Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Natali Ardianto (ist)

Natali Ardianto (ist)

Natali Ardianto, CEO Lifepack & Jovee

Anda Ingin Dikenang sebagai Apa?

Senin, 30 Agustus 2021 | 12:30 WIB
Mardiana Makmun (mardiana@investor.co.id)

Apa yang Anda inginkan saat orang-orang mengingat Anda? Lebih tepatnya, Anda ingin dikenang sebagai apa? Jawabannya pasti bermacam-macam.

Tapi Natali Ardianto hanya menginginkan satu hal. “Saya ingin diingat sebagai orang yang helpful,” kata Chief Executive Officer (CEO) Lifepack & Jovee itu kepada wartawati Investor Daily, Mardiana Makmun di Jakarta, baru-baru ini.

Jovee adalah layanan langganan suplemen dan vitamin berbasis aplikasi. Sedangkan Lifepack merupakan apotek online dengan layanan langganan obat pertama di Indonesia. Keduanya dikembangkan dan dimiliki PT Indopasifik Teknologi Medika Indonesia (ITMI).

Karena Lifepack dan Jovee bergerak di bidang kesehatan, wajar jika Natali Ardianto juga ingin dikenang sebagai orang yang peduli pada kesehatan masyarakat.

“Mungkin di masa-masa Covid-19 ini, saya ingin diingat sebagai orang yang pernah menyelamatkan nyawa seseorang melalui obat-obat yang kami kirimkan ke pintu rumah pasien,” ujar Co-founder & CEO PT Indopasifik Teknologi Medika Indonesia tersebut.

Di dunia teknologi informasi (TI) dan perusahaan rintisan berbasis teknologi (startup), nama Natali Ardianto sudah tak asing. Ia turut membidani kelahiran sejumlah startup di Tanah Air, dari mulai Urbanesia.com, Golfnesia.com, StartupLokal, Ayoklik, Tiket.com, hingga EmasDigi.com (Pluang.com).

Jika Natali tak bisa dipisahkan dari dunia TI, itu semata-mata karena ia memiliki dua karakter yang sangat lekat dengan bidang tersebut, yaitu inovatif dan menyukai tantangan atau hal-hal baru.

“Selama 13 tahun saya menjadi entrepreneur, tidak satu pun yang vertikalnya sama. City directory, golf, travel, financial, dan sekarang health. Di setiap perusahaan, saya belajar banyak mengenai industri-industri tersebut. Saya memiliki kecenderungan untuk melakukan problem solving secara inovatif,” papar dia.

Natali berhasil menyelesaikan sebagian besar masalah yang dihadapinya karena ia selalu berpatokan pada tujuan akhir saat memulai sesuatu.

Begin with the end in mind,” tutur Natali, mengutip salah satu kredo yang ditulis Stephen Covey dalam bukunya yang dinobatkan sebagai salah satu buku manajemen paling berpengaruh di dunia, The Seven Habits of Highly Effective People.

Dalam soal kepemimpinan, Natali Ardianto adalah tipe pemimpin yang kolaboratif. Ia dikenal dekat dengan para karyawan. “Pimpinan tidak selalu benar,” tegas dia. Berikut petikan lengkapnya:

Bisa cerita perjalanan karier Anda hingga sampai pada posisi saat ini?

Dari SD saya sudah sangat tertarik pada dunia pengembangan situs, sehingga pengalaman saya sudah sangat banyak, terutama ketika saya kuliah di Fakultas Ilmu Komputer, Universitas Indonesia (UI). Di situ saya membangun lebih dari dua lusin situs untuk perusahaan dalam negeri dan luar negeri.

Begitu lulus pada 2004, saya meniti karier dari nol. Saya meniti karier selama empat tahun, diawali dari staf hingga manajer di berbagai perusahaan digital, seperti digital instructor, konsultan, hingga digital strategist.

Lalu saya berkesempatan memulai perjalanan entrepreneur saya pada 2008 sebagai co-founder dan CTO (chief technology officer) di Urbanesia.com, sebuah city directory digital. Urbanesia.com saat ini sudah diakuisisi grup Kompas Gramedia.

Setelah itu, dengan investasi dari Jepang, saya menjadi co-founder dan CTO Golfnesia.com, sebuah situs reservasi golf. Inspirasinya datang dari Jepang bahwa 70% booking golf di Jepang dilakukan secara online. Namun, karena perbedaan budaya dan kebiasaan, saya move on setelah menjalankannya selama delapan bulan.

Lalu dengan co-founder yang lain, kami membangun Tiket.com dari nol. Di sini kami beruntung karena timing-nya tepat dan kami punya tim yang solid. Maka Tiket.com bisa bertumbuh secara pesat. Pada tahun ketujuh, Tiket.com diakuisisi penuh oleh Djarum Group. Pada tahun yang sama, saya memutuskan untuk mengundurkan diri.

Tidak lama, saya didapuk menjadi co-founder dan CTO EmasDigi.com yang kini rebranding menjadi Pluang.com. Saya resign 11 bulan kemudian karena saya ditawari posisi baru yang tidak bisa saya tolak.

Namun sebelum saya resign, Pluang.com berhasil mendapatkan investasi dari Go-ventures. Kini saya running Lifepack.id dan Jovee.id sebagai chief executive officer (CEO) dan co-founder.

Anda mendirikan banyak perusahaan, apa yang dicari?

Saya sangat suka tantangan dan hal-hal baru. Selama 13 tahun saya menjadi entrepreneur, tidak satu pun yang vertikalnya sama. City directory, golf, travel, financial, dan sekarang health.

Di setiap perusahaan, saya belajar banyak mengenai industri-industri tersebut. Karena saya baru di industri tersebut, saya memiliki kecenderungan untuk melakukan problem solving secara inovatif.

Jika kita sudah terlalu expert terhadap suatu vertikal, kecenderungannya kita akan melakukan sesuatu yang sudah ada analognya. Sudah ada permodelannya, sehingga solusinya sama saja dan tidak inovatif. Ini prinsip yang digunakan Elon Musk juga, yaitu first principles dalam problem solving.

Sebagai gambaran, board of director Tiket.com ketika itu ada 10 orang, namun tidak ada satu pun yang punya latar belakang travel. Tetapi vice president kami semuanya berlatar belakang travel.

Kami bekerja sama dengan mereka untuk mendapatkan understanding dan tentunya akses ke industri. Tetapi dalam hal solusi dan inovasi, semua keputusan dibuat para board of director.

Karena itu, banyak inovasi yang belum pernah ada di Indonesia sebelumnya yang bisa kami bawa, karena kami mencoba menyelesaikan masalah konsumen, bukan membuat produk yang itu-itu saja, yang sama dan mirip dengan kompetitor kami.

Inovasi apa saja yang pernah Anda lakukan?

Banyak sekali inovasi yang telah kami lakukan. Contohnya di perusahan pertama saya, Urbanesia.com. Agar direktori peta kami akurat, kami menggunakan kamera yang memiliki global positioning system (GPS).

Dengan demikian, ketika foto di-upload, kami juga langsung mengambil koordinat foto. Perlu diingat, itu tahun 2008, saat GPS belum populer.

Untuk Tiket.com, di awal-awal dua tahun pertama, kami sudah memiliki 15 metode pembayaran yang kami connect dengan bank satu per satu. Saat itu, hampir semua situs di Indonesia masih melayani transfer bank dan biasanya masih manual. Kami sudah menggunakan virtual account.

Saat itu, belum ada yang namanya Midtrans atau Xendit seperti sekarang. Kami mengidentifikasi bahwa permasalahan Agoda.com dan Booking.com saat itu adalah metode pembayaran yang hanya kartu kredit.

Kenapa Anda mendirikan Lifepack dan Jovee?

Saya cukup surprised ketika mengetahui industri pharmaceutical Indonesia itu lima kali lipat lebih besar dari industri travel. Semakin besar industrinya, peluang untuk meraih potensi revenue-nya semakin besar dan semakin cepat.

Juga saya ingin bisa mendisrupsi industri kesehatan, terutama digital, karena saya lihat masih banyak masyarakat di daerah yang tidak memiliki akses ke apotek yang lengkap, murah, orisinal, dan mampu mencapai ke seluruh pelosok di Indonesia, dari Sabang sampai Merauke.

Peluang dan tantangan apotek online?

Tantangannya cukup banyak. Menurut Masyarakat Indonesia Anti Pemalsuan (MIAP), revenue obat palsu di Indonesia bisa mencapai 25% dari keseluruhan revenue obat di dalam negeri. Obat palsu banyak, ada di mana-mana, dan mungkin belum disadari masyarakat.

Ini menjadi tantangan tersendiri bagi kami. Kami selalu berusaha mengimplementasikan good pharmacy practice dengan melakukan pembelian obat melalui distributor yang mempunyai relasi langsung dengan pharmaceutical company-nya, untuk menjamin obat-obatan yang kami jual 100% asli.

Kami pun selalu menjaga harga obat kami di bawah HET (harga eceran tertinggi) agar obat-obatan kami dapat diakses dan terjangkau oleh masyarakat luas.

Strategi yang Anda terapkan?

Value proposition kami ada tiga, yaitu murah, lengkap, dan orisinal. Pertama, murah. Kami selalu memberikan harga yang kompetitif. Apotek kami adalah closed door digital pharmacy.

Kami tidak melayani pelanggan walk-in. Kami tidak perlu membuat etalase atau harus membuat apotek di lokasi retail yang menambah biaya operasional. Kami bisa menekan biaya-biaya sehingga kami bisa menjaga harga kami tetap kompetitif.

Kedua, lengkap. Konsep apotek kami adalah warehouse. Kami berusaha untuk bisa menyediakan berbagai jenis obat, karena saya yakin banyak yang berpengalaman harus ke banyak apotek yang berbeda untuk menebus obat karena rata-rata apotek memiliki kelengkapan yang terbatas.

Lokasi kami di Jakarta hanya satu. Namun kelebihannya, kami bisa memiliki variasi lebih luas dan stok lebih banyak karena tidak perlu didistribusikan ke banyak apotek.

Ketiga, orisinal. Dengan good pharmacy practice, kami hanya membeli obat dari distributor terpercaya saja.

Seberapa besar pandemi Covid-19 memengaruhi bisnis apotek online?

Kami senang menjadi apotek tujuan banyak pasien dan dokter, terutama pasien isoman (isolasi mandiri). Tentunya berbahaya untuk pasien Covid-19 yang berobat ke dokter, lalu masih harus mengantre di apotek untuk mendapatkan obatnya.

Banyak dokter yang kini menuliskan resepnya secara digital ke Lifepack.id. Pasien akan mendapatkan link pembayaran melalui SMS atau Whatsapp. Setelah membayar, tidak lebih dari dua jam, pasien akan mendapatkan obatnya yang dikirimkan ke rumah. Untuk luar daerah di Pulau Jawa, kami mengusahakan obat kami tiba 1x24 jam.

Gaya kepemimpinan Anda?

Karena saya orang lama di industri startup, maka dari dulu gaya kepemimpinan saya adalah kolaboratif. Pimpinan tidak selalu benar. Karena itu, keputusan apa pun yang tujuannya baik dan untuk kesejahteraan pasien, akan selalu di-support oleh manajemen. Komunikasi yang intens membuat kami semua cukup dekat antara satu dan lainnya, namun tetap respectful.

Terobosan paling monumental dalam karier Anda?

Terobosan terbesar kami salah satunya adalah membuat apotek dalam bentuk warehouse. Karena semua terpusat, value proposition kami, yaitu murah, lengkap, orisinal, lebih mudah tercapai.

Filosofi hidup Anda?

Begin with the end in mind. Memulai sesuatu dengan memikirkan tujuan akhir yang hendak dicapai. Apa yang ingin orang lain ingat mengenai Anda.

Untuk saya sendiri, saya ingin diingat sebagai orang yang helpful. Bahkan mungkin di masa-masa Covid-19 ini, menjadi orang yang pernah menyelamatkan nyawa seseorang, melalui obat-obat yang kami kirimkan ke pintu pasien.

Obsesi yang masih Anda kejar?

Exit dari Tiket.com telah memberikan kehidupan yang cukup bagi saya dan keluarga. Kini saya bisa fokus bekerja untuk melayani orang lain, untuk masyarakat, pasien-pasien, dan terutama untuk karyawan-karyawan saya. I want to impact more lives. ***

Natali Ardianto (ist)
Natali Ardianto (ist)

Merasa Bahagia Jika Ada yang Sukses

Di luar kesibukannya sebagai chief executive officer (CEO), Natali Ardianto masih menyempatkan diri mengurus komunitas perusahaan rintisan berbasis tenologi (startup) yang ia dirikan bersama teman-temannya.

“Saya memiliki komunitas bernama #StartupLokal yang saya dirikan bersama Nuniek Tirta, Llia, dan Herry Fahrur Rizal pada 2010,” kata Natali.

Setiap bulan, Natali memfasilitasi pertemuan dengan para pelaku startup lokal, dengan menghadirkan para pembicara ternama, di antaranya William Tanuwijaya (pendiri Tokopedia), Achmad Zaky (pendiri Bukalapak), dan Gaery Undarsa (co-founder Tiket.com).

“Kami membuat meetups dengan pembicara-pembicara yang luar biasa. Banyak sekali founder perusahaan startup yang hadir sebagai peserta #StartupLokal,” tutur dia.

Kebahagiaan tersendiri bagi Natali manakala ia mendengar para pendiri startup bercerita tentang kesuksesan mereka gara-gara menjadi bagian komunitas #StartupLokal.

“Beberapa founders bercerita bahwa mereka menjadi entrepreneur karena komunitas kami ini. Mendengar hal itu saja, saya sudah sangat bahagia,” papar dia.

Natali Ardianto percaya, asalkan serius menggeluti bidangnya, para entrepreneur itu pasti menuai sukses. “Mungkin saat ini mereka nobody, tapi saya yakin entrepreneur yang serius bakal sukses. Siapa tahu dalam 3-5 tahun ke depan, mereka akan berada di posisi atas, dan saya yang membutuhkan bantuan mereka,” kata dia.(nan)

 

Biodata

Nama lengkap: Natali Ardianto.

Pendidikan:

- University of California, Berkeley - Haas School of Business (2018).

- Algoritma Data Science School (2018).

- Magister IT Universitas Indonesia (2005 – 2007).

- Sarjana Ilmu Komputer Universitas Indonesia (1999 – 2004).

Karier:

- Juli 2019 - sekarang: Komisaris PT Turisme Global Diginet (TGD Holding).

- Juni 2019 - sekarang: Co-founder & CEO PT Indopasifik Teknologi Medika Indonesia/CEO Lifepack & Jovee.

- Juni 2018 - Mei 2019: Co-Founder & CTO EmasDigi.

- Juli 2017 - sekarang: Co-Founder PT StartupLokal.

- Maret 2011 - Desember 2017: Co-founder & CTO Tiket.com (PT Global Tiket Network).

- Juni 2010 - Maret 2011: Co-founder & CTO PT Warato Indonesia.

- Agustus 2008 - Juni 2010: Co-founder & CTO PT Ayoklik Indonesia.

- 2008: Co-founder & CTO Urbanesia.com.

- Januari - Juli 2008: Technology Manager Klix Digital.

- Juni 2007 - Juli 2008: Internet Application Developer.

- September 2006 - November 2007: Product Development Manager MY Consulting.

- September 2004 - Agustus 2006: Instructor PT Inixindo Persada Rekayasa Komputer.

 

Editor : Abdul Aziz (abdul_aziz@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN