumbuhan yang kuat pada Kuartal I. Produksi manufaktur turun kembali setelah awal yang kuat pada tahun ini, karena produksi dimajukan jelang tanggal kepergian awal Inggris dari Uni Eropa. Sektor konstruksi juga melemah usai sempat meningkat di awal tahun, sementara sektor jasa yang dominan hampir tidak menunjukkan pertumbuhan sama sekali,” jelas Rob Kent Smith, kepala ONS urusan PDB.

 

Prospek Suram

Di sisi lain, Perdana Menteri Inggris Boris Johnson yang resmi menggantikan Theresa May pada Juli, pasca memenangkan kontes pemilihan ketua Partai Konservatif yang berkuasa, telah berjanji membawa Inggris keluar dari blok pada 31 Oktober baik dengan atau tanpa kesepakatan penarikan.

Sementara Menteri Keuangan Inggris yang baru Sajid Javid mengatakan, ekonomi global sedang melambat, tetapi tetap menyoroti data positif terbaru lainnya untuk Inggris.

“Ini adalah periode yang menantang di seluruh ekonomi global, dengan perlambatan pertumbuhan di banyak negara. Tetapi fundamental ekonomi Inggris kuat di mana upah tumbuh, lapangan kerja berada pada rekor tinggi, dan kami diperkirakan akan tumbuh lebih cepat dibandingkan Jerman, Italia, dan Jepang tahun ini. Pemerintah bertekad untuk memberikan kepastian kepada warga dan pelaku bisnis soal Brexit. Itu sebabnya kami pastikan bahwa Inggris akan meninggalkan Uni Eropa pada 31 Oktober,” kata Javid.

Padahal perkiraan resmi pemerintah bulan lalu memperingatkan, Inggris akan meluncur ke dalam resesi selama setahun jika meninggalkan Uni Eropa tanpa kesepakatan.

Gubernur Bank of England (BOE) Mark Carney pun baru-baru ini turut mengingatkan, bahwa Brexit tanpa kesepakatan dapat merusak seluruh sektor ekonomi, seperti industri mobil dan pertanian.

“Pandangan terbaru pada ekonomi Inggris cukup suram,” pungkas analis XTB David Cheetham mengacu pada data yang dirilis Jumat.

Cheetham menambahkan, mengingat berkembangnya ancaman Brexit tanpa kesepakatan yang tampak mengancam timbulnya biaya tambahan, yang mana hal itu sama sekali tidak mengejutkan jika kuartal saat ini juga menunjukkan kontraksi di mana telah memenuhi definisi standar resesi.

Pendahulu Johnson, May mengundurkan diri pada bulan lalu usai gagal mendapat kesepakatan penarikan Uni Eropa melalui parlemen Inggris, dan terpaksa menunda Brexit sebanyak dua kali. (afp)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN