Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Direktur Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Eropa, Hans Kluge. ( Foto: RITZAU SCANPIX /AFP /VIA GETTY IMAGE )

Direktur Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Eropa, Hans Kluge. ( Foto: RITZAU SCANPIX /AFP /VIA GETTY IMAGE )

WHO: Lonjakan Kasus di Eropa Memprihatinkan

Jumat, 16 Oktober 2020 | 07:34 WIB
Grace Eldora (grace.eldora@beritasatumedia.com)

KOPENHAGEN, investor.id - Melonjaknya jumlah kasus Covid-19 di Eropa sangat memprihatinkan. Tetapi menurut kantor regional Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), situasinya masih lebih baik daripada puncak pandemi pada April lalu.

"Jumlah kasus harian meningkat, penerimaan rumah sakit meningkat. Covid sekarang menjadi penyebab kematian kelima dan ambang 1.000 kematian per hari sekarang telah tercapai," Direktur Regional WHO untuk Eropa Hans Kluge mengatakan pada konferensi pers, Kamis (15/10), seperti dilansir AFP.

Namun ia menekankan, saat ini regional Eropa tidak dalam situasi yang dialami pada Maret dan April.

"Meski kami mencatat dua hingga tiga kali lebih banyak kasus per hari dibandingkan puncak April, kami masih mengamati lima kali lebih sedikit kematian. Sementara dua kali lipat waktu rawat inap di rumah sakit masih dua sampai tiga kali lebih lama," ujar Kluge.

Ia mengatakan, bagian dari peningkatan tersebut dapat dilacak ke tingkat pengujian yang lebih tinggi di antara orang-orang yang lebih muda. Sedangkan tingkat kematian yang lebih rendah dapat dijelaskan oleh penyebaran virus pada kelompok yang lebih muda dan kurang rentan.

Namun Kluge menambahkan, jika tindakan terhadap virus dilonggarkan, proyeksi menunjukkan tingkat kematian pada Januari 2021 bisa mencapai empat hingga lima kali lipat dari yang tercatat April 2020.

Sebaliknya, tindakan sederhana seperti penggunaan masker yang meluas ditambah dengan kontrol ketat atas pertemuan sosial bisa menyelamatkan lebih dari 280.000 nyawa pada Februari 2021.

Sementara Kluge mengatakan bahwa sudah waktunya untuk meningkatkan tindakan, ia menekankan strategi ini harus dilakukan secara bertahap. Menurutnya, apa yang disebut penguncian enam bulan lalu, yakni penutupan di setiap sudut masyarakat dan ekonomi telah terhenti, tidak sama dengan yang seharusnya saat ini diterapkan.

Kluge mendorong pemerintah untuk tidak menahan tindakan yang relatif lebih kecil, untuk menghindari tindakan sama yang sangat menyakitkan dan merusak. "Kerusakan tambahan pada orang-orang itu terlalu banyak," katanya.

Karena itu, keputusan tentang tindakan nasional juga harus mempertimbangkan faktor-faktor seperti kesehatan mental dan kekerasan dalam rumah tangga.

Eropa, yang pernah dibandingkan dengan Amerika Serikat (AS) dalam penanganan pandemi, ditelan oleh gelombang kedua infeksi dengan rata-rata lebih dari 100.000 infeksi baru per hari sepanjang pekan lalu. Saat ini Eropa menyumbang sekitar sepertiga dari kasus baru yang dilaporkan di seluruh dunia.

Sebagai tanda paling jelas dari situasi yang memburuk, Presiden Prancis Emmanuel Macron pada Rabu (14/10) memberlakukan jam malam mulai 09:00 malam hingga 06:00 pagi di wilayah Paris dan delapan wilayah metropolitan lainnya, yang akan dimulai Sabtu (17/10).

"Virus ada di mana-mana di Prancis," katanya kepada publik Prancis, saat menyatakan keadaan darurat negara.

Kenaikan jumlah kasus juga telah mendorong para pejabat untuk menutup bar dan klub di Praha dan Liverpool, sementara warga yang melakukan pertemuan tatap muka di ruang publik Amsterdam diwajibkan menggunakan masker.

Di Rusia, yang melaporkan kenaikan harian terbesar dalam infeksi pada Rabu, Presiden Vladimir Putin mencari perlindungan dari semburan berita buruk, dengan mengumumkan pemerintah telah menyetujui vaksin kedua.

Kanselir Jerman Angela Merkel menangkap suasana cemas dengan lebih baik dengan pernyataannya pada Selasa (13/10). “Saya menyaksikan dengan penuh perhatian, peningkatan baru dalam jumlah infeksi di hampir setiap bagian Eropa. Kita tidak boleh membuang apa yang telah kita capai melalui pembatasan selama beberapa bulan terakhir," tegasnya.

Perawat sedang memeriksa pasien seorang wanita lanjut usia yang diduga terinfeksi Covid-19 di layanan darurat rumah sakit Andre Gregoire di Montreuil timur Paris, Prancis pada 15 Oktober 2020. ( Foto: CHRISTOPHE ARCHAMBAULT / AFP )
Perawat sedang memeriksa pasien seorang wanita lanjut usia yang diduga terinfeksi Covid-19 di layanan darurat rumah sakit Andre Gregoire di Montreuil timur Paris, Prancis pada 15 Oktober 2020. ( Foto: CHRISTOPHE ARCHAMBAULT / AFP )

Tidak Mengejutkan

Sampai batas tertentu, kemunduran Eropa bukanlah kejutan. Pakar kesehatan masyarakat sudah lama memperingatkan virus itu bisa meraung kembali ketika iklim semakin dingin, mendorong orang tetap di dalam ruangan, di mana risiko penularan jauh lebih besar.

Di beberapa negara Eropa, penguncian dicabut secara tiba-tiba, menabur rasa puas diri di antara orang-orang yang merasakan bisa kembali ke kehidupan normal mereka. Dalam menghadapi tekanan politik yang intens, para pemimpin Eropa enggan memberlakukan penguncian baru yang merusak secara ekonomi, sering kali memilih tindakan seringan mungkin.

Bagi Jerman dan segelintir negara tetangganya, gelombang kedua ini secara khusus mendemoralisasi karena mereka telah menavigasi gelombang pertama dengan relatif baik.

Pada akhir Juni, orang-orang bersuka ria di Praha merayakan akhir dari wabah dengan pesta makan malam di Jembatan Charles. Spanyol dan Italia, yang terpukul keras pada Maret dan April, membuka pintu bagi wisatawan pada Juli dan Agustus. 

 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN