Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Logo International Energy Agency (IEA). ( Foto: www.iea.org )

Logo International Energy Agency (IEA). ( Foto: www.iea.org )

Pemulihan Covid akan Dorong Peningkatan Emisi

Selasa, 20 Juli 2021 | 13:16 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

PARIS, investor.id – Badan Energi Internasional (IEA) menyampaikan pada Selasa (20/7), bahwa emisi karbon akan mencapai titik tertinggi sepanjang tahun pada 2023. Penyebabnya, hanya 2% dari pembiayaan untuk pemulihan pandemi Covid-19 digunakan untuk energi bersih.

Negara-negara telah mengalokasikan anggaran sebanyak lebih dari US$ 16 triliun (14 triliun euro) untuk bantuan fiskal selama pandemi Covid-19, di mana sebagian besar dalam bentuk bantuan keuangan darurat untuk para pekerja dan bisnis.

Laporan Pelacak Pemulihan Berkelanjutan IEA (IEA's Sustainable Recovery Tracker) menemukan, hanya US$ 380 miliar dari total alokasi yang disediakan digunakan untuk proyek energi bersih.

Menurut IEA, jika semua rencana belanja direalisasikan maka emisi karbon global akan mencapai tingkatnya pada 2023, dan terus meningkat di tahun-tahun berikutnya. Bahkan polusi karbon keseluruhan akan menjadi 3,5 miliar ton lebih tinggi dari skenario di mana negara-negara tunduk dengan tujuan suhu 1,5 derajat Celcius dalam kesepakatan iklim Paris.

“Sejak krisis Covid-19 meletus, banyak pemerintah yang mungkin telah berbicara tentang pentingnya membangun kembali dengan lebih baik untuk masa depan yang lebih bersih, tetapi banyak dari mereka yang belum mengeluarkan uangnya,” ujar Direktur Eksekutif IEA Fatih Birol, yang dikutip AFP.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengatakan, untuk mempertahankan target suhu 1,5 derajat Celcius maka emisi harus turun rata-rata lebih dari 7% setiap tahun hingga 2030.

Meskipun karantina (lockdown) terkait pandemi dan aturan pembatasan perjalanan membuat polusi karbon turun sebentar pada tahun lalu, konsentrasi gas pemanasan planet di atmosfer Bumi masih meningkat.

Gelombang panas yang menghantam Amerika Utara disebut telah melampaui rekor. Selain itu, sebagian wilayah Eropa utara sedang terendam banjir luar biasa. Dampak-dampak perubahan iklim ini diklaim telah memukul negara-negara dengan ekonomi maju lebih keras daripada sebelumnya.

IEA mengatakan, langkah-langkah investasi yang diumumkan di antara negara-negara anggota kelompok G-20 diprediksi memenuhi 60% dari pengeluaran yang diperlukan demi menjaga agar tujuan suhu yang disepakat di Pakta Iklim Paris tetap dalam jangkauan.

Namun hasil analisis menyebutkan, di antara negara-negara berkembang, investasinya turun menjadi hanya 20% karena negara-negara yang terdampak Covid-19 masih memprioritaskan belanja kesehatan dan kesejahteraan darurat daripada investasi berkelanjutan.

Pada Juni, IEA telah merilis laporan investasi bersihnya, yang menemukan bahwa investasi hijau tahunan harus meningkat lebih dari tujuh kali lipat – dari di bawah US$ 150 miliar pada 2020 menjadi lebih dari US$ 1 triliun pada 2030, jika dunia ingin mencapai netralitas karbon pada 2050.

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : AFP

BAGIKAN