Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Perdana Menteri Jean Castex saat menggelar konferensi pers tentang situasi virus corona Covid-19 di Prancis, di Hotel de Matignon, Paris pada 27 Agustus 2020. ( Foto: CHRISTOPHE ARCHAMBAULT / AFP / POOL )

Perdana Menteri Jean Castex saat menggelar konferensi pers tentang situasi virus corona Covid-19 di Prancis, di Hotel de Matignon, Paris pada 27 Agustus 2020. ( Foto: CHRISTOPHE ARCHAMBAULT / AFP / POOL )

Warga Eropa Wajib Tunjukkan Negatif Covid

Senin, 19 Juli 2021 | 06:41 WIB
Grace Eldora (grace.eldora@beritasatumedia.com)

PARIS, investor.id – Pemerintah Prancis pada Sabtu (17/7) mengatakan bakal mewajibkan orang-orang yang belum mendapat vaksinasi lengkap, dan datang dari beberapa negara di Eropa, untuk menunjukkan surat hasil tes negatif Covid-19 yang diambil 24 jam sebelumnya.

Dalam pernyataannya, Perdana Menteri Prancis Jean Castex mengatakan warga negara yang datang dari Inggris, Spanyol, Portugal, Siprus, Yunani dan Belanda akan diminta menaati aturan baru, yang berlaku pada Sabtu tengah malam hingga Minggu (18/7).

Hingga saat ini, warga yang datang dari Inggris diharuskan menunjukkan tes negatif yang diambil dalam 48 jam terakhir. Sementara warga yang datangn dari Spanyol, Portugal, Siprus, Belanda dan Yunani harus menunjukkan tes yang diambil dalam waktu 72 jam.

Castex menambahkan, hanya warga yang telah divaksin lengkap dengan vaksin yang diakui oleh Badan Obat-obatan Eropa (European Medicines Agency) – yakni Pfizer/BioNTech, Moderna, AstraZeneca atau Johnson & Johnson – tidak akan diminta menunjukkan tes.

Pernyataan menyebutkan, pengecualian itu diberlakukan karena vaksin tersebut efektif melawan virus, khususnya variannya Delta.

“Prancis akan mempertimbangkan orang-orang yang sudah divaksinasi penuh sepekan setelah menerima dosis kedua vaksin Pfizer-BioNTech, Moderna dan AstraZeneca, alih-alih 14 hari sebelumnya, dan 28 hari setelah mendapat vaksin Johnson & Johnson,” ujar Castex, yang dikutip AFP.

Di samping itu, kini Prancis juga akan menerima vaksin Covishield – yakni vaksin AstraZeneca yang dibuat di Serum Institute of India – yang telah mendapat izin kesehatan.

Pemerintah juga mengatakan akan menambahkan negara Tunisia, Mozambik, Kuba dan Indonesia ke dalam daftar merah Prancis.

Perjalanan dari negara-negara yang amasuk daftar merah hanya diperbolehkan, atas alasan mendesak. Bahkan para pelancong yang telah divaksinasi harus menjalani isolasi mandiri selama tujuh hari.

Kenaikan Eksponensial Kasus

Langkah-langkah baru tersebut diumumkan di saat beberapa negara Eropa memerangi peningkatan beban kasus yang disebabkan penularan varian Delta menular, yang telah menguasai benua.

Kasus-kasus infeksi baru di Prancis mengalami kenaikan dalam beberapa pekan terakhir dan mencapai hampir 11.000 pada Jumat (16/7). Hal ini terjadi di sela-sela tindakan pemerintah untuk memberikan vaksin kepada penduduk.

Presiden Prancis Emmanuel Macron mengatakan, izin kesehatan vaksin akan diperlukan untuk masuk ke sebagian besar tempat umum. Semua petugas kesehatan harus menerima vaksinasi lengkap sehingga memicu banyak warga yang bergegas membuat janji vaksinasi.

Sejauh ini ada sekitar 35,5 juta orang, lebih dari separuh penduduk Prancis, yang telah menerima setidaknya satu dosis vaksin.

Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Eropa (ECDC) pada pekan lalu telah memperkirakan terjadi lonjakan tajam jumlah kasus virus corona di benua itu hampir lima kali lebih banyak infeksi baru pada 1 Agustus.

Dalam upaya mengendalikan jumlah yang meningkat, wilayah Prancis Pyrenees-Orientales akan menutup bar, restoran, tempat pantai, dan toko makanan pada pukul 23.00 waktu setempat, mulai dari 17 Juli hingga 2 Agustus. Demikian menurut pengumuman otoritas prefektur.

Langkah itu dilakukan setelah kasus di wilayah tersebut melonjak dalam satu minggu dari 41,5 kasus per 100.000 orang menjadi 258,8 kasus per 100.000 orang.

“Perkembangan eksponensial ini mulai diterjemahkan ke dalam jumlah rawat inap yang sama-sama meningkat,” kata pejabat prefektur seraya memperingatkan.

Wilayah itu pada 16 Juli telah mewajibkan penggunaan masker di semua ruang publik, kecuali pantai dan ruang terbuka luas. Larangan konsumsi alkohol di ruang publik, di luar bar dan restoran, juga diberlakukan.

Wisatawan yang frustrasi dan pemimpin industri travel bertemu dengan pemerintah Inggris pada akhir pekan lalu, setelah perubahan menit terakhir mempertahankan karantina bagi penduduk yang kembali ke Inggris dari Prancis.

Sebelumnya diputuskan, mulai Senin (19/7) pemerintah Inggris berencana mencabut sebagian besar pembatasan pandemi pada kehidupan sehari-hari di Inggris. Penduduk yang divaksinasi penuh tidak lagi harus dikarantina setelah bepergian ke negara tujuan daftar kuning di Eropa.


 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN