Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Botol kandidat vaksin Covid-19, yang dikenal sebagai AZD1222, sebagai hasil temuan bersama University of Oxford dan Vaccitech dalam kemitraan dengan raksasa farmasi AstraZeneca, pada 23 November 2020. ( Foto: john Cairns / University of Oxford / AFP )

Botol kandidat vaksin Covid-19, yang dikenal sebagai AZD1222, sebagai hasil temuan bersama University of Oxford dan Vaccitech dalam kemitraan dengan raksasa farmasi AstraZeneca, pada 23 November 2020. ( Foto: john Cairns / University of Oxford / AFP )

UE Janji Percepat Vaksinasi Covid-19

Rabu, 13 Januari 2021 | 07:07 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

DEN HAAG, investor.id – Uni Eropa (UE) telah memulai proses persetujuan untuk vaksin Covid-19 ketiganya pada Selasa (12/1). Jadwal vaksinasi akan dipercepat setelah mengonfirmasi permohonan penggunaan darurat vaksin AstraZeneca-Oxford University.

Menurut laporan, Uni Eropa yang beranggotakan 27 negara telah mendapat kecaman karena proses persetujuan yang panjang, dan lambatnya peluncuran vaksin untuk mengatasi virus corona Covid-19.

Sebelumnya, UE telah memberikan otorisasi kepada vaksin buatan Pfizer-BioNTech, dan Moderna di mana kedua vaksin merupakan hasil produksi perusahaan farmasi Amerika Serikat (AS) – salah satunya bekerja sama dengan Jerman.

Namun, badan obat-obatan UE mengatakan bahwa keputusan persetujuan vaksin ketiga masih belum akan diambil sebelum 29 Januari. Padahal vaksin tersebut sudah digunakan di negara-negara, termasuk Inggris.

Sementara itu, para ilmuwan dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan, kekebalan kelompok (herd immunity) terhadap virus corona tidak mungkin terjadi pada tahun ini, walau menggunakan skema vaksinasi massal.

Bahkan dengan vaksinasi massal, para ilmuwan WHO menyatakan bahwa cakupannya masih belum cukup luas untuk kekebalan tingkat populasi tahun ini.

“Kita tidak akan mencapai tingkat kekebalan populasi atau kekebalan kelompok pada 2021,” ujar Kepala ilmuwan WHO Soumya Swaminathan, yang dikutip AFP.

Sebagai informasi, pandemi Covid-19 dilaporkan telah menginfeksi lebih dari 90 juta orang di seluruh dunia dan menewaskan hampir dua juta penduduk. Amerika Serikat (AS) sendiri masih menjadi negara terdampak Covid-19 paling parah, dan mencatat angka kematian harian ribuan jiwa. Sedangkan rumah sakit di Eropa meningkatkan peringatan akan sumber dayanya yang berada di bawah tekanan. Negara-negara di Asia juga menghadapi peningkatan kasus infeksi.

Kabar terbaru menyebutkan, Malaysia mengumumkan keadaan darurat pada Selasa, karena meningkatnya kekhawatiran bahwa sistem kesehatannya hampir kewalahan. Pemerintah Tiongkok dan Jepang pun telah mengambil tindakan terhadap klaster setempat.

Sedangkan Tiongkok menambahkan kota berpenduduk lima juta ke area isolasi yang meluas di dekat Beijing pada Selasa. Hal ini dilakukan saat para ahli WHO tiba di pusat kota Wuhan untuk menyelidiki asal-usul penyakit Covid-19.

Aktivitas Superspreader

Menyusul saling tuding atas penanganan jangka panjang Amerika terhadap virus, anggota parlemen kembali menyuarakan kemarahannya pada Selasa atas tindakan beberapa rekan mereka selama aksi kerusuhan pekan lalu di Washington DC.

Seperti diketahui, anggota Kongres terpaksa berlindung di tempat yang aman ketika para pendukung Presiden Donald Trump mengobrak-abrik koridor gedung Capitol. Dan kini, beberapa dari anggota Kongres dinyatakan positif Covid-19 dan menyalahkan rekan-rekan mereka.

“Banyak anggota Partai Republik masih menolak untuk mengambil tindakan pencegahan Covid-19 minimal dan hanya mengenakan masker di ruangan yang padat selama pandemi. Hal ini telah menciptakan aktivitas superspreader (penularan) yang lebih luas di atas serangan teroris domestik,” kata anggota Kongres dari Partai Demokrat Pramila Jayapal, yang hasil tesnya positif Covid.

Sementara itu, Presiden terpilih AS Joe Biden – yang telah berjanji untuk mengabdikan semua sumber daya yang tersedia untuk memerangi pandemi – kembali menerima suntikan dosis kedua dari vaksin Pfizer-BioNTech pada Senin (11/1) waktu setempat.

Perusahaan Jerman BioNTech menyatakan dapat menghasilkan jutaan dosis lebih banyak dari yang diperkirakan tahun ini. Namun mereka mengingatkan bahwa Covid-19 kemungkinan menjadi penyakit endemik dan diperlukan vaksin untuk melawan varian baru.

Di sisi lain, dunia olahraga memberikan kelonggaran di tengah siklus berita suram yang terus berlanjut, di mana Inggris akan memulai uji pertandingan kriket di Sri Lanka pada Kamis (14/1), 10 bulan setelah tur dibatalkan.

Tetapi di tempat lain, banyak jadwal pertandingan yang berantakan dan pertemuan terkait krisis masih menjadi rutinitas sehari-hari. Panitia penyelenggara Olimpiade Tokyo terpaksa menepis spekulasi bahwa acara musim panas ini akan segera dibatalkan, menyusul hasil jajak pendapat yang menunjukkan turunnya dukungan publik.

Ajang Formula One juga mengumumkan perombakan jadwal besar-besaran pada balapan musim depan, Selasa. Di antaranya menggeser Grand Prix Australia pembuka musim dari Maret menjadi November, dan menunda jadwal di Tiongkok tanpa batas waktu.

Di sisi lain, para pencinta lingkungan meningkatkan kewaspadaan atas dampak jangka panjang pandemi.

Ashley Fruno, sebagai pegiat kampanye dari kelompok hak asasi hewan PETA, memperingatkan masker-masker yang dibuang – di saluran air dan pantai yang mengotori di seluruh dunia – dapat memakan waktu ratusan tahun untuk hancur dan merusak habitat hewan.

“Masker tidak akan hilang dalam waktu dekat. Tapi jika kita membuangnya, barang-barang ini dapat merusak lingkungan dan hewan yang hidup berbagi planet dengan kita,” kata Fruno.


 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN