Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Benny Rhamdani (ist)

Benny Rhamdani (ist)

Benny Rhamdani, Kepala Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI)

Sukses Sejati Lahir karena Proses

Selasa, 30 November 2021 | 13:16 WIB
Kunradus Aliandu dan Kristianus Arnoldus

Jangan percaya keberuntungan! Percayalah pada proses. Sebab kesuksesan sejati lahir dari proses. Meraih kesuksesan tidaklah mudah. Untuk sampai pada puncak kesuksesan, seseorang harus melaluinya dengan keringat dan air mata.

Kepala Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI), Benny Rhamdani termasuk orang yang sangat mempercayai proses. “Saya tidak percaya keberuntungan. Kesuksesan yang diperoleh siapa pun pasti lahir karena proses,” ujar Benny kepada wartawan Investor Daily, Kunradus Aliandu dan Arnoldus Kristianus  di Jakarta, belum lama ini.

Tumbuh dari keluarga berlatar belakang militer menjadikan Benny Rhamdani lekat dengan nilai-nilai pengabdian kepada negara. Sejak mahasiswa, ia sudah aktif dengan dunia advokasi, baik advokasi persoalan-persoalan di kampus, maupun kasus-kasus agraria.

“Ayah saya berpesan, korbankan dirimu untuk anak istrimu. Lalu korbankan dirimu dan anak istrimu untuk bangsa dan negaramu. Itu melekat dalam memori saya. Sebagai prajurit, ayah saya menanamkan nilai-nilai yang mendalam tentang pengabdian kepada bangsa dan negara,” tutur pria kelahiran Bandung, 3 Maret 1968, itu.

Advokasi masalah agraria itu pula yang mendorong Benny mendirikan Komite Perjuangan Pembaruan Agraria (KPPA) Sulawesi Utara. Dari dunia aktivis,  Benny masuk ke dunia politik. Ia menjadi Anggota DPRD Provinsi Sulawesi Utara dari PDIP selama tiga periode (1999-2004, 2004-2009, dan 2009-2014).

Terakhir, Benny aktif di Partai Hanura. Ia menjabat sebagai Wakil Ketua Umum DPP Partai Hanura (2015-2024) setelah menjadi Ketua Bidang Organisasi DPP Partai Hanura (2016-2020). Benny juga ditunjuk menjadi Direktur Kampanye Tim Nasional Jokowi - KH Ma'ruf Amin.

Pada 15 April 2020, Presiden Jokowi melantik Benny Rhamdani menjadi Kepala BP2MI. Mengemban amanah sebagai Kepala BP2MI --dulu Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI)-- tentu tidak mudah. Apalagi saat itu memasuki masa pandemi Covid 19.

Benny menyadari tugas-tugas yang dihadapi BP2MI sangat kompleks dan bersifat lintas sektor. Itu sebabnya, ia menekankan pentingnya bersinergi dengan seluruh pemangku kepentingan (stakeholder) agar bisa meningkatkan perlindungan kepada seluruh pekerja migran Indonesia (PMI). 

Benny banyak melakukan gebrakan. Selama hampir dua tahun menakhodai BP2MI, ia sudah memimpin langsung 24 kali penggerebekan dari total 32 kali penggerebekan sindikat pengiriman PMI. BP2MI berhasil menyelamatkan 1.632 calon PMI yang hampir diberangkatkan para mafia. 

“Kuncinya ada di penegakan hukum. Ini tragedi kemanusiaan. Tidak boleh ada kesan negara tidak berdaya. Negara harus hadir, hukum harus bekerja. Kalau nggak, kami dianggap lemah, bahkan dianggap menjadi bagian dari sindikat,” tegas dia. Berikut penuturan lengkapnya:

Bisa cerita perjalanan karier Anda?

Saya lahir dari keluarga miskin, orang tua saya hanya seorang prajurit dengan pangkat rendahan. Saya, kakak, dan ibu sering ditinggal ayah yang bertugas di luar daerah dan berpindah-pindah. Mungkin itu yang memengaruhi jalan kehidupan saya.

Saat SMA, saya  lebih banyak menghabiskan waktu main  bersama kelompok anak-anak seusia saya. Nakal, sering bolos. Saya juga banyak menghabiskan waktu untuk bermain bola yang menjadi hobi saya sejak SD. Saat kelas dua SMA, saya pindah ke Talaud, Sulawesi Utara.

Kemudian saya melanjutkan studi di Universitas Sam Ratulangi, Manado. Saya terlibat dalam aktivisme kampus. Jika ada kenaikan biaya kuliah atau ada teman mahasiswa yang mengalami ketidakadilan, saya pimpin demo di kampus.

Di luar kampus, saya sering memberikan advokasi kasus-kasus tanah. Waktu itu saya bikin organisasi Komite Perjuangan Pembaruan Agraria  (KPPA) untuk memberikan advokasi masalah tanah kepada masyarakat yang terkena penggusuran. Kami berafiliasi dengan PDIP.

Pada 1999, saya ditawari maju sebagai calon anggota legislatif (caleg) lewat PDIP. Saya terpilih sebagai Anggota DPRD termuda, usia saya waktu itu 29 tahun.

Sebelum masuk DPRD, ada fase lain. Saya terlibat dalam aktivitas gerakan di daerah. Saat muncul gerakan 1998 di Jakarta, saya ikut bergabung.

Setelah berkarier di legislatif daerah, saya memilih DPD RI yang dinilai lebih nonpartai. Di DPD, saya kenal Pak Oesman Sapta Oedang, saya direkrut beliau untuk masuk Partai Hanura. Pada awal kepengurusan Hanura, saya ditunjuk menjadi Ketua Bidang Organisasi DPP Partai Hanura, sekarang saya Wakil Ketua Umum Organisasi Kaderisasi Keanggotaan.

Menjelang berakhirnya kepengurusan saya di DPD, menjelang pilpres, saya dipercaya Pak Jokowi sebagai Direktur Kampanye. Mungkin dari tugas-tugas itulah Presiden memberi kepercayaan kepada saya untuk menjadi Kepala BP2MI. Partai pun memberi restu.

Kiat sukses Anda?

Saya tidak percaya keberuntungan. Kesuksesan yang diperoleh siapa pun pasti lahir karena proses. Dalam sebuah kesuksesan, pasti ada proses. Proses ini yang terkadang kita tidak sadar telah melakukan apa. Ada yang kita ketahui mengapa mendapatkan ini, banyak pula yang tidak kita ketahui.

Tetapi Allah nggak mungkin salah mengambil keputusan. Allah mengambil keputusan pasti karena ada pertimbangan. Saya selalu berpikir, mungkin semua ini merupakan buah dari apa yang saya kerjakan. Saya selalu dekat dengan rakyat, menghabiskan waktu bersama mereka. Saya bisa dikatakan sebagai pejabat yang tidak punya apa-apa hari ini.

Filosofi hidup Anda?

Ayah saya tentara. Ayah saya berpesan, korbankan dirimu untuk anak istrimu. Lalu korbankan dirimu dan anak istrimu untuk bangsa dan negaramu. Itu melekat  dalam memori saya.

Sebagai kepala rumah tangga, saya pasti punya tanggung jawab kepada anak dan istri. Itu pasti. Tetapi ternyata ada kepanjangannya. Untuk bangsa dan negaramu, korbankan dirimu beserta anak dan istrimu. Sebagai prajurit, ayah saya menanamkan nilai-nilai yang mendalam tentang pengabdian kepada bangsa dan negara.

Bagaimana Anda memaknai pengabdian kepada bangsa dan negara?

Selama menjalankan tugas kenegaraan, saya nyaris tidak punya waktu untuk keluarga karena saya harus berjuang untuk keadilan orang banyak. Kesannya memang tidak adil kepada keluarga. Itu risiko yang harus saya hadapi.

Lalu saya kembalikan kepada Tuhan. Saya memohon, “Ya Tuhan, kalau aku  tidak adil kepada anak dan istriku, aku berserah diri kepada-Mu, aku memohon ampunan-Mu jika berdosa. Aku mohon ampunan jika Engkau tidak meridainya.”

Semoga Tuhan mengampuni saya, semoga Tuhan memberikan kekuatan kepada anak dan istri saya. Kekuatan itu ternyata ada. Anak saya nggak benci bapaknya. Istri saya tidak minta cerai gara-gara itu.  

Tantangan terberat yang Anda hadapi di BP2MI?

Ketika ditunjuk memimpin BP2MI, saya bertanya kepada diri saya, apakah saya datang dalam situasi yang tepat? Apakah Presiden tidak salah menempatkan saya di sini?

Saat saya masuk BP2MI, situasi pandemi Covid 19 sedang gila-gilaan. Dalam kondisi normal, rata-rata penempatan PMI di negara-negara penempatan sekitar 277 ribu per tahun, sedangkan pada 2020 hanya 113 ribu. Berarti ada 160 ribu yang kehilangan kesempatan bekerja.

Bahkan pada 2021 turun jauh, yang bekerja hanya 55  ribu. Berarti 222 ribu orang kehilangan kesempatan bekerja. Publik juga paham bukan karena kepemimpinan saya, tetapi karena Covid-19. Apalagi pemerintah menerapkan moratorium pengiriman PMI ke Timur Tengah.

Terobosan Anda?

Anjloknya jumlah PMI yang dikirim ke negara-negara penempatan akibat pandemi Covid dimanfaatkan para sindikat PMI ilegal. Karena itu, saya menetapkan dua musuh besar BP2MI, yaitu sindikat penempatan ilegal dan sindikat ijon rente.

Untuk mengatasinya, saya ingin Presiden mengeluarkan keputusan agar BP2MI menjadi organ yang kuat dan lebih instruktif ke kementerian/lembaga (K/L) lain. Sambil menunggu itu, saya membentuk Satgas Pemberantasan Sindikat Penempatan Ilegal PMI. Kuncinya memang ada di penegakan hukum.

Saya sangat prihatin, ini sudah berlangsung lama, tidak boleh ada kesan negara tidak berdaya atau negara kalah. Negara memiliki mandat konstitusi, memiliki perangkat, tidak hanya orang, seragam, tetapi juga senjata dan kewenangan. 

Negara punya semua resources, tidak boleh kalah oleh pengusaha,  apalagi mafia. Doktrin saya, tidak boleh para mafia ini berpikir bisa membeli para aparatur negara atau bisa mengendalikan negara. Saatnya negara hadir, hukum harus bekerja.

Penegakan hukum sudah berjalan?

Selama hampir dua tahun saya memimpin BP2MI, dari 32 kali penggerebekan, saya pimpin langsung 24 kali. Kami berhasil menyelamatkan banyak orang. Ada 1.632 calon PMI yang hampir berangkat, berhasil kami selamatkan. Itu berlangsung sejak sejak 15 April 2020 hingga November 2021. Sekitar 90%-nya adalah perempuan, ibu-ibu.

Kalau kita menyebut ibu, yang melahirkan kita, masa sih tidak prihatin? Para PMI itu rentan mengalami eksploitasi, baik kekerasan fisik, kekerasan seksual, perkosaan, gaji yang tidak dibayar. Bagaimana mau dibayar, wong nggak ada kontraknya, nggak resmi. PHK bisa bisa dilakukan sepihak, mereka juga bisa diperjualbelikan oleh satu majikan ke majikan lainnya.

Masa ini kita biarkan? Ini tragedi kemanusiaan. Negara harus hadir, hukum harus bekerja. Kalau nggak, kami dianggap lemah, bahkan dianggap menjadi bagian dari sindikat. Praktik penempatan PMI secara ilegal harus diperangi melalui Satgas.

Nah, kalau ijon rente, kami perangi antara lain melalui kebijakan yang telah kami luncurkan, yaitu kredit tanpa agunan. Kami baru launching dengan BNI, nanti mungkin dengan bank-bank lain.

Bagaimana dengan para PMI yang sudah telanjur tertipu?

Kami terus melakukan sosialisasi secara masif, diseminasi informasi secara aktif, menggandeng pemda, bertemu para gubernur, bupati, wali kota. Kalau berangkat tidak resmi kan berarti mereka di luar radar perlindungan negara.

Mereka  baru diketahui ketika ada masalah, misalnya lari atau melapor ke Kedutaan Besar Repulik Indonesia (KBRI). Negara tetap melayani perlindungan, tetapi apa artinya perlindungan kalau mereka sudah menjadi korban perkosaan, sudah cacat secara fisik dan mental.

Hampir dua tahun terakhir ini, sejak saya memimpin, kami sudah tangani 981 jenazah. Sekitar 90% kasus tersebut berasal dari PMI yang dulu diberangkatkan secara ilegal. Ini tragedi kemanusiaan. Kalau negara tidak melakulan langkah-langkah extraordinary maka kita akan terus menjadi penulis sebuah episode daftar panjang penderitaan. 

Dari sisi regulasi bagaimana?

UU No 18 Tahun 2017  tentang Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (PMI) bisa dikatakan progresif  dan revolusioner di era Presiden Jokowi. Dalam UU sebelumnya, yaitu  UU No 39 Tahun 2004 tentang Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia di Luar Negeri (PPTKI), perlindungan hanya diberikan kepada PMI.

Tetapi dalam UU PMI, keluarga PMI pun dilindungi dan diberdayakan. Dulu, perlindungan hanya diberikan kepada PMI selama dia bekerja. Sekarang perlindungan diberikan sebelum dan setelah bekerja. Perlindungan ekonomi, sosial, dan hukum diberikan lebih komprehensif.

Para PMI diberi pemahaman terkait penggunaan uang melalui pelatihan literasi keuangan. Mereka harus menabung. Keluarganya  di sini pun diberdayakan, membuat kelompok usaha, yang antara lain dikoordiniasikan Perkumpulan Perempuan Wirausaha Indonesia (Perwira).

Kami bantu juga akses bantuan modal usaha, kami hubungkan dengan perbankan atau lewat program corporate social responsibility (CSR) perusahaan-perusahaan.

Kontribusi PMI selama pandemi?

Yang pasti, harus ada di mindset kita bahwa mereka adalah pahlawan. Mereka merupakan penyumbang devisa terbesar kedua setelah sektor migas, yaitu Rp 159,6 triliun rata-rata per tahun, dari 4,3 juta pekerja migran. Kalau ditambah yang ilegal, bisa dua kali lipat karena pekerja migran yang ditempatkan secara ilegal berjumlah sekitar 4,7 juta.

Nilai-nilai yang Anda terapkan di BP2MI?

Saya katakan kepada teman-teman di BP2MI bahwa kita sedang berurusan dengan orang-orang yang memiliki harapan, orang-orang yang punya mimpi. Kalau ekonominya cukup, untuk apa mereka meninggalkan keluarga, kampung halaman, dan Tanah Air? Mereka orang-orang hebat. Terlebih dengan  kehebatannya, mereka menyumbang devisa kepada negara.

Saya katakan, kita ini bukan sekadar pemimpin, tetapi juga budak. Saya ini budak rakyat karena dipilih oleh rakyat, digaji oleh rakyat. Zalim kalau kami tidak bertanggung jawab mewujudkan mimpi mereka.

Obsesi yang ingin Anda capai?

Saya nggak muluk-muluk. Saya ingin mewujudkan dua hal. Pertama, ingin menjadikan kekuasaan ini sebagai alat 'balas dendam rakyat'. Dalam banyak hal, rakyat mengalami ketidakadilan. Rakyat dihina oleh oknum yang punya kekuasaan. Saya ingin membalik itu.

Kedua, saat meninggal nanti, saya ingin keluarga saya tidak malu. Saya ingin banyak orang mengantar jenazah saya ke kuburan. Cita-cita saya, insya Allah bisa memberikan kebanggaan, yaitu kebanggaan saat saya diantar banyak orang ke kuburan, karena itu ukuran penilaian terhadap kebaikan seseorang selama hidupnya. Bukan kebanggaan saat saya meninggalkan kekayaan.*** 

Benny Rhamdani (ist)
Benny Rhamdani (ist)

Pemain Sepak Bola

Benny Rhamdani kerap mengisi waktu luang dengan bermain sepak bola. Olahraga tersebut sudah ditekuninya sejak bangku sekolah. Benny bahkan pernah menjadi ketua Asosiasi Kota (Askot) Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) Kotamobagu (2015-2019).

“Sejak SD saya menggemari sepak bola. Sampai sekarang pun, sesekali saya main bola dengan teman-teman,” kata Benny.

Selidik punya selidik, Benny juga pernah bermain untuk klub legendaris Manado, PS Unoson, pada musim kompetisi 1991 dan 1993. Ia bermain sebagai penyerang dengan nomor punggung favorit 11.

“Nomor 11 ini ada filosofinya. Orang berprestasi kan selalu dapat nilai 10 sebagai nilai sempurna. Nah, saya selalu ingin nilai lebih,” ujar dia. (ks/ark)

 

Biodata

Nama: Benny Rhamdani.

Tempat/tanggal lahir: Bandung, 3 Maret 1968.

Pendidikan:

Universitas Sam Ratulangi, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik.

Karier:

* 1999-2004: Anggota DPRD Sulawesi Utara (Sekretaris di Komisi A).

* 2004-2009: Anggota DPRD Sulawesi Utara (Wakil Ketua Komisi A).

* 2009-2014: Anggota DPRD Sulawesi Utara (Wakil Ketua Komisi D).

* 2014-2019: Anggota DPD dari dapil Sulawesi Utara.

* 2020 – sekarang: Kepala BP2MI.

 

Editor : Abdul Aziz (abdul_aziz@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN