Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Parlemen Inggris merilis foto Perdana Menteri Inggris Boris Johnson sedang menyimak pengajuan  Pertanyaan Perdana Menteri atau Prime Minister

Parlemen Inggris merilis foto Perdana Menteri Inggris Boris Johnson sedang menyimak pengajuan Pertanyaan Perdana Menteri atau Prime Minister

Johnson Hadapi Pertikaian Baru Brexit

Happy Amanda Amalia, Kamis, 5 September 2019 | 10:13 WIB

LONDON, investor.id – Perdana Menteri Inggris Boris Johnson sedang menuju pertikaian Brexit terbaru usai kalah dalam pemungutan suara parlemen pada Rabu (4/9), terkait janjinya untuk mengeluarkan Inggris dari blok Uni Eropa (UE) dengan cara apa pun yang memungkinkan, terlepas adanya risiko atau biaya yang akan ditimbulkan, pada bulan depan.

Pemimpin Partai Konservatif itu pun mengatakan, menginginkan pemilu dini pada 15 Oktober 2019 jika parlemen memilih untuk menentangnya pada Rabu, dan memaksanya memperpanjangan Brexit selama tiga bulan dari jadwal yang ditargetkan Uni Eropa, dengan rancangan undang-undang (RUU) baru.

“Saya tidak akan pernah mengizinkan hal itu,” ujar Johnson, merujuk pada undang-undang yang disebutnya “RUU penyerahan”.

Johnson berpendapat, ancamannya untuk membawa Inggris keluar dari UE dengan atau tanpa kesepakatan penarikan pada 31 Oktober 2019, pada akhirnya akan memaksa 27 pemimpin negara dalam blok lainnya untuk menyetujui persyaratan-persyaratan yang lebih baik.

Namun, para kritikus membalas bahwa Johnson sedang bermain dengan api. Pasalnya kekacauan ekonomi semacam itu dapat menyebabkan putusnya hubungan yang terjalin hampir setengah abad dengan negara-negara tetangga terdekat Inggris.

Komisi Eropa mengatakan pada Rabu, bahwa risiko Brexit tanpa kesepakatan semakin meningkat. Mereka juga memperingatkan, pihaknya tidak melihat alternatif dari kesepakatan penarikan saat ini.

Johnson Kehilangan Kendali

Menurut laporan, Johnson menderita kekalahan di parlemen pada Selasa (3/9) dan kehilangan sedikit mayoritas suara, setelah kelompok pemberontak di Konservatif bergabung dengan anggota parlemen oposisi dalam pemungutan suara untuk mencegah Brexit tanpa kesepakatan.

“Sebuah penghinaan bagi Johnson ketika pemberontak Tory (Konservatif) berbalik melawannya,” demikian judul halaman depan surat kabar sayap kiri Guardian. Sementara surat kabar The Independent menulis: “Johnson telah kehilangan kendali”.

Tetapi surat kabar Daily Express yang berhaluan euroceptic atau anti blok UE, menuding anggota parlemen telah memilih untuk mengkhianati Brexit dan menyebut kegiatan pemungutan suara pada Selasa, sebagai hari memalukan dalam sesuatu yang disebut dengan demokrasi.

Walau demikian Johnson masih bisa bernafas lega – di tengah-tengah pemberontakan parlemen – setelah pengadilan di Skotlandia memutuskan, bahwa keputusannya untuk menunda parlemen selama lebih dari sebulan mulai pekan depan adalah langkah yang sah.

Ke-75 anggota parlemen yang berada di balik tantangan hukum tersebut menuduh Johnson membatasi upaya-upaya oposisi untuk memblokir strategi Brexit dan menjatuhkan pemerintahannya.

Sementara itu, kasus serupa akan digelar di London pada Kamis (5/9).

Pemerintahan Johnson yang baru berusia enam pekan kini sepenuhnya dalam keadaan kacau balau.

Pemerintahannya telah kehilangan suara mayoritas di parlemen pada Selasa, setelah salah satu anggota parlemennya beralih ke Partai anti Brexit Demokrat Liberal. Mereka kemudian mendepak 21 anggota parlemen dari partai Konservatif karena memberikan suara menolak mendukung pemerintah beberapa jam kemudian. (afp/pya)

 

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN