Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Theresa May

Theresa May

PM May Tetapkan Pertarungan Final Brexit pada Awal Juni

PYA, Kamis, 16 Mei 2019 | 08:20 WIB

LONDON – Perdana Menteri (PM) Inggris Theresa May telah menetapkan pertarungan keempat dengan parlemen tentang kesepakatan keluar dari blok Uni Eropa (UE) pada awal Juni 2019. Langkah tersebut juga diprediksi menjadi yang terakhir bagi May sebagai pemimpin pemerintahan Inggris.

Usai bertemu pemimpin oposisi Partai Buruh Jeremy Corbyn pada Selasa (14/5) malam waktu setempat, May mengumumkan parlemen akan melakukan rangkaian pemungutan suara atas rancangan undang-undang (RUU) implementasi kesepakatan Brexit mulai 3 Juni 2019.

Tetapi Partai Buruh mmengingatkan bahwa pihaknya belum menyatakan setuju atas RUU itu. Sementara sekutu May lainnya, Irlandia Utara, menyatakan bahwa kecuali perjanjian dengan UE berubah, pihaknya tidak akan memberikan dukungan.

Para menteri di kabinet May pada pekan ini setuju bahwa kesepakatan Brexit harus disahkan sebelum liburan musim panas parlemen pada akhir Juli 2019. Inggris diharapkan dapat meninggalkan UE pada 31 Juli 2019. May telah mencapai kesepakatan dengan UE pada November 2018, mengenai syarat-syarat keluar dari keanggotaan blok tersebut. Namun kesepakatan tersebut ditolak oleh Dewan Rakyat atau House of Commons sebanyak tiga kali.

Kesepakatan Brexit yang dicapai May dengan UE mencakup kewajiban finansial Inggris, hak-hak warga negara UE, usulan masa transisi dan pengaturan untuk tetap membuka perbatasan dengan Irlandia pasca Brexit.

Ketidaksetujuan Konservatif dan sekutunya dari Irlandia Utara, Partai Unionist Demokrat (DUP), masih fokus soal rencana klausa pendukung atau backstop Irlandia. Klausa tersebut dapat membuat Inggris tetap dalam naungan aturan pabean UE pasca-Brexit, agar terhindar dari pemeriksaan perbatasan yang mungkin membahayakan perdamaian di Irlandia Utara.

Mengingat May tidak mau mengakhiri lebih dari empat dekade masa keanggotaan UE tanpa pengaturan baru, dia menunda Brexit sampai dua kali dan yang terbaru adalah masa penundaan hingga 31 Oktober 2019.

Di sisi lain, menetapkan tanggal pemungutan suara berikutnya di parlemen tanpa kesepakatan dengan Partai Buruh adalah sebuah pertaruhan. Pasalnya, jika kalah maka May tidak dapat menggelarnya lagi di masa sidang parlemen saat ini.

Tetapi Brexit yang tertunda-tunda telah menyebabkan kemarahan besar di antara anggota parlemen Partai Konservatif dan juga para pemilih. Bahkan partai tersebut harus bersiapsiap kalah dalam pemilihan Eropa pekan depan.

May sendiri berada di bawah tekanan memenuhi janjinya kepada parlemen untuk menyukseskan Brexit dan kemudian mundur guna memberi ruang bagi pemimpin baru. Pada Kamis (16/5), May dijadwalkan bertemu dengan para senior dari Partai Konser vatif yang meminta jadwal terperinci tentang pengunduran dirinya. Bahkan menteri-menteri May sudah ada yang berebut untuk menggantikan posisinya.

Keraguan Partai Buruh

May sempat membuka pembicaraan dengan Partai Buruh enam pekan lalu. Dalam pembicaraan tersebut, May mengakui adanya perlawanan keras dari kubunya sendiri. Berarti dia membutuhkan bantuan dari seluruh kubu politik untuk meloloskan kesepakatan Brexit-nya.

Namun kemajuannya dari hasil pembicaraan tersebut bergerak lambat. Juru bicara May menggambarkan perundingan yang terjadi pada Selasa lebih konstruktif meskipun Partai Buruh mengatakan diperlukan pergerakan lebih lanjut dari pemerintah. Hasil itu menuai keprihatinan bahwa setiap janji yang dibuat oleh May, semisal untuk melindungi hak-hak pekerja dengan imbalan Buruh yang mendukung kesepakatan Brexit, akan dikacaukan oleh penggantinya. (afp)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN