Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Para pembeli berjalan melewati toko-toko yang ditutup di kota Walsall pada 29 November 2019. Jalan-jalannya yang sepi dan toko-toko yang tutup menjadikan kota Walsall sebagai saksi dari krisis ritel Inggris. ( Foto: AFP / DARREN STAPLES )

Para pembeli berjalan melewati toko-toko yang ditutup di kota Walsall pada 29 November 2019. Jalan-jalannya yang sepi dan toko-toko yang tutup menjadikan kota Walsall sebagai saksi dari krisis ritel Inggris. ( Foto: AFP / DARREN STAPLES )

Kota Walsall jadi Korban Krisis Sektor Ritel Inggris

Grace Eldora, Selasa, 3 Desember 2019 | 12:31 WIB

WALSALL, investor.id - Pusat kota Walsall menjadi saksi krisis ritel Inggris, yang rencana perbaikannya dikampanyekan oleh partai-partai politik untuk pemilu mendatang. Saat ini jalan-jalan kota sepi dan toko-toko tutup.

Tanda “untuk disewakan” di bagian depan toko menjadi pemandangan umum di kota yang berdekatan dengan kota terbesar kedua di Inggris, Birmingham. Satu dari sedikit pihak yang menolak penutupan adalah Poundland, perusahaan ritel yang menjual barang-barang yang sebagian besar berharga satu pound ke bawah.

"Semua toko besar telah pergi dan digantikan oleh toko sampah. Saya lebih banyak (berbelanja) online sekarang," kata warga Susan Humphreys (70), Senin (2/12).

Krisis sektor ritel yang menghantam Walsall dan 270.000 penduduknya meniadi cerminan yang terjadi di seluruh Inggris. Tidak ada sektor yang selamat karena toko-toko independen dan pusat perbelanjaan dihadapkan pada persaingan dengan ritel online, terutama dari Amazon.

Toko-toko juga dikenakan pajak bisnis yang lebih tinggi dan ketidakpastian politik yang lebih luas. Karena proses keluarnya Inggris dari Uni Eropa (UE) sekarang menggantung. Pemilu 12 Desember 2019 diharapkan dapat menyelesaikan masalah.

"Daerah seperti Walsall yang terkena dampak dari penurunan industri selama beberapa dekade, dampak dari perubahan ritel telah memiliki dampak yang tidak proporsional," ujar Kepala Regenerasi dan Pengembangan di Walsall Council Simon Tranter.

Hasilnya, banyak penduduk setempat berjuang memenuhi kebutuhan hidup. Angka kemiskinan anak dan angka kematian anak jauh di atas rata-rata nasional.

Dua konstituensi parlementer Walsall sebelumnya sempat diwakilkan oleh Partai Buruh, tetapi Perdana Menteri Partai Konservatif Inggris Boris Johnson memenangi wilayah Walsall Utara pada 2017.

Sementara itu, daerah tersebut memberikan suara 68% mendukung Brexit. Johnson mengatakan, bagian dari alasan pemungutan suara keluar dari Uni Eropa pada 2016 adalah karena kota-kota yang dalam kesulitan merasa diabaikan dan ditinggalkan.

Baik Konservatif dan Buruh telah berjanji untuk mengurangi pajak bisnis, jika mereka memenangkan pemilihan mendatang. Tetapi Kepala Eksekutif Black Country Chamber of Commerce Corin Crane mengatakan kerusakan telah terjadi. "Bisnis pusat kota tidak akan pernah kembali seperti sebelumnya," ujar kepala kamar dagang setempat tersebut.

Bahkan jika ritel Primark Walsall yang menjual pakaian murah sedang sibuk, penutupan ritel makanan dan pakaian Marks and Spencer 18 bulan yang lalu telah menjadi kerugian besar. Bangunan ritel offline besar tersebut kini kosong melompong.

"Saya yakin itu akan tetap kosong selama beberapa tahun (lebih)," ujar seorang penjual koran lokal, berdiri dekat dari gerai Burger King yang tertutup dan toko pakaian Bonmarche yang kosong.

Walsall sebelumnya terkenal dengan sektor ritelnya pada 1980-an, merupakan pusat pembuatan pelana dan barang-barang kulit lainnya. (afp/eld)

 

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA