Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Suasana di lantai New York Stock Exchange (NYSE) pada 5 Agustus 2019 di Wall Street, New York City, Amerika Serikat (AS). AFP / Johannes EISELE

Suasana di lantai New York Stock Exchange (NYSE) pada 5 Agustus 2019 di Wall Street, New York City, Amerika Serikat (AS). AFP / Johannes EISELE

Perang Dagang Melebar, Pembuat Kebijakan Cemas

Happy Amanda Amalia, Kamis, 8 Agustus 2019 | 11:54 WIB

PARIS, investor.id – Peringatan-peringatan yang sudah lama disampaikan para ekonom, tentang melebarnya perang perdagangan Amerika Serikat (AS)-Tiongkok, bakal menjadi kenyataan. Tiga bank sentral pada Rabu (7/8) memangkas suku bunganya hingga melebihi ekspektasi.

Langkah kebijakan moneter yang diambil oleh bank sentral di India, Selandia Baru, dan Thailand itu terjadi pada saat produksi industri di Jerman – sebagai negara dengan ekonomi terbesar di Eropa – kembali kolaps pada Juni sehingga semakin menambah ketidakpastian di zona euro yang telah diperparah oleh perang dagang.

Sebelumnya Presiden AS Donald Trump kembali mengancam menerapkan tarif tambahan pada impor Tiongkok. Menanggapi ancaman tersebut, kini Negeri Tirai Bambu itu membiarkan nilai tukar matanya turun menembus level 7 yuan per dolar AS.

Namun, langkah Tiongkok dituding Pemerintah AS sebagai tindakan melakukan manipulasi valuta asing dan memicu kekhawatiran terjadinya perang mata uang, selain perang perdagangan. Imbal hasil obligasi Departemen Keuangan AS sendiri telah jatuh sebagai respons atas isu itu, sekaligus memperlihatkan adanya permasalahan ke depannya.

“Konflik perdagangan berkepanjangan hingga ke hubungan mata uang internasional telah meningkatkan ketidakpastian bagi ekonomi global. Perusahaan-perusahaan harus bersiap diri menghadapi perubahan nyata dalam hubungan mata uang, dan fluktuasi nilai tukar yang lebih besar,” ujar Direktur Federasi Industri Jerman Joachim Lang.

Di sisi lain, tingkat pertumbuhan Kuartal II Tiongkok sudah berada di level paling lemah dalam tiga dekade, dan perlambatan di Eropa berpotensi diperburuk oleh kekacauan politik penarikan Inggris dari blok Uni Eropa (UE).

Meski demikian pasar masih tenang memasuki musim panas di belahan bumi bagian utara, dengan berharap pada gencatan senjata dalam konfrontasi AS-Tiongkok pasca pertemuan Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping di Jepang pada akhir Juni tahun ini.

Meski demikian Capital Economics menyatakan bahwa kini hubungan bilateral yang memburuk, tampaknya bakal semakin buruk.

Kepala ekonom bidang pasar negara berkembang Capital Economics William Jackson mengatakan, mengingat para pembuat kebijaan AS dan Tiongkok telah menaikkan taruhannya maka dampak tak langsungnya bisa memukul kepercayaan, kondisi keuangan yang lebih ketat, dan risiko investasi lebih lemah menjadi semakin besar untuk pasar negara berkembang atau emerging markets (EM).

Tetapi Jackson menyimpulkan, dampak pada pasar-pasar dari rantai pasokan itu mungkin dapat dikelola, dan dengan demikian efek bersih pada ekspor EM tidak mungkin sangat besar.

 

Belum Capai Titik Puncak

Sementara Philippe Waechter, direktur riset pada Ostrum Asset Management, mengungkapkan langkah-langkah Trump telah meningkatkan risiko kemerosotan atau perpecahan.

“Tetapi kami belum berada di titik puncak. Perekonomian global sedang melambat, tetapi kita belum mencapai titik puncaknya,” pungkas dia.

Sementara, kalangan pengamat lain menyuarakan tanda bahaya yang lebih keras. Tercatat, pada akhir Juli, Dana Moneter Internasional (IMF) merevisi perkiraan pertumbuhan global 2019 yang lebih rendah menjadi 3,2%.

Kepala ekonom IMF Gita Gopinath mencatat bahwa ketegangan dapat memanas lagi dan terjadi di bidang-bidang lain (seperti industri mobil) dengan gangguan besar pada rantai pasokan global.

“Kita berada dalam lingkungan yang sangat berbahaya bagi perdagangan dunia,” kata Rajiv Biswas dari kelompok IHS Markit kepada AFP

Apabila harga impor terus naik dan devaluasi mata uang menghambat konsumsi maka Amerika Serikat bisa terkena pukulan balasan akibat ppertempuran perdagangan Trump.

“Perekonomian AS mungkin dalam keadaan lebih lemah dari yang kita bayangkan,” tambah Waechter.

Menurut laporan, ekonomi AS – yang telah menyaksikan periode pertumbuhan yang sangat panjang – ditandai oleh penciptaan lapangan kerja dan ekspor yang sama-sama mengalami penurunan.

Bahkan, The Federal Reserve (The Fed) memangkas tingkat suku bunga acuannya untuk kali pertama dalam 11 tahun pada pekan lalu namun dengan catatan dari Gubernur The Fed Jerome Powell yakni adanya risiko penurunan dari pertumbuhan global yang lemah dan ketidakpastian kebijakan perdagangan.

The Fed juga menegaskan bahwa mereka tidak dapat mengabulkan tuntutan keras Trump untuk menanggapi isu manipulasi mata uang Tiongkok.

Dalam sebuah wawancara dengan AFP pada Selasa (6/8), salahsatu anggota dewan kebijakan The Fed James Bullard berkata: “Kita tidak bisa secara realistis menggerakkan kebijakan moneter dalam perang dagang balasan.”

Tetapi Waechter mengingatkan jika perang dagang memburuk, bank sentral mungkin tidak memiliki cara yang efektif untuk menghadapinya. Karena tidak punya banyak ruang untuk bermanuver. (afp)


 

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA