Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Bendera Uni Eropa terlihat berkibar di luar markas Komisi Eropa di Brussels, Belgia, pada 25 Desember 2020. ( Foto: Fran

Bendera Uni Eropa terlihat berkibar di luar markas Komisi Eropa di Brussels, Belgia, pada 25 Desember 2020. ( Foto: Fran

Zona Euro Kembali Resesi

Senin, 3 Mei 2021 | 06:37 WIB
Grace Eldora (grace.eldora@beritasatumedia.com)

BRUSSELS, investor.id - Ekonomi zona euro jatuh ke dalam resesi kedua dalam waktu kurang dari setahun pada kuartal pertama 2021. Seiring melambatnya program vaksinasi Covid-19 dan karantina-karantina baru telah menghentikan pemulihan.

Situasi yang disebut double dip recession itu adalah resesi ekonomi yang kembali terjadi setelah kondisi ekonomi di periode sebelumnya menunjukkan tanda-tanda pemulihan.

Penurunan 0,6% dalam produk domestik bruto (PDB) kuartalan pada triwulan pertama 2021 itu mengikuti kontraksi 0,7% dalam tiga bulan terakhir 2020. Hasil tersebut menjerumuskan zona mata uang tunggal tersebut ke dalam resesi teknikal, yang didefinisikan sebagai pertumbuhan negatif dalam dua kuartal berturut-turut.

Data tersebut sangat kontras dengan Amerika Serikat (AS), yang mana pertumbuhan ekonominya melesat pada periode yang sama, dengan mencatatkan pertumbuhan tahunan 6,4%. Pada Kamis (29/4), AS melaporkan pertumbuhan kuartal pertama 1,6% dari tiga bulan sebelumnya.

Tiongkok juga telah bangkit dari dampak pandemi Covid-19. Ditandai lonjakan PDB tahunan hingga 18,3% pada kuartal I 2021 dan dua pekan lalu mengumumkan ekspansi 0,6%.

Sementara Eropa terpukul keras oleh gelombang kedua dan ketiga infeksi virus Covid-19. Banyak upaya untuk membuka kembali ekonomi terputus oleh infeksi baru tersebut.

Namun data-data terbaru telah memberi kepercayaan Eropa bahwa resesi ini akan berumur pendek. Hasil-hasil survei menunjukkan sektor manufaktur Eropa sekarang berkembang pesat.

Ditambah kampanye vaksinasi tetap berjalan, sisi permintaan diperkirakan naik lagi. Karena penduduk Eropa diperkirakan mulai menghabiskan lebih banyak uang untuk belanja. Selain itu, restoran dan pariwisata kembali dibuka.

Walau pemulihan bergerak lambat, namun ekonomi UE dianggap berjalan sesuai lajurnya. Optimisme ini memberikan dorongan yang sangat dibutuhkan negara-negara di belahan selatan yang ekonominya hancur akibat pandemi, seperti Italia atau Spanyol.

Sementara itu, Jerman menjadi penghambat utama pertumbuhan pada periode Januari hingga Maret 2021. Sisi ekspor Jerman tidak mampu mengatasi penurunan tajam permintaan konsumen. Jerman mencatat kontraksi triwulanan sebesar 1,7% karena penurunan konsumsi rumah tangga, sehingga menekan ekspor manufaktur yang tumbuh.

Pada periode yang sama, PDB Spanyol kontraksi 0,5% karena penurunan konsumsi rumah tangga dan manufaktur. Sedangkan ekonomi Italia turun 0,4% karena penurunan aktivitas sektor jasa.

Kepala riset makro di ING Carsten Brzeski mengatakan, kemunduran besar Jerman pada kuartal pertama telah mengubahnya dari pendorong pertumbuhan positif menjadi faktor penahan. Namun ia menambahkan bahwa dalam waktu dekat akan bangkit.

“Perekonomian pada kuartal pertama terbukti kurang elastis karena pembatasan-pembatasan dibandingkan musim semi lalu. Kami melihat aktivitas akan bangkit tahun ini, sejalan dengan peningkatan vaksinasi dan pelonggaran pembatasan secara bertahap,” kata Maddalena Martini, ekonom Oxford Economics.

 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN