Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
(kiri-kanan) Menteri Buruh dan Industri Italia merangkap Wakil Perdana Menteri Luigi Di Maio;  Perdana Menteri Italia Giuseppe Conte; dan Menteri Dalam Negeri Italia merangkap Wakil Perdana Menteri Matteo Salvini saat menghadiri konferensi pers pada 17 Januari 2019 untuk menyampaikan undang-undang (UU) ekonomi yang baru di akhir Dewan Menteri di Palazzo Chigi, Roma, Italia.  AFP / Alberto PIZZOLI

(kiri-kanan) Menteri Buruh dan Industri Italia merangkap Wakil Perdana Menteri Luigi Di Maio; Perdana Menteri Italia Giuseppe Conte; dan Menteri Dalam Negeri Italia merangkap Wakil Perdana Menteri Matteo Salvini saat menghadiri konferensi pers pada 17 Januari 2019 untuk menyampaikan undang-undang (UU) ekonomi yang baru di akhir Dewan Menteri di Palazzo Chigi, Roma, Italia. AFP / Alberto PIZZOLI

Mendagri Serukan Pemilu Cepat, Italia Krisis

Grace Eldora, Sabtu, 10 Agustus 2019 | 09:52 WIB

ROMA, investor.id - Pemerintah koalisi Italia berada dalam krisis pada Jumat (9/8), setelah Menteri Dalam Negeri Italia sayap kanan Matteo Salvini menarik dukungannya dan menyerukan pemilu cepat.

Ketegangan politik yang meningkat tersebut berimbas ke pasar keuangan, yang mana imbal hasil (yield) naik pada obligasi pemerintah Italia. Adapun Italia menjadi ekonomi terbesar ketiga zona euro yang saat ini tengah terlilit utang.

Perdana Menteri (PM) Italia Giuseppe Conte dengan marah meminta Salvini memberi alasan atas tindakannya. Sebelumnya, Conte telah mengadakan beberapa putaran perundingan untuk mencoba meredakan krisis pada pemerintahan yang baru menjabat 14 bulan tersebut.

Salvini kerap bentrok dalam beberapa minggu terakhir dengan Wakil Perdana Menteri Italia Luigi di Maio dari anti pembentukan Gerakan Bintang Lima (M5S) melalui serangkaian kebijakan. Ia meningkatkan tekanan pada Kamis (8/8), mengatakan tidak ada lagi mayoritas untuk mendukung pemerintah dan mendorong pemilihan umum yang baru.

"Mari kita langsung ke parlemen untuk mengatakan tidak ada lagi mayoritas dan cepat kembali ke pemilihan," ujar Salvini, Kamis (8/8).

Langkah itu memicu krisis, yang digambarkan oleh surat kabar sayap kiri La Repubblica sebagai lelucon yang tidak lucu.

Conte yang telah mengadakan pembicaraan terpisah dengan Salvini dan Presiden Sergio Mattarella, melakukan serangan. Ia mengatakan, bukan tugas menteri dalam negeri untuk berseru kepada parlemen.

Dia meminta Salvini untuk menjelaskan kepada negara maupun pemilih, dan memberikan alasan yang membuatnya mengganggu kegiatan pemerintah. Sementara itu, pemilih percaya pada kemungkinan perubahan.

Kedua majelis parlemen saat ini tengah dalam masa istirahat untuk liburan dan tidak akan kembali hingga September mendatang. Ketegangan yang berkepanjangan antara para pemimpin populis koalisi telah memuncak dalam beberapa hari terakhir. Perselisihan terjadi terkait pembiayaan jalur kereta berkecepatan tinggi bernilai multi-miliar euro, antara kota Italia Turin dan Lyon di negara tetangga Perancis.

Di pasar keuangan, imbal hasil obligasi pemerintah bertenor 10 tahun melonjak menjadi 1,8% dari sekitar 1,5% pada Kamis. Sementara spread antara obligasi Italia dan Jerman melonjak ke 233 basis poin (bps). "Pemerintah ini telah berakhir untuk sementara waktu," kata analis politik Stefano Folli kepada AFP.

Menurutnya, dalam beberapa bulan ke depan pihaknya akan memiliki pemerintahan sayap kanan karena sayap kiri lemah dan M5S dalam krisis. "Ini akan menjadi yang sulit, lahir dari tantangan yang cukup eksplisit untuk Uni Eropa," katanya.

Sementara kelompok kiri bersumpah tidak akan memperpanjang, mantan perdana menteri Paolo Gentiloni berpendapat, Salvini meminta kekuatan penuh untuk membawa negara keluar dari Eropa. “Itu tidak akan terjadi," tulisnya pada media sosial Twitter.

Pemilu dini dinilai akan menguntungkan Salvini, karena hasil-hasil jajak pendapat menempatkan partai Liga unggul. Hal ini membuka kemungkinan dirinya dapat memerintah dalam aliansi dengan partai sayap kanan yang lebih kecil, Fratelli d'Italia (Saudara dari Italia). (afp/eld)

 

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN