Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Bambang Pediantoro, CEO PT Unisia Medika Farma

Bambang Pediantoro, CEO PT Unisia Medika Farma

Bambang Pediantoro, CEO PT Unisia Medika Farma

Tak Bisa Lepas dari Dunia Kedokteran

Senin, 22 November 2021 | 09:51 WIB
Euis Rita Hartati (erita_h@investor.co.id)

Dunia kedokteran, tampaknya menjadi 'takdir' yang harus diterima Bambang Pediantoro. Betapapun dia berusaha 'membelot' dengan memilih kuliah di Fakutas Ekonomi dan bukan Fakultas Kedokteran seperti kakak-kakaknya serta ayah ibunya, namun pada akhirnya dia beristrikan seorang dokter dan kini dia juga memimpin sebuah rumah sakit elit di Yogyakarta yakni Jogja International Hospital (JIH) yang berada di bawah bendera PT Unisia Medika Farma

Pria yang akrab disapa Dito ini lahir dan besar dari keluarga dokter. Ayah dan ibunya adalah seorang dokter. Sang ayah bahkan seorang Guru Besar di Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada.

Kakak-kakaknya pun menempuh pendidikan di Fakultas Kedokteran. Namun, Dito lebih memilih kuliah di jurusan Fakultas Ekonomi.

“Saya memang sengaja memillih kuliah di Fakultas Ekonomi. Biar berbeda saja. Biasalah seperti anak-anak di keluarga lain sering terjadi pemberontakan seperti itu,” ujar Dito.

Dito hanya ingin membuktikan bahwa pilihannya tidak salah. Usai menyelesaikan pendidikan S1 di FE Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Dito bekerja di berbagai perusahaan. Dan terakhir di perusahaan farmasi BUMN, yakni PT Indofarma (Persero) dengan jabatan terakhir yang cukup bergengsi yakni Manager Treasury dengan gaji yang cukup besar.

Suatu hari Dito mendapat perintah dari sang ayah untuk pulang kembali ke Yogyakarta dan meninggalkan semua yang ada di Jakarta. Tujuannya tak lain agar bisa berkumpul dengan istri dan keluarganya. Maklum, setelah 9 tahun menikah, Dito dan istri belum mendapat momongan. “Mungkin ayah saya mulai resah melihat saya sudah dalam posisi nyaman tanpa anak,” katanya.

Dito mengaku awalnya berat meninggalkan Jakarta, dengan posisi yang dukup mapan. Namun sang ayah 'keukeuh' memintanya pulang bahkan menyanggupi untuk memberikan subsidi keuangan bagi Dito.

Akhirnya, Dito menuruti permintaan sang ayah, melepaskan pekerjaan di Jakarta dan tinggal di Yogyakarta tanpa tahu harus melakukan apa disana. Sampai akhirnya Dito mendapatkan pekerjaan di PT Unisia Medika Farma (Unisia) Yogyakarta, usai mengikuti tes seleksi.

Di Unisia inilah debut karier Dito berjalan mulus dan cemerlang. Di usia 32 tahun sudah menempati posisi sebagai Direktur Keuangan. Kini, dia pun dipercaya sebagai orang nomor satu di perusahaan yang memiliki jaringan rumah sakit di Yogyakarta, Solo, dan Purwokerto itu sebagai Direktur Utama atau CEO PT Unisia Medika Farma.

“Yang paling membahagiakan, di Yogyakarta pula saya dan istri akhirnya bisa mendapatkan momongan,” kata ayah dua anak ini.

Bambang Pediantoro, CEO PT Unisia Medika Farma  bersama istri dan kedua anaknya
Bambang Pediantoro, CEO PT Unisia Medika Farma bersama istri dan kedua anaknya

Terus Ekspansi

Dito menjelaskan, Unisia yang dimiliki oleh Yayasan Badan Wakaf UII (Universitas Islam Indonesia) mengelola jaringan Rumah Sakit JIH (Jogja International Hospital). Rata-rata rumah sakit yang dibangun dan dikelola masuk kategori kelas C. Hingga kini, sudah ada 4 rumah sakit yang dimiliki. Yakni Rumah Sakit Universitas Islam Indonesia, RS JIH Yogyakarta, RS JIH Solo, dan RS JIH Purwokerto

Dalam menjalankan bisnisnya, RS JIH berpegang teguh pada tiga nilai yang menjadi core value perusahaan, yaitu premium, modern dan nilai-nilai Islami. Nilai-nilai tersebut digunakan sebagai syiar di industri kesehatan.

RS JIH Yogyakarta mulai beroperasi pada tahun 2007 dengan layanan awal rumah sakit tipe C. Tapi, kini dengan renovasi gedung dan peningkatan fasilitas plus layanan, statusnya meningkat jadi rumah sakit tipe B dengan jumlah kamar inap sebanyak 240 bed.

Rumah Sakit JIH Yogyakarta didukung oleh 35 Dokter Sub Spesialis, 111 Dokter Spesialis, 24 Dokter Umum, 7 Dokter Gigi Umum, Ratusan Perawat dan Paramedis Profesional di bidangnya. Tim tersebut adalah lulusan dari universitas - universitas terbaik di Indonesia.

Rumah Sakit JIH juga , sebut Dito, memiliki kenyamanan yang khas. Kekhasannya mulai dari senyum ramah para Staf, empati para Perawat dan Dokter yang selalu siap mendengarkan dan menjelaskan keluhan penyakit Pasien. Selain itu kenyamanan fasilitas mulai dari tempat parkir yang luas, suasana lobby dengan iringan musik yang menenangkan, poliklinik dengan fasilitas preferred lounge yang nyaman, dan suasana kamar rawat inap layaknya di rumah sendiri, homy, dengan tetap mengutamakan privasi pasien.

Tingginya animo masyarakat Yogyakarta terhadap layanan bayi tabung atau in vitro fertilization(IVF), diakomodasi RS JIH Yogyakarta dengan menggandeng Morula IVF Indonesia mendirikan Gedung Baru Morula IVF Yogyakarta untuk membantu lebih banyak pasangan dalam mewujudkan mimpi memiliki buah hati, tanpa harus pergi jauh sampai ke Jakarta atau luar negeri. Morula IVF Yogyakarta mengalami peningkatan jumlah pasien di tahun 2020 hingga mencapai lebih dari 100% dan tingkat keberhasilan take home baby mencapai 33,33%.

Unisia juga sedang merintis untuk membangun RS JIH di Kota Bandung “Rencananya RS JIH Bandung akan diresmikan tahun 2022. Ini hasil kerja sama dengan mitra yang menyediakan lahan,” jelas Dito.

Total karyawan RS JIH saat ini mencapai kisaran 1.500 orang. Rinciannya JIH Yogyakarta 500 orang, JIH Solo 600 orang dan JIH Purwokerto 400 orang. Sementara nilai investasi pembangunan satu RS JIH rata-rata sekitar Rp210 miliar di luar lahan.

Selain agresif ekspansi membuka cabang baru RS JIH, manajemen Unisia juga mendirikan anak perusahaan baru. Salah satunya PT Unisia Teramedika yang menggeluti bidang Teknologi Informasi dunia kesehatan atau medis. Perusahaan ini melayani training karyawan perusahaan lain, menawarkan sejumlah jasa solusi TI kesehatan dan lainnya. Saat ini sudah ada dua rumah sakit non JIH yang menjadi klien.

Disinggung mengenai dampak pandemi Covid-19 terhadap kinerja jaringan RS JIH, dia mengaku industri ini juga terpukul. “Orang rata-rata takut datang ke rumah sakit. Sehingga omzet kami drop sekitar dua pertiga. Kini, sering dengan menurunya kasus Covid-19, performa RS JIH juga berangsur kembali ke normal,” ungkap Dito sembari menyebut omzet RS sekitar Rp1,3 miliar per bulan.

 

 

 

Editor : Euis Rita Hartati (euis_somadi@yahoo.com)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN