Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Bakal Presiden Bank Sentral Eropa (ECB) Christine Lagarde dalam pertemuan Komite Parlemen Eropa untuk Urusan Ekonomi di Parlemen Uni Eropa (UE), Brussels, Belgia pada 4 September 2019.  (AFP / JOHN THYS)

Bakal Presiden Bank Sentral Eropa (ECB) Christine Lagarde dalam pertemuan Komite Parlemen Eropa untuk Urusan Ekonomi di Parlemen Uni Eropa (UE), Brussels, Belgia pada 4 September 2019. (AFP / JOHN THYS)

Lagarde akan Mereformasi ECB

Happy Amanda Amalia, Kamis, 5 September 2019 | 09:23 WIB

BRUSSELS, investor.id – Setelah bertahun-tahun memerangi krisis finansial dan terus memperluas perannya, sudah tiba waktunya bagi Bank Sentral Eropa (ECB) untuk mengkaji ulang perannya dalam menjaga stabilitas harga-harga. Juga bagaimana berkomunikasi lebih baik dengan seluruh warga Uni Eropa (UE). Bakal presiden ECB Christine Lagarde mengutarakan hal tersebut di hadapan Parlemen Eropa di Brussels, Belgia, Rabu (4/9).

“Saya ingin mengubah bahasa dan tanpa terlampau banyak jargon teknokratik bagaimana membuat warga paham apa fungsinya ECB,” ujar Lagarde, kepada Komisi Ekonomi Parlemen Eropa.

Sejak krisis finansial sepuluh tahun lampau, ECB mendorong suku bunga ke teritori negatif. Juga membeli obligasi pemerintah ingga 2,6 triliun euro atau setara US$ 2,9 triliun. Semuanya untuk merangsang pertumbuhan dan mendorong laju inflasi di zona euro.

Sekarang, ECB dihadapkan pada ancaman-ancaman eksternal. Termasuk perang dagang Amerika Serikat (AS)-Tiongkok yang sudah berdampak pada perlambatan pertumbuhan. Selain itu, Jerman terancam resesi dan Inggris masih diliputi kemelut seputar Brexit.

Laju inflasi di zona euro masih di bawah ekspektasi ECB, yakni mendekati tapi di bawah 2%. Sementara konsumen dan perbankan mengeluh bahwa suku bunga rendah berdampak pada konsumsi dan memukul profitabilitas.

Oleh karena bank-bank sentral lain juga dihadapkan pada situasi serupa, bergema seruan agar peran dan instrumen ECB dikaji ulang agar lebih bertaji.

“Mengingat situasi yang ada, mungkin sudah saatnya bagi pengkajian ulang kerangka kerja moneter (ECB),” ujar Lagarde.

Mantan menteri keuangan Prancis dan direktur pelaksana IMF berusia 63 tahun ini tidak menjelaskan lebih lanjut. Lagarde beralasan tidak mau mendahului dan mencampuri rapat-rapat kebijakan ECB sebelum ia mulai menjabat.

Untuk jangka pendek, ia mengatakan akan memegang prinsip-prinsip yang selama ini dijalankan oleh Presiden ECB Mario Draghi. Yang mana bank sentral akan tetap menjaga kebijakan akomodatif hingga beberapa waktu ke depan.

Draghi pada pertengahan bulan ini diperkirakan mengeluarkan paket-paket stimulus besar yang baru. Untuk mengatasi ancaman-ancaman seperti proteksionisme dan Brexit. Termasuk semakin membawa suku bunga simpanan di teritori negatif.

Tidak Dapat Menghalangi

Parlemen Eropa pada Rabu menggelar uji publik pertama bagi Lagarde selaku bakal penjabat berikutnya presiden ECB.

Menurut Dewan legislatif Uni Eropa (UE), pihaknya tidak dapat menghalangi kenaikan Lagarde mengingat itu menjadi kewenangan para kepala pemerintahan UE.

Namun sebagai orang pertama yang ditunjuk untuk menempati jabatan kepala ECB tanpa latar belakang pendidikan tinggi bidang ekonomi – melainkan dengan mengedepakan undang-undang, politik nasional dan pengalaman di Dana Moneter Internasional (IMF) – Lagarde dihadapkan pada rangkaian pertanyaan selama dua jam yang melelahkan dari komite ekonomi menjelang pemungutan suara pada malam harinya.

“Saya mendukung pencalonan Lagarde, mengingat karakternya dan fakta bahwa dia adalah seorang wanita di lembaga yang memiliki kekuatan secara politis. Namun demikian tugas parlemen adalah untuk memeriksa (eksekutif), oleh karena itu kami harus tetap kritis,” ujar anggota komite sekaligus anggota parlemen dari Partai Hijau Sven Giegold kepada AFP.

Sementara anggota Parlemen Eropa dari Partai Konservatif Markus Ferber lebih terang-terangan dalam menyampaikan pendapatnya. “Lagarde harus secara meyakinkan dapat menunjukkan bahwa dia membawa keahlian kebijakan moneter yang diperlukan,” katanya.

Lagarde per 1 November 2019 akan menggantikan Draghi yang mengundurkan diri. (afp)


 

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN