Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Perdana Menteri Inggris Boris Johnson. (Foto: AFP / POOL / DANIEL LEAL-OLIVAS)

Perdana Menteri Inggris Boris Johnson. (Foto: AFP / POOL / DANIEL LEAL-OLIVAS)

Inggris Menuju Resesi

Happy Amanda Amalia, Jumat, 4 Oktober 2019 | 09:09 WIB

LONDON, investor.id – Hasil survei purchasing managers index (PMI) yang dirilis pada Kamis (3/10) menunjukkan perekonomian Inggris tampaknya telah memasuki resesi, menyusul penurunan tajam secara tiba-tiba pada sektor jasa yang dominan pada bulan lalu. Perusahaan-perusahaan pun bersiap menghadapi risiko Brexit tanpa kesepakatan, yang tersisa hanya beberapa pekan lagi.

Perdana Menteri (PM) Boris Johnson telah berjanji untuk membawa Inggris keluar dari Uni Eropa (UE) pada 31 Oktober 2019. Apa pun yang terjadi, meskipun parlemen mengeluarkan undang-undang yang memerintahkannya untuk mengamankan kesepakatan transisi baru guna mengurangi pukulan pada ekonomi.

Berdasarkan latar belakang tersebut, data PMI dari IHS Markit/CIPS pada September 2019 menunjukkan penurunan lebih besar dari perkiraan ekonom dalam jajak pendapat Reuters. Yakni merosot ke level terendah dalam enam bulan pada 49,5 poin atau di bawah level 50 yang menunjukkan kontraksi pertumbuhan.

Dikombinasikan dengan survei manufaktur dan konstruksi yang bahkan lebih lemah di awal pekan ini, PMI semua sektor pada September turun dari 49,7 poin menjadi 48,8 poin atau berada di level terendah sejak bulan pascakeputusan referendum untuk meninggalkan Uni Eropa (UE) pada Juni 2016, dan sebelumnya pada 2009.

IHS Markit melaporkan, angka-angka tersebut menunjukkan ekonomi Inggris menyusut 0,1% dalam tiga bulan hingga September.

“Langsung di tengah penurunan pada Kuartal II, (ini) berarti Inggris menghadapi risiko resesi yang tinggi,” ujar ekonom IHS Markit Chris Williamson, seperti dikutip dari Reuters.

Ekonomi Inggris juga tercatat menyusut 0,2% dalam tiga bulan hingga Juni – di mana ini adalah penurunan pertama sejak 2012 – dan kontraksi kuartalan kedua akan bakal memenuhi definisi dari resesi yang digunakan di Eropa.

Di sisi lain, Johnson telah menyampaikan proposal Brexit baru ke UE dan mengatakan, kecuali blok itu melakukan kompromi maka Inggris akan pergi tanpa kesepakatan pada akhir bulan ini.

Akan tetapi pilihan untuk meninggalkan UE tanpa kesepakatan bakal menyebabkan gangguan besar pada perdagangan, setidaknya dalam jangka pendek, menyusul pemberlakuan segera tarif baru dan proses pemeriksaan regulasi di pelabuhan. Ekonomi Inggris juga melambat karena konflik perdagangan antara AS dan Tiongkok.

Pelambatan Luar Biasa

Data yang dirilis PMI bukanlah panduan gagal-aman untuk prospek ekonomi. Pasalnya, setelah referendum Brexit pada 2016, PMI menunjukkan penurunan yang lebih tajam daripada yang sebenarnya terjadi.

Tetapi tren jangka panjang di semua sektor PMI umumnya sesuai dengan angka pertumbuhan kuartalan resmi.

“Penurunan pada September semakin tidak menyenangkan, karena merupakan hasil dari melemahnya permintaan selama tahun lalu daripada sebuah kejutan tiba-tiba,” kata Williamson.

Perusahaan-perusahaan yang diikutsertakan dalam survei Kamis, melaporkan banyak pelanggan asing beralih bisnis dari Inggris karena mengkhawatirkan Brexit tanpa kesepakatan.

Alhasil, pesanan ekspor baru turun pada tingkat paling tajam sejak Maret, ketika Inggris dijadwalkan meninggalkan Uni Eropa.

Permintaan konsumen yang solid sejauh ini telah melindungi ekonomi Inggris dari beberapa dampak ketidakpastian Brexit, dengan bantuan tingkat pengangguran terendah sejak 1975 dan kenaikan upah pada laju tercepat dalam satu dekade.

Tetapi survei terbaru menambahkan tanda-tanda dari survei sentimen konsumen bahwa lapangan pekerjaan bisa menjadi kurang aman.

Pasalnya banyak industri yang bergerak di bidang jasa telah mengurangi staf dengan laju tercepat dalam sembilan tahun pada September. Secara keseluruhan, PMI pekan ini menunjukkan penurunan tajam dalam pekerjaan sejak Desember 2009.

Perusahaan-perusahaan beralasan bahwa kebanyaan dari mereka melakukan pengurangan staf dengan tidak mengganti yang sudah keluar, daripada melakkan PHK. (sumber lain/pya)


 

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA