Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Perdana Menteri Inggris Boris Johnson. Foto: AFP / Ben STANSALL )

Perdana Menteri Inggris Boris Johnson. Foto: AFP / Ben STANSALL )

Inggris Ucapkan Selamat Tinggal pada UE

Grace Eldora, Sabtu, 1 Februari 2020 | 12:45 WIB

LONDON, investor.id – Pemerintah Inggris pada Jumat (31/1) mengakhiri hampir setengah abad integrasi dengan Eropa, dengan mencatatkan sejarah sebagai negara pertama yang keluar dari keanggotaan Uni Eropa (UE) untuk memulai masa depan baru. Masa depan yang dibayangi ketidakpastian dan diliputi emosi yang masih tinggi setelah perselisihan bertahun-tahun dan penundaan-penundaan.

Pada pukul 11:00 malam waktu setempat, Inggris menjadi negara pertama yang meninggalkan blok beranggotakan 28 negara. Inggris menjadi yang pertama kalinya sejak 1973.

Perdana Menteri (PM) Inggris Boris Johnson telah mendukung Brexit sejak pemungutan suara referendum pada 2016. Hasil suara rakyat Inggris yang memicu kepahitan dan perpecahan mendalam. Namun ia telah berjanji untuk menyatukan Negara dalam era kemakmuran baru.

"Tugas kami sebagai pemerintah, tugas saya, adalah menyatukan Negara ini dan membawa kita maju. Ini bukan akhir tetapi awal. Ini adalah saat ketika fajar menyingsing dan tirai naik ke babak baru," kata Johnson dalam sebuah pernyataan untuk menandai kesempatan itu, Jumat (31/1).

Kanselir Jerman Angela Merkel menyebut kepergian Inggris sebagai perubahan besar bagi blok UE. Terlepas dari tidak adanya dampak secara langsung, karena periode transisi 11 bulan yang dinegosiasikan sebagai bagian dari kesepakatan keluar Uni Eropa- Inggris yang disahkan minggu ini.

Warga Inggris akan dapat bekerja dan berdagang secara bebas dengan negara-negara Uni Eropa (UE) dan sebaliknya hingga 31 Desember 2020, meskipun Inggris tidak akan lagi terwakili di lembaga-lembaga blok tersebut.

Namun secara hukum, Inggris mengundurkan diri tanpa jalan kembali yang mudah dilalui. Sementara syarat penarikan diri telah disepakati, Inggris masih harus mencapai kesepakatan tentang hubungan masa depan dengan UE sebagai mitra dagang terbesarnya, yang menetapkan posisi negosiasi pada Senin (3/2).

"Kami ingin memiliki hubungan terbaik dengan Inggris, tetapi itu tidak akan sebagus keanggotaan. Pengalaman kami telah mengajarkan kita, kekuatan tidak terletak pada isolasi yang indah, tetapi pada keunikan kesatuan kita," kata Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen.

Perjalanan Panjang

Inggris akhirnya sampai ke pintu keluar UE lewat proses yang traumatis. Meskipun pemerintah Inggris menentang banyak proyek UE selama bertahun-tahun, tapi menolak bergabung dengan mata uang tunggal atau wilayah perjalanan bebas Schengen. Hasil referendum 2016 menjadi kejutan besar.

Brexit menyebabkan kekacauan politik di London, memicu perdebatan pahit selama bertahun-tahun. Proses ini sempat melumpuhkan parlemen dan memaksa pengunduran diri dua perdana menteri.

Johnson mengakhiri kekacauan dengan memenangi pemilu dengan meyakinkan serta menentukan pada bulan lalu. Hasil pemilu memberinya mayoritas suara di parlemen untuk meratifikasi kesepakatan Brexit.

Tetapi warga Inggris tetap terpecah seperti saat hampir empat tahun lalu, ketika 52% warga memilih menarik diri dan 48% memilih tetap di UE. Berita-berita utama surat kabar Jumat mencerminkan perpecahan yang terus berlanjut. Tabloid eurosceptic terlaris The Sun dengan penuh kemenangan menyatakan “Saat Kita Telah Tiba”, di halaman depan bersama foto Big Ben.

Di sisi lain, The Guardian yang pro-Eropa memilih tajuk "pulau kecil". Media tersebut menyebut Brexit sebagai pertaruhan terbesar dalam satu generasi.

Menteri Pertama Skotlandia Nicola Sturgeon menyebutnya sebagai momen nyata dan mendalam, juga kesedihan diwarnai dengan kemarahan.

Adapun Skotlandia mendukung tetap bergabung dalam blok EU pada 2016. Dia berjanji meningkatkan kampanye untuk kemerdekaan, yang ditolak penduduk Skotlandia dalam pemungutan suara pada 2014.

Johnson , telah menekankan persatuan dan menghindari perayaan besar yang dapat memperburuk perpecahan. Pemimpin Konservatif itu mengadakan pertemuan kabinet khusus di Sunderland, Inggris bagian timur laut. Pertemuan tersebut merupakan yang pertama menyatakan Brexit dalam pemungutan suara 2016.

Pada pukul 10 malam ia akan menyiarkan ke seluruh negara, kemudian mengadakan resepsi untuk staf di Downing Street No 10, sebelum pertunjukan cahaya di luar kantornya tersebut. Jutaan koin peringatan 50 pence pun akan mulai beredar.

Utang Masalah

Kesepakatan pemisahan menyelesaikan masalah utang pemerintah Inggris, hak ekspatriat UE, status Irlandia Utara, dan masa transisi. Namun hanya 11 bulan untuk Johnson menegosiasikan kemitraan baru, mencakup segala sesuatu, mulai dari perdagangan hingga kerja sama keamanan.

Dia akan menetapkan rencana dalam pidato pada Senin. Tetapi Komisi Eropa telah mengingatkan Johnson harus membatasi ambisinya atau meminta lebih banyak waktu. Perdana Menteri (PM) Irlandia Leo Varadkar mengingatkan pada Jumat, kegagalan mencapai kesepakatan perdagangan pasca-Brexit sesuai tenggat waktu akan menimbulkan ancaman eksistensial terhadap negara tetangga terdekat Inggris tersebut.

Johnson juga menginginkan perjanjian perdagangan dengan Amerika Serikat (AS), di mana Presiden Donald Trump sebagai pendukung besar Brexit. (afp)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA