Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
CEO Dagangan, Ryan Manafe (ist)

CEO Dagangan, Ryan Manafe (ist)

CEO Dagangan, Ryan Manafe

Tindakan Lebih Berbunyi Dibandingkan Kata-Kata

Senin, 23 Agustus 2021 | 13:00 WIB
Totok Subagyo (totok_hs@investor.co.id)

Banyak cara untuk mengabdi dan berkontribusi kepada bangsa dan negara. Salah satunya melalui platform digital yang dapat menjembatani kesenjangan ekonomi antara masyarakat perkotaan dan perdesaan. 

Itulah alasan idealis kenapa Ryan Manafe mendirikan Dagangan, platform digital untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari masyarakat. Karena idealismenya itu pula, Ryan meninggalkan Surya Utama Nuansa (SUN) Energy, perusahaan energi baru dan terbarukan (EBT) yang ia rintis dan menjadi perusahaan EBT terbesar di Indonesia.

Lelaki berdarah Rote, NTT, tetapi besar dalam balutan budaya Jawa ini sejatinya bercita-cita menjadi pilot pesawat tempur TNI AU. Cita-citanya kandas karena tak mendapat restu orang tua.

Namun, Ryan Manafe sudah menemukan jalan untuk tetap bisa menyalurkan semangat yang sama di balik cita-citanya mengabdi kepada bangsa dan negara.

“Harapan kami, Dagangan bisa ikut mendorong terciptanya equality, atau setidaknya mengurangi gap antara masyarakat perkotaan dan perdesaan, sehingga perekonomian nasional tumbuh lebih berkualitas,” ujar dia.

Dagangan maju pesat. Hanya dalam tempo dua tahun, aplikasi anak bangsa itu telah memiliki puluhan ribu mitra dan customer yang tersebar di lebih dari 4.000 desa di Yogyakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Barat.

Ryan Manafe adalah pemimpin yang mengedepankan suri teladan. Bagi eksekutif ini, memimpin yang paling efektif adalah dengan memberi contoh. “Tindakan lebih efektif, lebih bunyi dibandingkan kata-kata. Memimpin dengan memberi contoh,” kata dia.

Berikut penuturan lengkap Founder dan Chief Executive Officer (CEO) Dagangan itu kepada wartawan Investor Daily, Totok Hari Subagyo di Jakarta, belum lama ini:

Bagaimana perjalanan karier Anda hingga mendirikan Dagangan?

Sebenarnya cita-cita saya sewaktu SMA adalah menjadi anggota TNI AU. Saya ingin menjadi penerbang pesawat tempur. Apalagi saya dulu bersekolah di SMA Taruna Nusantara, Magelang, yang semi militer. Saya pun sempat mendaftar di Akademi Angkatan Udara dan diterima, sayangnya tidak diizinkan oleh orang tua. Akhirnya saya lanjut kuliah.

Cita-cita Anda padam begitu saja?

Cita-cita menjadi tentara dan bisa berkontribusi kepada bangsa dan negara tidak padam. Sejak SMA saya sudah menyukai salah satu quote mantan Presiden Amerika Serikat, John F Kennedy, “Jangan tanyakan apa yang negara berikan kepada kamu, tetapi apa yang kamu lakukan untuk negara.”

Seiring berjalannya waktu, saya mulai mengubah paradigma cara mengabdi kepada negara. Pada 2012, saya berkesempatan magang di Unit Kerja Presiden Bidang Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan (UKP-PPP) yang dipimpin Pak Kuntoro Mangkusubroto (mantan menteri pertambangan dan energi). Beliau adalah idola saya sejak kuliah dan banyak memberikan inspirasi.

Di lembaga itu, saya kian melihat dimensi yang begitu banyak untuk bisa mengabdi dan berkarya kepada Tanah Air. Terlebih ketika saya dilibatkan dalam salah satu proyek di UKP-PPP yang tidak sepenuhnya komersial, bersama McKinsey & Company sebagai konsultan.

Saya sudah masuk radar McKinsey, karena sewaktu kuliah menjadi salah satu pemuda yang mendapatkan kehormatan mengikuti program Young Leaders for Indonesia (YLI) McKinsey. Akhirnya saya memutuskan gabung McKinsey.

Namun saya sempat lanjut kuliah master dulu di Prasetya Mulia karena mendapatkan beasiswa. Di McKinsey, wawasan saya bertambah luas karena menjelajahi beberapa tempat di Indonesia dan luar negeri, melayani berbagai klien dari beragam industri.

Nilai-nilai apa yang Anda dapatkan?

Mata saya kian terbuka lebar bahwa ada potensi besar yang belum dioptimalkan di daerah. Di berbagai sentra pertambangan atau perkebunan di Sumatera dan Indonesia timur, misalnya, perekonomian tak berkembang karena uang karyawan tidak dikelola atau dibelanjakan di daerah setempat.

Akhirnya saya berpikir, daerah di tier 3 dan tier 4 atau wilayah rural dan suburban, wilayah perdesaan dan pinggir kota, perlu dimaksimalkan. Setelah tiga tahun di McKinsey, saya keluar karena mendapat tawaran membangun bisnis energi baru dan terbarukan (EBT), dengan bendera Surya Utama Nuansa (SUN) Energy pada 2016. Saya bangun dari nol sampai saya tinggal pada 2019. Saya berani bilang SUN Energy adalah perusahaan EBT terbesar di Indonesia dan lahir 100% dari Indonesia.

Saat itu saya kembali tersadar bahwa dalam visi saya ada 'panggilan' untuk memaksimalkan potensi daerah yang belum terakomodasi. Pada saat bersamaan, muncul fenomena bertumbuhnya perusahaan-perusahaan rintisan (startup) secara luar biasa, bahkan sudah ada yang melangsungkan penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham. Namun sayangnya belum ada startup yang menyentuh tier 3 dan tier 4.

Itu yang mendorong Anda mendirikan Dagangan?

Ya, pada 2019 saya dengan teman-teman mendirikan Dagangan, startup yang dari namanya saja sudah Indonesia banget. Masyarakat tier 3 dan tier 4 memang butuh marketplace dan sudah bisa memanfaatkannya. Tetapi yang menjadi masalah adalah beban ongkos kirim. Apalagi mereka terbiasa membeli dengan frekuensi sering tetapi nilai transaksinya tidak terlalu besar. Dagangan fokus memfasilitasi gap ini.

Jadi, ada alasan idealis untuk mendirikan Dagangan?

Betul. Ternyata tidak hanya masyarakat pengguna aplikasi kami yang menjadi buyer, masyarakat yang punya produk lokal pun ikut menjadi penjual (seller). Talenta-talenta daerah akhirnya menjadi tim Dagangan.

Semua terdampak Dagangan. Tidak hanya secara finansial, tetapi lebih dalam lagi, mereka lebih semangat, tidak minder, tetap bisa bekerja dengan baik di daerah, dan kualitas hidup mereka pelan-pelan naik akibat meningkatnya pendapatan.

Harapan besar kami akan tercipta equality, atau setidaknya berkurangnya gap antara masyarakat perkotaan dan perdesaan, baik gap pendapatan, kualitas kerja, kualitas produk, maupun akses terhadap produk dan layanan.

Ketika gap ini sudah bisa ditutup layanan kami, masyarakat daerah bukan hanya bisa menikmati apa yang dinikmati masyarakat kota, tetapi juga pertumbuhan ekonomi di daerah bisa menyamai, bahkan melampaui perkotaan, sehingga perekonomian nasional tumbuh lebih berkualitas.

Kiat Anda mencapai kesuksesan?

Ada satu prinsip yang saya pegang. Saya dibesarkan oleh eyang uti (nenek), yang Jawa tulen. Maka saya di rumah juga diajak ngomong Jawa kromo inggil, walau casing saya sangat Indonesia timur. Saya bermarga Manafe dari Rote, pulau paling selatan di Indonesia.

Karena saya dibesarkan oleh nenek yang Jawa tulen, maka dalaman, filosofi dan jiwa saya, kental Jawa. Filosofi yang saya pegang, pertama adalah urip iku urup. Hidup itu harus bisa bermanfaat bagi orang lain. Filosofi ini saya terjemahkan menjadi cita-cita untuk menjadi orang yang berdampak dan berkontribusi bagi negara.

Filosofi kedua, Gusti mboten sare. Tuhan tidak tidur. Dunia makin ke sini, tidak bisa dimungkiri makin jahat. Makin banyak orang licik, tipu-tipu. Sampai ada orang yang menilai, karena dunia makin jahat, dia juga harus ikutan jahat agar tidak tertelan dunia.

Kalau tulus, melakukan sesuatu yang baik, kita akan tetap lurus, walau ada niat-niat yang kurang pas, seperti ingin mendapatkan ketenaran atau keuntungan pribadi. Sebab, Tuhan akan membantu memurnikan niat kita dan menghidarkan dari hal-hal jahat. Walau tidak mudah, saya mencoba untuk tetap lurus.

Dalam diri saya juga mengalir darah orang Indonesia timur, yang sifatnya keras kepala. Determinasi itu kata bagus untuk keras kepala. Saya akan kukuh memperjuangkan sesuatu yang menurut saya baik. Saya berhenti bila sampai saya betul-betul disadarkan bahwa itu salah.

Saya keras kepala, tetapi untungnya juga tertanam norma-norma, sehingga walau keras kepala tidak sampai melanggar norma-norma itu. Jadi, ada keseimbangan diri. Semoga, karena saya juga masih dalam proses belajar.

Nilai-nilai itu Anda terapkan juga di Dagangan?

Saya ingin perasaan yang sama, keyakinan yang sama, ada di setiap orang yang bergabung dengan Dagangan. Dasar bergabung dan tumbuh bersama Dagangan adalah kepedulian bersama dan kerinduan bersama untuk melihat saudara-saudara kita di daerah punya kehidupan yang lebih baik.

Dagangan bukan perusahaan saya, bukan milik siapa-siapa. Dagangan adalah milik pergerakan. Siapa pun Anda, dari mana pun Anda, kalau punya kepedulian dan ingin bergabung, silakan.

Kiat kepemimpinan Anda?

Yang paling efektif itu menjadi teladan. Bagi saya, tindakan lebih efektif, lebih bunyi dibandingkan kata-kata. Memimpin dengan memberi contoh. Tetapi saya pun membuka diri terhadap masukan apabila tindakan, ucapan, dan keputusan saya tidak sesuai dengan budaya kerja, nilai, dan filosofi perusahaan.

Saya juga tekankan, tentu kami mau Dagangan tumbuh menjadi unicorn atau decacorn. Tapi, yang nomor satu bagi kami adalah memastikan apa yang kami lakukan betul-betul berdampak.

Kedua, karena kami bukan yayasan atau badan amal yang memberikan charity, kami harus memiliki bottom line yang jelas. Keseimbangan ini yang harus kami jaga. Di satu sisi, kami harus berdampak. Di sisi lain, kami bertanggung jawab kepada investor, memastikan mereka mendapatkan haknya.

Positioning Dagangan?

Kami beda dengan perusahaan rintisan teknologi (tech startup) lain yang umumnya fokus di kota besar, layanannya untuk kebutuhan sekunder dan tersier, serta fokus di aplikasi. Dagangan tidak sepenuhnya seperti itu. Kami punya infrastruktur yang dikelola, punya talenta-talenta di daerah, dan tidak 100% fokus di aplikasi. Juga ada sistem, komunitas, serta jaringan yang harus kami bangun dan jaga.

Kebanyakan marketplace atau tech startup mengandalkan pihak ketiga untuk mengurus beberapa operasional dan logistik. Di Dagangan, itu kami kelola, kami kontrol, namun tetap ada pihak ketiga yang menjalankan, yaitu masyarakat, baik dalam bentuk entitas lokal maupun individu. Kami punya beberapa opsi mekanisme kemitraan.

Kinerja Dagangan saat ini?

Size kami sudah 20 kali lipat dalam dua tahun. Mungkin ada yang lebih cepat dari kami, tapi kalau dibilang lambat saya rasa juga tidak. Apalagi ini terjadi di tengah pandemi Covid-19. Semoga pandemi segera berakhir sehingga kita bisa bersama-sama membenahi perekonomian negara ini.

Target Dagangan ke depan?

Target kami tidak hanya beroperasi di Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Jawa Barat, tetapi ke seluruh Pulau Jawa dan seluruh Indonesia. Bahkan saya ingin menduplikasi ini ke negara lain di Asia Tenggara.

Apalagi sebagai aplikasi buatan anak bangsa, kami baru saja mendapatkan pendanaan pra seri A dari sejumlah investor lokal maupun regional, termasuk CyberAgent Capital, Spiral Ventures, 500 Startups, dan Blue Bird Group. Pendanaan ini merupakan awal menuju pendanaan selanjutnya untuk memperoleh pendanaan Seri A.***

 

CEO Dagangan, Ryan Manafe (ist)
CEO Dagangan, Ryan Manafe (ist)

Menjaga Keseimbangan

Ryan Manafe adalah penggemar berat otomotif. Ia hobi memodifikasi mobil. Juga gemar berkeliling daerah, mengendarai sendiri mobilnya. Kegemaran itu tentu kini terhenti dulu akibat Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM).

“Karena lebih banyak kerja dari rumah, sekarang ya kadang utak-atik mobil beneran atau bersama anak oprek-oprek miniatur mobil. Anak cowok saya yang masih di playgroup sudah suka otomotif,” tutur dia.

Ryan sekarang bisa lebih sering berkumpul dengan keluarga, sambil tetap kerja online. Maklum, kegiatannya di kala normal amat padat. Selain urusan Dagangan, ia mengisi kuliah tamu dan menjadi mentor mahasiswa S2 di Universitas Prasetiya Mulya.

Walaupun tidak terlalu aktif, ia juga kerap membantu kegiatan alumni SMA Taruna Nusantara. “Sisanya ya main sama anak. Saya senang main dengan anak, sama cowoknya dan sama ‘preman'-nya. Bapak dan anak mainnya ekstrem. Mamanya yang suka khawatir,” kata dia.

Ryan bersyukur istrinya memahami dan mendukungnya. “Istri saya tahu apa yang saya perjuangkan. Dia sangat mendukung saya, sama seperti saya mendukungnya,” ujar Ryan, mengapresiasi istrinya yang sekarang bekerja di Indonesia Ocean Justice Initiative (IOJI), lembaga swadaya masyarakat (LSM) bentukan Susi Pudjiastuti, mantan Menteri Kelautan dan Perikanan. (ts)


Biodata

Nama : Ryan Manafe

Pendidikan:

- Teknik Industri, Universitas Indonesia (UI).

- Master of Management (MM) Finance, General - Prasetiya Mulya Business School.

Karier:

* Dagangan:

- Founder & CEO (Mei 2019 - sekarang).

* SUN Energy:

- Komisaris (November 2019 - sekarang).

- Co-Founder & CEO (Juli 2016 - November 2019).

* McKinsey & Company:

- Konsultan (November 2014 - Juni 2016).

- Analis (Agustus 2013 - Oktober 2014).

* PT Visi Integra:

- Direktur (Desember 2012 - Juli 2013).

* Asia Kapitalindo Futures:

- Asia Kapitalindo Futures nalis (anal Juni 2010 - Agustus 2010).

* Allianz

- Asisten konsultan keuangan (Juni - September 2008).

* Prestasi:

- Kemenlu: Duta Pemuda Asean, wakil Indonesia di Forum Pemuda Asean (Desember 2009 - Juli 2011).

Editor : Abdul Aziz (abdul_aziz@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN